Rating Bukan Segalanya, Perfect Crown Tuai Kritik Usai Kesalahan Penulisan Sejarah

Ket. Perfect Crown

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Drama Perfect Crown resmi menutup penayangannya dengan pencapaian rating tertinggi sepanjang masa tayang. Meski mencatat kesuksesan besar secara angka, drama yang dibintangi IU dan Byeon Woo Seok tersebut justru diterpa kritik tajam terkait dugaan distorsi sejarah Korea.

Berdasarkan data Nielsen Korea, episode terakhir Perfect Crown yang tayang pada 16 Mei berhasil mencatat rating nasional rata-rata sebesar 13,8 persen. Angka tersebut sekaligus menjadikan drama itu sebagai program paling banyak ditonton di seluruh saluran televisi pada hari Sabtu.

Perfect Crown mengangkat kisah romansa berlatar Korea Selatan versi alternatif yang masih berbentuk monarki konstitusional di era modern.

Karena menggunakan elemen kerajaan Korea sebagai bagian penting cerita, detail sejarah dan simbol-simbol kerajaan dalam drama tersebut mendapat sorotan ketat dari publik Korea Selatan.

Kontroversi mulai memuncak setelah episode 11 menampilkan karakter Grand Prince Ian yang diperankan Byeon Woo Seok mengenakan mahkota kerajaan sembilan untaian saat adegan naik takhta.

Dalam adegan yang sama, rakyat juga terdengar meneriakkan kata “Cheonse” sebagai bentuk penghormatan kepada sang raja.

Penonton Korea menilai dua elemen tersebut merupakan kesalahan fatal dalam konteks sejarah kerajaan Korea. Secara historis, mahkota sembilan untaian digunakan ketika Korea masih berada di bawah pengaruh kekaisaran China sebagai negara bawahan.

Sementara itu, kerajaan Korea yang merdeka seharusnya menggunakan mahkota 12 untaian atau yang dikenal sebagai “Sibyi Myeonryugwan”.

Selain mahkota, penggunaan ucapan “Cheonse” juga menuai kritik keras karena dianggap tidak sesuai dengan simbol negara berdaulat. Dalam sejarah Korea, istilah tersebut disebut digunakan untuk kerajaan bawahan, sedangkan negara merdeka menggunakan seruan “Manse”.

Kontroversi Perfect Crown semakin membesar karena latar sejarah alternatif yang diusung drama tersebut dinilai mengabaikan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Korea, termasuk masa penjajahan Jepang dan Perang Korea.

Banyak penonton menilai detail-detail dalam drama itu seolah menggambarkan Korea sebagai negara vasal dan dianggap merendahkan status kemerdekaan negara tersebut.

Kritik publik pun meluas hingga akhirnya memaksa tim produksi serta penerbit buku naskah resmi drama memberikan klarifikasi terbuka.

Tim produksi Perfect Crown kemudian menyampaikan permintaan maaf secara resmi atas kontroversi yang muncul. Mereka mengakui kurang teliti dalam memadukan unsur cerita fiksi dengan konteks sejarah Korea yang sensitif bagi masyarakat.

“Kami menanggapi dengan serius kritik dari penonton terkait kekhawatiran bahwa drama ini mungkin telah merusak citra status kemerdekaan Korea sebagai sebuah bangsa,” ujar pihak produksi dalam pernyataan resmi.

“Masalah ini terjadi karena tim produksi gagal meninjau secara teliti bagaimana protokol kerajaan dan tradisi upacara Dinasti Joseon berkembang sepanjang sejarah,” lanjut mereka.

Tak hanya menyampaikan permintaan maaf, tim produksi juga memastikan akan melakukan revisi terhadap adegan kontroversial tersebut. Audio dan subtitle dalam adegan penobatan Grand Prince Ian disebut akan diperbaiki untuk penayangan ulang maupun layanan streaming replay mendatang.

Di sisi lain, penerbit buku naskah resmi drama, O'FAN HOUSE, juga turut mengambil langkah evaluasi. Mereka mengumumkan revisi terhadap isi scriptbook dan akan menyediakan file PDF koreksi serta stiker revisi fisik bagi pembeli edisi pertama mulai 18 Mei.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN