Kontroversi Pelakor Berhijab,  Ketika Simbol Agama Dijadikan Kambing Hitam Perselingkuhan

Ket. Poster film La Tahzan.

Doc: IMDb

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Belakangan ini, istilah pelakor berhijab kerap muncul dalam berbagai perbincangan di media sosial. Tidak sedikit kasus perselingkuhan di dunia nyata yang viral karena melibatkan perempuan berhijab sebagai pihak ketiga dalam hubungan rumah tangga seseorang.

Fenomena ini kemudian memunculkan perdebatan di masyarakat. Sebagian orang mempertanyakan bagaimana mungkin seseorang yang mengenakan simbol religius seperti hijab justru terlibat dalam hubungan yang dianggap melanggar norma sosial.

Namun di sisi lain, banyak pihak menilai mengaitkan hijab dengan moral seseorang adalah bentuk stereotip yang terlalu sederhana.

Ketika Kasus Perselingkuhan Viral di Media Sosial

Di era digital, banyak konflik rumah tangga yang akhirnya menjadi konsumsi publik karena tersebar melalui video, tangkapan layar percakapan, atau pengakuan pihak-pihak yang terlibat.

Dalam beberapa kasus yang viral, perhatian publik sering kali tidak hanya tertuju pada perselingkuhannya, tetapi juga pada penampilan perempuan yang dituduh sebagai pelakor, terutama jika ia mengenakan hijab.

Komentar yang muncul di media sosial sering kali bernada sinis, seperti menyebut hijab hanya sebagai “kedok” atau “topeng kesalehan”. Narasi seperti ini kemudian cepat menyebar dan membentuk opini publik.

Padahal, pada dasarnya perselingkuhan merupakan persoalan kompleks yang melibatkan banyak faktor, mulai dari hubungan pasangan, kondisi emosional, hingga keputusan pribadi masing-masing individu.

Hijab Tidak Bisa Dijadikan Tolok Ukur Moral

Dalam konteks kehidupan nyata, hijab merupakan pilihan pribadi yang biasanya berkaitan dengan keyakinan, budaya, atau identitas sosial seseorang.

Namun penting dipahami pakaian tidak dapat dijadikan ukuran mutlak untuk menilai karakter seseorang. Sama seperti simbol atau atribut lainnya, hijab tidak secara otomatis menjamin seseorang memiliki perilaku tertentu.

Realitas manusia jauh lebih kompleks. Seseorang bisa saja memiliki penampilan religius tetapi tetap melakukan kesalahan. Sebaliknya, banyak juga orang yang tidak menampilkan simbol religius tetapi memiliki integritas dan nilai moral yang kuat.

Peran Framing Media dalam Membentuk Persepsi

Selain percakapan di media sosial, cara media memberitakan sebuah kasus juga dapat memengaruhi persepsi publik. Dalam dunia jurnalistik, hal ini dikenal dengan istilah framing, yaitu cara suatu peristiwa dikemas dan disampaikan kepada audiens.

Sebagai contoh, sebuah berita bisa saja menuliskan judul seperti, “Wanita Berhijab Diduga Jadi Orang Ketiga dalam Rumah Tangga Pengusaha.”

Judul seperti ini secara tidak langsung menyoroti atribut hijab sebagai bagian penting dari cerita, padahal inti peristiwanya adalah perselingkuhan itu sendiri.

Sebaliknya, jika berita ditulis dengan pendekatan berbeda, misalnya, “Seorang Wanita Diduga Terlibat Perselingkuhan dengan Pria Beristri.”

Dalam contoh kedua, fokus berita berada pada tindakan yang dilakukan, bukan pada penampilan atau simbol keagamaan yang dikenakan individu tersebut.

Perbedaan framing seperti ini dapat memengaruhi cara pembaca memahami suatu kasus.

Stereotip yang Bisa Merugikan Banyak Orang

Ketika narasi “pelakor berhijab” terus diulang dalam berbagai diskusi publik, muncul risiko terbentuknya stereotip terhadap kelompok tertentu.

Padahal pada kenyataannya, perselingkuhan tidak berkaitan dengan cara berpakaian. Kasus seperti ini bisa terjadi pada siapa saja, terlepas dari latar belakang agama, gaya hidup, atau penampilan luar.

Generalisasi yang berlebihan justru dapat memicu stigma sosial terhadap perempuan berhijab secara keseluruhan, meskipun sebagian besar dari mereka tidak memiliki kaitan apa pun dengan kasus yang dibicarakan.

Memahami Masalah Secara Lebih Objektif

Pada akhirnya, penting bagi masyarakat untuk memisahkan antara perilaku individu dan simbol yang ia kenakan. Jika ada kasus perselingkuhan, yang seharusnya menjadi fokus adalah tindakan yang dilakukan orang-orang yang terlibat.

Mengaitkan simbol keagamaan dengan kesalahan individu hanya akan mempersempit cara pandang kita terhadap realitas sosial yang sebenarnya jauh lebih kompleks.

Dengan memahami hal ini, diskusi publik dapat menjadi lebih objektif dan tidak terjebak pada penghakiman yang didasarkan semata-mata pada penampilan luar seseorang.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN