Waspada! Bahaya Sinar UVA dari Lampu Nail Art yang Sering Diabaikan, Bisa Sebabkan Kanker?

Ket. Ilustrasi lampu nail art

Doc: Magnific.com

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Perawatan kuku dengan teknik nail art semakin populer, terutama penggunaan gel polish yang membutuhkan lampu khusus untuk mengeringkannya.

Namun, di balik hasil kuku yang indah dan tahan lama, terdapat risiko kesehatan yang jarang disadari, yaitu paparan sinar UVA dari lampu kuku.

Lampu pengering kuku umumnya memancarkan sinar ultraviolet (UV), khususnya jenis UVA. Sinar UV sendiri terbagi menjadi dua jenis utama: UVA dan UVB.

Keduanya sama-sama berbahaya bagi kulit. UVA dikenal mampu menembus lapisan kulit lebih dalam dan berkontribusi pada penuaan dini, seperti munculnya keriput dan bintik hitam.

Sementara itu, UVB lebih sering dikaitkan dengan kulit terbakar. Namun, baik UVA maupun UVB sama-sama memiliki peran dalam meningkatkan risiko kanker kulit.

Berbeda dengan paparan sinar matahari yang terasa panas, sinar UVA dari lampu kuku tidak menimbulkan sensasi langsung pada kulit.

Hal inilah yang membuat banyak orang menganggapnya aman. Padahal, paparan berulang dalam jangka panjang tetap dapat merusak sel kulit, termasuk DNA di dalamnya.

Sebagian besar lampu yang digunakan dalam proses manicure dan pedicure memang dirancang untuk memancarkan UVA. Meskipun paparan dari satu kali perawatan tergolong rendah, para ahli menekankan bahwa risiko tersebut tidak boleh diabaikan.

Paparan kecil yang terjadi secara terus-menerus dapat terakumulasi dan memberikan dampak jangka panjang.

Sejumlah Penelitian

Melansir dari laman MD Anderson, sejumlah penelitian telah mencoba mengkaji hubungan antara penggunaan lampu kuku UV dengan risiko kanker kulit.

Dalam sebuah studi tahun 2009, dilaporkan dua kasus wanita sehat yang mengalami kanker kulit di area tangan. Keduanya tidak memiliki riwayat kanker sebelumnya, tetapi rutin menggunakan lampu kuku UV.

Meski demikian, penelitian tersebut belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Penelitian lain pada tahun 2014 menguji tingkat paparan UVA dari berbagai lampu kuku di beberapa salon. Hasilnya menunjukkan bahwa intensitas sinar yang dipancarkan sangat bervariasi.

Bahkan pada lampu dengan daya tinggi, paparan dalam satu sesi masih tergolong rendah dan tidak langsung membahayakan. Namun, para peneliti juga menemukan bahwa kerusakan DNA dapat terjadi jika paparan berlangsung berulang kali dalam jangka panjang.

Artinya, risiko kanker kulit dari penggunaan lampu kuku memang relatif kecil, tetapi bukan berarti tidak ada. Terlebih bagi orang yang rutin melakukan nail art, misalnya setiap dua hingga tiga minggu.

Untuk mengurangi risiko, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Menggunakan tabir surya pada tangan sebelum perawatan, memakai sarung tangan khusus yang menutup kulit tangan, serta membatasi frekuensi penggunaan lampu UV dapat membantu meminimalkan paparan.

Alternatif lain adalah memilih salon yang menggunakan lampu LED, yang umumnya memiliki tingkat radiasi lebih rendah.

Kesimpulannya, nail art memang memberikan nilai estetika, tetapi tetap perlu diimbangi dengan kesadaran akan risikonya.

Paparan sinar UVA dari lampu kuku mungkin terlihat kecil, namun tetap penting untuk diwaspadai dan dikendalikan demi menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN