Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Baru Iran, Perang Memanas dan Harga Minyak Meledak Tembus $100

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Dunia kembali diguncang dengan perkembangan besar dari Timur Tengah. Iran secara resmi menunjuk putra pemimpin tertinggi sebelumnya, Mojtaba Khamenei, sebagai pengganti ayahnya Ali Khamenei. Penunjukan ini menandai berlanjutnya dominasi kelompok garis keras dalam pemerintahan Iran, tepat di saat kawasan tersebut dilanda konflik besar yang memicu ketegangan global.

Pengangkatan Mojtaba terjadi ketika perang antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel memasuki minggu yang semakin panas. Konflik ini tidak hanya berdampak pada stabilitas politik kawasan, tetapi juga mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah global melonjak tajam hingga menembus ambang psikologis 100 dolar AS per barel, level yang selama ini dianggap sebagai batas berbahaya bagi perekonomian global.

Lonjakan harga tersebut bahkan hampir mencapai 120 dolar AS per barel, menjadikannya kenaikan harian terbesar sejak krisis energi pada tahun 2020. Dua acuan minyak dunia, yaitu Brent Crude Oil dan West Texas Intermediate (WTI), sama-sama melonjak sekitar 30 persen hanya dalam waktu singkat. Pada awal perdagangan Senin dini hari, Brent diperdagangkan sekitar 115,50 dolar AS per barel, sementara WTI berada di kisaran 113 dolar AS.

Para analis pasar global mulai mengkhawatirkan dampak domino dari kenaikan harga minyak ini. Level 100 dolar AS telah lama dipandang sebagai titik kritis yang dapat memicu inflasi tinggi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Jika harga terus merangkak naik, tekanan terhadap pasar saham dan ekonomi global diprediksi semakin besar.

Salah satu pusat kekhawatiran terbesar berada di Selat Hormuz, jalur laut vital yang mengalirkan hampir seperlima pasokan minyak dunia. Ketika konflik regional mengganggu jalur ini, seluruh sistem distribusi energi global ikut terancam. Gangguan yang berkepanjangan dapat menyebabkan kekacauan logistik yang berdampak pada berbagai negara, terutama kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor energi.

Strategi pasar pun mulai berubah. Banyak investor memperhitungkan risiko gangguan pasokan jangka panjang. Bahkan jika jalur pelayaran kembali dibuka, para produsen minyak diperkirakan tidak akan mampu memulihkan produksi secara cepat. Hal ini membuat para pelaku pasar bersiap menghadapi periode harga energi yang tinggi dalam waktu lama.

Dampak gejolak ini langsung terasa di pasar keuangan global. Dolar AS menguat karena investor mencari aset yang lebih aman. Sementara itu, pasar saham di Asia mengalami tekanan besar. Indeks Nikkei 225 di Jepang merosot lebih dari 7 persen, sedangkan KOSPI di Korea Selatan jatuh lebih dari 8 persen. Indeks lain seperti Hang Seng Index di Hong Kong dan S&P/ASX 200 di Australia juga ikut melemah tajam.

Para ekonom bahkan mulai memperingatkan potensi skenario stagflasi, kombinasi antara inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang stagnan yang mengingatkan pada krisis ekonomi global pada era 1970an. Jika harga minyak Brent benar-benar menembus 120 dolar AS secara stabil, beberapa pakar memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia bisa mendekati nol dan membuka pintu menuju resesi global.

Bagi Asia, dampaknya bisa terasa lebih lama. Gangguan pasokan energi selama beberapa hari saja di Selat Hormuz dapat menyebabkan efek berantai selama berbulan-bulan terhadap distribusi energi di kawasan tersebut. Dengan kata lain, konflik yang saat ini terjadi tidak hanya menjadi persoalan geopolitik, tetapi juga ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dunia.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN