JAKARTA- Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko mengatakan tanpa peningkatan kualitas tenaga kerja, tambahan jumlah penduduk justru berpotensi menjadi beban ekonomi.
“Bonus demografi hanya akan memberikan dampak positif apabila penduduk usia produktif mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi,” katanya, Selasa (20/4), menanggapi laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang lebih tinggi dari rata-rata dunia.
“Kalau jumlah penduduk bertambah tetapi produktivitas stagnan, maka yang terjadi adalah tekanan terhadap ekonomi rumah tangga dan negara, bukan pertumbuhan,” ia menambahkan.
Salah satu sektor yang paling terdampak jelasnya adalah pangan. Kebutuhan konsumsi akan meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk, sementara kapasitas produksi belum tentu bertumbuh dengan kecepatan yang sama. Kondisi itu berisiko menimbulkan ketidakseimbangan antara supply dan demand, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga pangan.
Persoalan itu tidak hanya terkait produksi, tetapi juga efisiensi distribusi dan ketersediaan lahan. Tekanan terhadap daya dukung lingkungan pun akan semakin besar apabila tidak ada strategi yang jelas dalam menjaga produktivitas sektor pertanian.
“Kita menghadapi situasi di mana lahan terbatas, tetapi jumlah yang harus diberi makan terus bertambah,” katanya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk tidak hanya fokus pada pengendalian jumlah penduduk, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas sektor pangan.
Menurutnya, tanpa intervensi yang tepat, pertumbuhan penduduk yang tinggi justru dapat memperbesar risiko ketahanan pangan dan memperlemah stabilitas ekonomi jangka panjang.
Bencana Alam
Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan kecepatan pertumbuhan populasi Indonesia berada di atas rata-rata dunia.
Rekomendasi juga buat kamu:
“Sekarang penduduk dunia sudah di atas 8 miliar, dan penduduk Indonesia sudah di atas 280 juta jiwa. Kalau mengikuti tren peningkatan penduduk dunia, seharusnya kita ini hanya 240 juta saja. Berarti kecepatan pertumbuhan populasi kita di atas rata-rata dunia. Nah, kalau di atas rata-rata dunia maka kita pun harus hati-hati,” ungkap Rachmat dalam agenda Peluncuran Country Programme Implementation Plan (CPIP) Program Kerja Sama Indonesia-UNFPA (United Nations Population Fund) Siklus 11 di Jakarta, Selasa (21/4).
Dalam kondisi saat ini, Indonesia akan mengalami fase bonus demografi apabila penduduk generasi yang cenderung muda dapat dikelola dengan baik. Sebaliknya, penduduk yang menua akan mengalami penurunan produktivitas.
Oleh karena itu, dia mengingatkan seluruh tingkat pemerintah agar dapat menangani persoalan daya dukung lingkungan yang semakin terbatas seiring peningkatan jumlah populasi.
“Kalau kita pelajari, sebagian bencana bukannya bencana alam saja, tapi bencana karena manusia karena tekanan jumlah penduduk kita. Penduduk makin banyak makin perlu air, makin perlu pangan, makin perlu energi, akhirnya melebihi kapasitas dunia untuk melayaninya. Tapi, kalau saja dunia ini dikelola dengan adil, sebenarnya cukup,” katanya.
Sementara itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan kecepatan pertumbuhan penduduk jangan dipandang semata sebagai bonus demografi tetapi harus melakukan persiapan dengan baik.
“Jika tidak, pertumbuhan angkatan kerja ( penduduk usia muda) yang tinggi tanpa diimbangi peningkatan kualitas Sumber daya manusia (SDM) akan akan jadi “boncos” demografi,”tegas Esther.
Penciptaan lapangan pekerjaan juga papar Esther harus ditingkatkan dengan melihat tren ketenagakerjaan ke depan. Terkait dengan daya dukung alam, Esther menekankan bahwa ledakan populasi manusia yang terjadi saat ini telah melampaui daya dukung lingkungan (carrying capacity) bumi, menciptakan ketidakseimbangan serius antara kebutuhan manusia dan ketersediaan sumber daya alam (SDA).
Hal yang harus diantisipasi katanya adalah dampak ledakan penduduk terhadap lingkungan, pertama, krisis pangan. “Perubahan iklim yang dipicu pertumbuhan penduduk mengancam produksi pangan global,” kata Esther.
Kedua, degradasi lingkungan. Kerusakan hutan (deforestasi), alih fungsi lahan, dan penurunan kualitas air akibat limbah domestik dan industri. Lalu ketiga pencemaran (polusi). Emisi tinggi dari aktivitas manusia, kendaraan, dan industri mencemari air dan udara.
Keempat jelasnya adalah masalah sosial-ekonomi. “Ledakan penduduk sering menyebabkan kemiskinan, pengangguran, dan munculnya permukiman kumuh,”tutup Esther.YK/ers/E-9
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Waspadalah! Lonjakan Penduduk RI Lampaui Pertumbuhan Warga Dunia .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!