JAKARTA, KUCANTIK.COM - Konflik komentar antara warganet Korea Selatan (knetz) dan Asia Tenggara kini memasuki fase baru. Jika sebelumnya hanya terjadi di media sosial, kini dampaknya merambah platform ulasan publik. Sejumlah netizen Indonesia diketahui membombardir rating berbagai objek wisata di Korea Selatan melalui Google Review.
Fenomena ini viral setelah beredar tangkapan layar yang menunjukkan perubahan drastis penilaian destinasi terkenal seperti Jembatan Mapo dan Jembatan Hangang.
Salah satu unggahan akun X @txtanomali menyebut, “semalam rating Hangang Bridge sempat turun ke 4,0 lalu naik lagi 4,5, Mapo Bridge bahkan sempat 2,9”.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas serangkaian komentar yang dianggap rasis dan merendahkan Asia Tenggara. Sebelumnya, linimasa X dipenuhi perdebatan panjang antara pengguna Korea dan kawasan Asia Tenggara.
Dari konser ke perang rating
Akar konflik bermula dari konser DAY6 di Axiata Arena pada 31 Januari 2026. Seorang fansite asal Korea membawa kamera profesional ke area konser, pelanggaran aturan yang memicu perdebatan online.
Warganet Asia Tenggara menilai tindakan itu tidak menghormati peraturan lokal. Sebaliknya sebagian pengguna Korea merasa negaranya disudutkan. Perdebatan kemudian berkembang menjadi stereotip fisik, hinaan budaya makan, hingga isu agama.
Ketegangan yang tak kunjung mereda membuat sebagian netizen Indonesia melancarkan “serangan balik digital” dengan memberikan rating rendah pada tempat wisata populer Korea Selatan. Dalam beberapa jam, nilai rating sempat turun drastis sebelum kembali naik setelah pengguna lain memperbaiki ulasan.
Fenomena review bombing
Apa yang terjadi dikenal sebagai review bombing, aksi massal memberi penilaian buruk bukan karena pengalaman langsung, melainkan bentuk protes. Biasanya terjadi pada film, game, atau perusahaan, namun kini merambah sektor pariwisata.
Rekomendasi juga buat kamu:
Banyak netizen menganggap aksi itu hanya simbolik dan lucu, sementara yang lain menilai berpotensi merugikan pelaku industri wisata yang tidak terlibat konflik. Sejumlah pengguna Indonesia sendiri juga mengingatkan agar tidak berlebihan karena bisa berdampak negatif pada citra negara.
Di sisi lain, sebagian pengguna Korea mengaku terkejut melihat objek wisata negaranya ikut disasar. Beberapa bahkan mulai memahami besarnya kemarahan publik Asia Tenggara setelah konflik melebar menjadi sentimen budaya dan identitas.
Pada akhirnya, perang rating mungkin hanya berlangsung sementara. Tetapi jejak digitalnya memperlihatkan satu hal: di era global, konflik antarwarganet bisa berdampak lintas platform, bahkan sampai mengubah reputasi destinasi wisata dunia dalam hitungan jam.***
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk KNetz Ketar-Ketir, Netizen Indonesia Serbu Rating Wisata Korea .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!