Lonjakan Harga Minyak Dunia Otomatis Katrol Biaya Produksi

Doc: istimewa

JAKARTA – Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, YB Suhartoko menilai kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri. Meskipun porsi biaya bahan bakar minyak (BBM) dalam struktur biaya berbeda-beda di setiap sektor, lonjakan harga energi tetap memberi efek berantai terhadap total ongkos produksi yang pada akhirnya dapat menekan margin usaha dan mendorong kenaikan harga barang.

Menurutnya, kenaikan harga BBM sering kali menyebabkan tambahan ongkos produksi industri sekitar 2-3 persen. "Dampaknya signifikan terhadap komponen biaya overhead atau bahan baku," papar Suhartoko kepada Koran Jakarta, Kamis (12/3).

Pasar energi global kembali bergejolak setelah harga minyak menembus 100 dollar AS per barel akibat konflik Iran dengan koalisi Amerika Serikat (AS)–Israel, dan jika berlarut berpotensi mendorong harga hingga 130 dollar AS sehingga menambah tekanan fiskal, inflasi, serta ruang anggaran Indonesia sebagai negara net importir minyak. Dalam situasi tersebut, pemerintah dituntut mengambil kebijakan fiskal yang lebih terukur untuk menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan.

Suhartoko menilai kenaikan harga BBM berdampak langsung pada meningkatnya biaya transportasi dan operasional, sehingga mendorong kenaikan total biaya produksi. Kondisi tersebut berpotensi memicu inflasi sedang hingga tinggi yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi, terutama di negara net importir energi yang lebih rentan mengalami perlambatan ekonomi dan peningkatan pengangguran.

Dalam situasi ini, pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan antara menjaga momentum pertumbuhan ekonomi atau memprioritaskan stabilitas harga di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi. "Di sinilah pengambil kebijakan harus melakukan pilihan bijaksana untuk menyeimbangkan pro pertumbuhan atau pro stabilisasi," ucap Suhartoko.

Peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah (Timteng) kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia menembus level di atas 100 dollar AS per barel setelah meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk.

Gangguan terhadap pasokan, terutama di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, memicu kekhawatiran pasar akan krisis energi lebih luas. Upaya Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis yang merupakan terbesar sepanjang sejarah, belum mampu meredam kekhawatiran pasar.

Stephen Innes dari SPI Asset Management menilai pelepasan stok darurat tersebut bukan sebagai solusi, melainkan lebih sebagai isyarat simbolis. Sebab, gejolak geopolitik masih memanas terutama di sekitar Selat Hormuz.

"Pelepasan itu mungkin hanya meredam volatilitas selama beberapa jam saja, tetapi tidak dapat mengubah geometri risiko ketika jalur pelayaran terpenting di dunia sedang terancam. Dalam bahasa meja perdagangan, rilis IEA itu sama saja dengan menyiramkan selang taman ke kobaran api di kilang minyak," tulis Stephen dalam catatan analisnya, seperti dikutip dari AFP.

Gangguan Pasokan

Serangan terhadap kapal tanker, fasilitas bahan bakar, dan ancaman terhadap jalur distribusi energi membuat pelaku pasar menilai gangguan pasokan bisa berlangsung lebih lama. Sejumlah negara produsen di kawasan juga mulai mengurangi produksi, memperkuat sentimen bahwa pasar minyak global akan tetap ketat dalam waktu dekat.

Seperti diketahui, harga minyak mentah jenis Brent North Sea melonjak ke level tertinggi 101,59 dollar AS per barel, sementara crude oil jenis WTI (West Texas Intermediate) meroket hingga hampir 96 dollar AS . Kedua harga tersebut sempat meroket hingga 30 persen pada Senin (9/3) ke puncak hampir 120 dollar AS.

Para analis bahkan memperkirakan harga minyak di kisaran 90–100 dollar AS per barel berpotensi menjadi normal baru jika konflik berlarut. Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap ekonomi global karena lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi baru dan mendorong bank sentral mempertimbangkan kembali kebijakan suku bunga.

Sementara itu, pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti memproyeksikan harga minyak dunia masih berpotensi melonjak hingga sekitar 130 dokllar AS per barel jika eskalasi konflik Iran dan AS terus meningkat. Menurut Yayan, jika konflik berkembang hingga melibatkan pengerahan pasukan darat dan merusak infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah, gangguan pasokan bisa berlangsung lama dan mendorong harga minyak kembali melonjak.

“Sekarang justru eskalasinya lebih tinggi, karena Trump akan mengirim pasukan darat (ground troops) ke Iran,” ucap Yayan seperti dikutip dari Antara, Rabu (11/3).ers/SB/YK/E-10

Komentar (0)

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN