Viral Chat Terakhir Siswi 13 Tahun di Demak, Pakar Ingatkan Bahaya Efek Menular Bunuh Diri pada Anak

Ket. Ilustrasi anak depresi.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kasus tragis kembali mengguncang publik. Seorang siswi sekolah dasar berusia 13 tahun berinisial SA di Demak, Jawa Tengah, ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri. Peristiwa memilukan ini semakin menyita perhatian setelah percakapan WhatsApp antara korban dan ibunya tersebar luas di media sosial.

Berdasarkan hasil visum yang dilakukan pada Kamis, 12 Februari 2026, korban diperkirakan meninggal dua hingga enam jam sebelum pemeriksaan. Aparat kepolisian membenarkan adanya bukti percakapan tersebut, namun hingga kini penyebab pasti yang mendorong tindakan nekat itu masih dalam proses penyelidikan.

Dalam tangkapan layar yang beredar, terlihat percakapan bernada emosi antara SA dan ibunya sehari sebelum kejadian. Pesan tersebut memuat kata-kata kasar dan ancaman, yang kemudian memicu spekulasi publik mengenai kemungkinan motif di balik peristiwa tersebut. Meski demikian, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan menunggu hasil investigasi resmi.

Yang menjadi sorotan bukan hanya tragedinya, tetapi juga cepatnya penyebaran chat pribadi korban. Banyak pihak menyayangkan beredarnya konten sensitif tersebut, termasuk praktisi pengasuhan yang dikenal di TikTok, Halimah. Ia mengingatkan pemberitaan dan penyebaran detail kasus bunuh diri secara tidak bijak dapat memicu efek imitasi, terutama pada anak-anak dan remaja yang sedang rentan secara emosional.

Menurutnya, kasus bunuh diri memiliki potensi menular apabila tidak diberitakan dengan hati-hati. Terlebih, konflik antara anak dan orang tua merupakan hal yang umum terjadi dalam proses tumbuh kembang. Jika narasi yang tersebar justru menormalisasi tindakan mengakhiri hidup sebagai respons atas pertengkaran, hal itu bisa menjadi pemicu berbahaya bagi anak lain yang tengah mengalami tekanan serupa.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah meningkatnya kasus bunuh diri anak yang belakangan ramai diberitakan. Sepekan sebelumnya, publik juga digegerkan kabar siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidup dan meninggalkan surat berisi alasan kesulitan biaya pendidikan. Rangkaian peristiwa ini membuat banyak orang tua merasa cemas.

Warganet pun terbelah dalam menyikapi penyebaran informasi semacam ini. Ada yang menilai publik perlu mengetahui kondisi sosial yang terjadi, namun tak sedikit pula yang sepakat bahwa konten sensitif, terutama chat pribadi korban seharusnya tidak disebarluaskan.

Para pemerhati anak mengingatkan pentingnya literasi digital, pengawasan penggunaan gawai, serta komunikasi yang hangat di dalam keluarga. Anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan emosional cenderung lebih mudah terpengaruh oleh narasi ekstrem yang mereka konsumsi di media sosial.

Tragedi ini menjadi pengingat bersama isu kesehatan mental anak perlu mendapat perhatian serius. Orang tua, sekolah, dan masyarakat memiliki peran besar dalam menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita, tanpa takut dihakimi atau dimarahi.

Jika kamu atau orang terdekat mengalami tekanan emosional berat atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, atau layanan konseling terdekat. Dukungan dan pertolongan selalu tersedia.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN