Sisi Gelap TKW Kaburan di Arab Saudi, Lepas Hijab Hingga Sulit Pulang ke Indonesia

Ket. kondisi TKW Kaburan di kota Jeddah

Doc: Kolase foto YouTube Alman Mulyana

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Fenomena TKW dan TKI kaburan di Arab Saudi kembali menjadi sorotan. Di balik kisah para pekerja migran yang berangkat dengan harapan memperbaiki ekonomi keluarga, tersimpan sisi gelap yang jarang terungkap.

Istilah kaburan merujuk pada pekerja yang meninggalkan majikan tanpa izin, biasanya karena kondisi kerja yang tidak manusiawi.

Sisi lain kehidupan ini sempat diungkap oleh seorang YouTuber Indonesia yang tinggal di Arab Saudi, Alman Mulyana.

Dalam salah satu videonya, ia memperlihatkan suasana malam di sebuah pasar di Jeddah yang tampak lebih bebas dibandingkan kota suci seperti Mekkah dan Madinah.

Di tempat itulah, sebagian TKW kaburan menjalani kehidupan baru yang jauh berbeda dari identitas awal mereka.

Beberapa di antaranya bahkan disebut mulai meninggalkan norma yang dulu dijunjung, termasuk melepas hijab dan berbaur dalam kehidupan malam.

Hal ini bukan sekadar soal perubahan gaya hidup, tetapi sering kali menjadi simbol tekanan panjang yang mereka alami. Ketika seseorang terus-menerus berada dalam situasi tertekan, pelarian menjadi satu-satunya jalan yang terasa tersedia.

Alasan utama para TKW kabur umumnya berkaitan dengan masalah serius, seperti gaji yang tidak dibayarkan, beban kerja berlebihan, hingga kekerasan dari majikan.

Keterbatasan komunikasi dengan keluarga di Indonesia juga memperburuk kondisi mental mereka. Dalam situasi seperti ini, kabur sering dianggap sebagai upaya bertahan hidup, meski risikonya sangat besar.

Namun, kehidupan setelah kabur tidaklah mudah. Status ilegal membuat mereka hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

Mereka rentan terhadap razia, denda besar, hingga deportasi. Bahkan, jika tertangkap, mereka bisa dikenai larangan masuk kembali ke Arab Saudi hingga 10 tahun.

Ini berarti kesempatan kerja di luar negeri bisa tertutup dalam waktu lama.

Di sisi lain, peluang untuk memperbaiki status sebenarnya ada. Pemerintah Arab Saudi sesekali membuka program pemutihan atau legalisasi melalui platform resmi.

Meski begitu, tidak semua pekerja kaburan mampu mengakses atau memanfaatkan kesempatan tersebut, baik karena kurangnya informasi maupun kendala administrasi.

Secara ekonomi, gaji asisten rumah tangga di Arab Saudi pada 2025–2026 berkisar sekitar 2.000 riyal atau setara Rp8 jutaan per bulan.

Angka ini terlihat menjanjikan, tetapi tidak sebanding jika hak-hak pekerja tidak terpenuhi. Bagi mereka yang kabur, penghasilan justru menjadi tidak menentu karena bekerja di sektor informal tanpa kontrak.

Kisah TKW kaburan ini menjadi pengingat bahwa bekerja di luar negeri bukan hanya soal peluang, tetapi juga risiko besar.

Di balik gemerlap kota seperti Jeddah, ada cerita tentang perjuangan, ketakutan, dan harapan untuk bisa pulang ke tanah air. Sayangnya, bagi sebagian orang, jalan pulang itu terasa semakin jauh seiring waktu.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN