JAKARTA, KUCANTIK.COM - Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan di tengah meningkatnya tekanan global, keberlangsungan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus dijaga. Salah satunya dengan memperkuat ketahanan usaha mereka dari pasokan bahan baku plastik yang menjadi komponen penting dalam menjalankan usahanya.
Dalam keterangannya persnya, Rabu (22/4), ia menjelaskan tingginya kebergantungan industri petrokimia, sebagai sektor hulu plastik terhadap impor bahan baku, khususnya dari kawasan Timur Tengah menjadi tantangan Pemerintah maupun industri untuk menjaga kelangsungan produksi.
Industri plastik Indonesia jelasnya memang sangat bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah yang mencapai sekitar 70 persen. Di tengah tekanan tersebut, Nailul menekankan pentingnya menjaga pasokan dalam negeri untuk meredam dampak lanjutan terhadap sektor hilir dan masyarakat.
“Dalam jangka pendek, memenuhi pasokan dalam negeri menjadi sangat penting agar harga plastik menurun. Jika tidak, ada kenaikan harga layanan di dalam negeri mencapai 30 persen. Mulai dari industri laundry dan UMKM lainnya sangat rentan sekali terhadap kenaikan harga plastik. Di satu sisi, harus ada pengembangan plastik berbahan baku yang tersedia masal di dalam negeri dengan harga yang terjangkau,” kata Nailul.
Sementara itu, pengamat ekonomi Salamuddin Daeng mengatakan Indonesia sebenarnya punya potensi besar dalam daur ulang sampah plastik, namun selama krisis kejatuhan harga minyak bisnis ini tidak menarik.
“Sekarang harga minyak tinggi menjadi kesempatan bagi plastik bekas, harganya naik lagi,”ungkap Salamudin.
Hal itu menjadi kesempatan bagi kementerian perindustrian untuk membantu para pengusaha platik bekas mulai dari kebijakan sampai dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh Kementerian keuangan (Kemenkeu).
Kemasan Alternatif
Pada kesempatan terpisah, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menyampaikan bahwa ketegangan geopolitik saat ini di kawasan Timur Tengah merupakan momentum yang harus dimanfaatkan untuk mendorong industri kemasan ramah lingkungan untuk mampu berdaya saing dan menjadi lebih kompetitif.
Rekomendasi juga buat kamu:
“Industri makanan dan minuman merupakan pengguna produk plastik untuk berbagai kebutuhan kemasan. Kami melihat situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi momentum untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat inovasi kemasan alternatif yang lebih berkelanjutan,” ujar Putu di hadapan media, Selasa (21/4).
Menurutnya, pelaku industri telah mulai melakukan diversifikasi material kemasan dengan memanfaatkan kertas, kaca, logam, serta bahan plastik hasil daur ulang seperti recycled PET (rPET). Khusus kemasan berbahan dasar kertas, Kemenperin menilai industri pulp dan kertas nasional memiliki fondasi kuat untuk mendukung transformasi kemasan.
Pada 2025, industri ini didukung 113 perusahaan dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun. Nilai ekspornya mencapai 8,2 miliar dollar AS, sekaligus menyerap sekitar 1,48 juta tenaga kerja.
“Potensi pengembangan kemasan berbasis kertas sangat besar, terutama untuk kebutuhan ritel, industri mamin, e-commerce, dan logistik. Saat ini kita juga fokus dalam pengembangan aseptic packaging yang banyak digunakan oleh industri makanan dan minuman untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok dingin (cold chain). Inovasi seperti barrier paper, paper bottle, nano-cellulose coating dan active paper packaging ke depan perlu diperkuat melalui riset dan investasi,” kata Putu.ers/E-9
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Ancam UMKM, Indonesia Rawan Krisis Plastik Kemasan .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!