Indonesia akan Capai Kemandirian Energi Bila Mampu Kembangkan Bahan Terbarukan
JAKARTA, KUCANTIK.COM – Guru Besar Tetap Departemen Teknik Metalurgi dan Material, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) dalam bidang Material Energi Baru dan Terbarukan, Bambang Priyono mengatakan kemandirian energi akan tercapai bila mampu mengembangkan bahan terbarukan.
Ia mengatakan kemandirian energi bangsa hanya dapat dicapai bila Indonesia mampu mengembangkan teknologi baterai dengan bahan baku terbarukan yang berlimpah di Indonesia, sehingga aplikasinya berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Dari Kampus UI Depok, Jawa Barat, Senin (4/5), Bambang menyoroti urgensi pengembangan teknologi penyimpanan energi sebagai solusi atas krisis energi, polusi udara, dan tantangan keberlanjutan.
Pemanfaatan energi terbarukan seperti matahari dan angin membutuhkan sistem penyimpanan yang efisien, di mana baterai litium-ion berperan penting sebagai teknologi battery energy storage (BES).
Sebagai bagian dari risetnya, Bambang menekankan pengembangan baterai sekunder litiumion, khususnya pada material anoda, katoda, dan upaya peningkatan performa dengan memanfaatkan bahan baku terbarukan berupa biomassa.
Fokus itu mencerminkan arah penelitian yang konsisten dengan kebutuhan energi bersih Indonesia. Ia juga menggarap teknologi flashJoule untuk menghasilkan grafena multi-layer dari biomassa secara cepat dan ramah lingkungan, yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas elektroda baterai sekaligus membuka aplikasi lebih luas.
“Kita memiliki potensi luar biasa dalam mencapai kemandirian energi bangsa, sehingga dalam pengembangan riset flash-graphene ini, kerja sama antar peneliti dan industri yang memiliki kepakaran dalam pemanfaatan material maju ini akan semakin meningkat dan bisa mewujudkan hasil-hasil penelitian yang impactful untuk bangsa kita,” jelas Bambang.
Bambang mulai mengembangkan penelitian baterai sodium-ion yang memiliki prospek besar karena bahan bakunya sangat berlimpah di Indonesia. Langkah itu memperluas cakupan risetnya dari litium-ion menuju alternatif lain yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi bersih. Konsistensi dan relevansi penelitian itulah yang mengantarkan dirinya dikukuhkan sebagai Guru Besar UI di bidang Material Energi Baru dan Terbarukan.
Bambang juga menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa sebagai negara kepulauan tropis dengan garis pantai terpanjang di dunia. Potensi energi terbarukan dari sinar matahari dan angin sangat besar, namun sifatnya yang intermiten menuntut adanya teknologi penyimpanan energi yang handal.
Baterai litium-ion dengan efisiensi coulombic (Coulombic Efficiency/CE) rata-rata 95 persen dan masa pakai lebih dari 8 tahun menjadi solusi yang semakin ekonomis. “Dengan riset yang tepat, kita dapat memanfaatkan biomassa lokal sebagai material baterai, sehingga tidak hanya mengurangi kebergantungan pada impor bahan tambang, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sumber daya alam Indonesia,” tegasnya.
Rekomendasi juga buat kamu:
Bebani Neraca Perdagangan
Dalam kesempatan lain, Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma menegaskan, kemandirian energi nasional sulit tercapai selama Indonesia masih bergantung pada energi fosil yang diimpor dari luar negeri. Ketergantungan itu justru membuat ketahanan energi rapuh dan membebani neraca perdagangan.
“Kemandirian energi akan mudah dicapai jika penggunaan energi tidak lagi hanya bergantung pada fosil yang harus diimpor dari luar. Impor semacam ini akan berdampak pada rapuhnya ketahanan energi, apalagi kemandirian energi,” kata Surya.
Sebab itu, transisi ke energi terbarukan menjadi pilihan utama untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia dengan energi matahari dan angin sebagai jenis energi terbarukan yang paling mudah dan cepat dibangun.
Meskipun keduanya memiliki tantangan intermitensi atau sifat tidak stabil. Surya menyebut persoalan itu bisa diatasi dengan Battery Energy Storage System (BESS).
Kombinasi antara pembangkit intermitten plus BESS dan pembangkit baseload EBT dinilai akan mempercepat transisi energi sekaligus mengurangi beban impor BBM dan LPG. Langkah itu juga memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak harga komoditas global.
Sementara itu, Ahli Energi Terbarukan Universitas Janabadra Yogyakarta, Mochamad Syamsiro, mengatakan bahwa penguasaan teknologi penyimpanan energi memang menjadi kunci dalam mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) seperti tenaga surya dan angin yang bersifat intermiten.
“Tanpa sistem penyimpanan yang memadai, potensi besar energi terbarukan di Indonesia tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. “Energi surya dan angin itu tidak selalu tersedia setiap saat, sehingga teknologi baterai menjadi penting untuk menjaga kontinuitas pasokan energi,” kata Syamsiro.
Pengembangan baterai jelasnya tidak hanya soal teknologi, tetapi juga kesiapan ekosistem industri dan kebijakan yang mendukung.
Peneliti Sustainability Learning Center(SLC), Hafidz Arfandi menyebut baterai masih menjadi komponen dengan harga tertinggi dalam adopsi teknologi listrik, terutama kendaraan listrik dan panel surya rumah tangga independen. “Begitu juga untuk implementasi pemanfaatan panel surya rumah tangga yang berbasis independen,” kata Hafidz.
Berkaitan dengan hal itu, pengembangan bahan baku baterai di dalam negeri dinilai bisa mengakselerasi pemakaian listrik untuk kendaraan dan rumah tangga. Ke depan, sistem tersebut dapat diintegrasikan langsung dengan basis energi surya atau angin, sehingga menekan biaya energi jangka panjang.
Dia pun mengimbau agar pemanfaatan material lokal perlu didorong lewat pembiayaan riset dan pengembangan (R&D) yang memadai. Hilirisasi hasil riset ke industri juga harus dibarengi insentif besar agar Indonesia punya daya saing di sektor battery energy storage (BES).
“Tanpa ekosistem R&D, hilirisasi, dan daur ulang yang kuat, kita hanya akan pindah kebergantungan dari minyak ke bahan baku baterai impor,” kata Hafidz.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Indonesia akan Capai Kemandirian Energi Bila Mampu Kembangkan Bahan Terbarukan .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!