Biaya MarketPlace Selangit, Pelaku Usaha Pertimbangkan Bangun Website Sendiri

Doc: istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Peneliti Center of Digital Economy and SMEs The Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fadhila Maulida mengatakan keluhan soal biaya marketplace yang semakin tinggi sedang naik daun.

“Dalam beberapa hari terakhir, linimasa di media sosial ramai dengan narasi tentang tingginya biaya administrasi marketplace yang membuat pelaku usaha mulai mempertimbangkan untuk membangun website sendiri,” kata Fadhila, Kamis (7/5).

Ia mengatakan meningkatnya penjual yang beralih ke website mandiri mencerminkan transformasi ekonomi digital, seiring tingginya persaingan di marketplace atau loka pasar dan kebutuhan usaha digital.

“Fenomena itu tidak bisa dilihat semata-mata sebagai dampak tingginya biaya platform. Lebih dari itu, kondisi tersebut mencerminkan perubahan yang lebih mendasar dalam struktur ekonomi digital Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan setidaknya terdapat faktor utama yang saling berkaitan dalam menjelaskan fenomena yang terjadi saat ini, yaitu daya beli masyarakat dan kapasitas UMKM.

Dari sisi permintaan, katanya, daya beli masyarakat menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Meskipun secara agregat masih mencatatkan pertumbuhan, laju tersebut relatif terbatas jika dibandingkan dengan pesatnya pertumbuhan jumlah pelaku usaha digital.

“Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah UMKM yang masuk ke ekosistem digital meningkat secara signifikan. Namun, pertumbuhan transaksi atau gross merchandise value (GMV) justru cenderung melambat,” tutur Fadhila.

Ketidakseimbangan itu jelasnya menciptakan tekanan di pasar, di mana jumlah penjual meningkat cepat, sementara permintaan tidak bertumbuh sepadan.

Akibatnya, tingkat persaingan menjadi semakin tinggi, dan peluang setiap pelaku usaha untuk memperoleh penjualan optimal menjadi semakin sempit.

Di sisi lain, juga ada biaya platform yang terus meningkat. Menurut dia, loka pasar saat ini tidak lagi hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi telah bertransformasi menjadi struktur ekonomi yang sepenuhnya dimonetisasi. Platform ekosistem digital menjalankan proses yang kompleks.

“Mesin akuisisi pelanggan dalam skala masif, sistem pembayaran, jaringan logistik terintegrasi, hingga kanal pemasaran berbasis algoritma,” jelasnya.

Ada berbagai biaya yang harus ditanggung, seperti biaya platform, layanan, hingga promosi yang relatif tinggi. Ditambah lagi dengan adanya biaya iklan digital serta biaya logistik yang masih tinggi karena belum merata antar wilayah.

“Pada akhirnya, yang terjadi adalah kombinasi tekanan yang cukup berat, pertumbuhan permintaan yang terbatas, kompetisi yang semakin tajam, serta kapasitas UMKM yang masih perlu ditingkatkan,” terang Fadhila.

Dia menyebut tantangan terbesar ekonomi digital Indonesia bukan hanya memperluas akses UMKM ke loka pasar, tetapi menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan bagi seluruh pihak. “Dibutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan platform, perlindungan pelaku usaha, serta penguatan daya beli masyarakat agar ekonomi digital dapat tumbuh lebih inklusif,” katanya.

Data Pelanggan

Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, YB. Suhartoko, menilai biaya admin bukan satu-satunya alasan penjual beralih dari marketplace ke website sendiri. Menurutnya, ada beberapa faktor lain yang mendorong perpindahan tersebut.

Pertama, soal kepemilikan data pelanggan. Di website sendiri, penjual memiliki data pembeli seperti email atau nomor telepon untuk keperluan remarketing, sedangkan marketplace membatasi akses data tersebut.

Kedua, adanya persaingan tidak sehat di platform. “Di mana produk disandingkan langsung dengan kompetitor baik besar atau kecil. Perang harga bisa terjadi di platform marketplace,” kata Suhartoko.

Ketiga, pedagang dapat menghindari ketergantungan pada aturan platform yang sering berubah. Dengan mengelola kanal sendiri, penjual memiliki kontrol lebih atas kebijakan dan operasional toko.

Suhartoko mengingatkan proses perpindahan tidak mudah. “Tantangannya adalah proses perpindahan membutuhkan waktu dan biaya untuk membangun kepercayaan pelanggan di luar marketplace yang populer,” tegasnya.ers/E-9

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN