Gegara Eskalasi Konflik dengan Iran, Trump Tunda Lawatan ke Tiongkok

Doc: istimewa

WASHINGTON – Gegara eskalasi konflik dengan Iran yang berdampak pada situasi global, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Senin (16/3), mengatakan berencana menunda lawatan penting ke Tiongkok selama sekitar satu bulan, yang semula dijadwalkan pada awal April.

“Karena perang ini saya ingin berada di sini, saya harus berada di sini, saya rasa begitu. Jadi kami meminta agar kunjungan tersebut ditunda sekitar satu bulan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Dikutip dari Channel NewsAsia, Trump menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan bagian dari strategi diplomatik atau upaya memainkan tekanan terhadap Tiongkok. Ia memastikan hubungan kedua negara tetap baik.

“Tidak ada trik di balik ini… Ini sangat sederhana. Kita sedang menghadapi perang. Saya pikir penting bagi saya untuk berada di sini,” ujarnya.

Rencana penundaan pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping menunjukkan bagaimana konflik Iran mulai mengganggu agenda kebijakan luar negeri Washington. Situasi ini juga berpotensi memperbesar ketegangan antara kedua negara, yang sebelumnya telah diwarnai isu perdagangan dan Taiwan.

Ketegangan meningkat setelah Iran merespons serangan gabungan AS dan Israel dengan ancaman terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari. Meski demikian, data pelayaran menunjukkan arus minyak Iran masih relatif normal, walau ekspor dari kawasan Timur Tengah secara keseluruhan dilaporkan menurun tajam sejak konflik dimulai.

Trump pun meminta sejumlah negara, termasuk Tiongkok, untuk membantu menjaga keamanan pelayaran di selat tersebut. Namun, hingga kini permintaan itu belum mendapat respons langsung dari Beijing.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Trump tetap menantikan kunjungan ke Tiongkok, meski jadwalnya kemungkinan akan disesuaikan. Ia menekankan bahwa prioritas utama presiden saat ini adalah memastikan keberhasilan operasi militer yang sedang berlangsung.

TIdak Optimal

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa potensi penundaan kunjungan lebih disebabkan kebutuhan untuk mengoordinasikan upaya perang, bukan karena persoalan perdagangan atau tekanan terhadap Tiongkok.

“Presiden ingin tetap berada di Washington untuk mengoordinasikan upaya perang. Bepergian ke luar negeri dalam situasi seperti ini mungkin tidak optimal,” kata Bessent.

Meski rencana kunjungan berpotensi mundur, persiapan pertemuan tetap berjalan. Bessent diketahui berada di Paris untuk bertemu Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng dalam rangka membahas kerja sama perdagangan serta isu strategis lainnya.

Kedua negara sebelumnya menyebut pembicaraan tersebut berlangsung “konstruktif” dan membuka peluang kerja sama lebih lanjut, termasuk peningkatan pembelian produk pertanian AS seperti daging dan unggas, serta pembahasan mengenai mineral tanah jarang dan investasi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian menegaskan bahwa diplomasi tingkat kepala negara memiliki peran penting dalam hubungan bilateral, dan komunikasi terkait rencana kunjungan masih terus berlangsung. SB/CNA/and

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN