Mitos atau Fakta? Larangan Nikah Anak Pertama dan Ketiga Menurut Primbon Jawa

Ket. Mitos Pernikahan Menurut Primbon Jawa

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Mitos yang berkembang di masyarakat Jawa menyebutkan bahwa anak pertama dan anak ketiga dilarang menikah karena diyakini akan mendatangkan berbagai bahaya. Kepercayaan ini masih cukup kuat dan kerap menjadi pertimbangan serius dalam proses perjodohan di sejumlah keluarga.

Biasanya, orang tua yang memiliki latar belakang budaya Jawa akan menanyakan terlebih dahulu urutan kelahiran calon pelamar. Pertanyaan tersebut dianggap penting karena berkaitan langsung dengan perhitungan tradisi dan kepercayaan leluhur.

Menurut primbon Jawa, pernikahan antara anak pertama dan anak ketiga dipercaya dapat membawa dampak negatif. Dampak tersebut antara lain berupa seret rezeki, rumah tangga yang panas, serta kehidupan yang dipenuhi kesialan.

Dalam kanal YouTube Kejawen, disebutkan bahwa urutan kelahiran anak tidak boleh dianggap sebagai hal sepele. Kepercayaan ini menempatkan anak pertama sebagai sosok pembuka jalan bagi kehidupan keluarga.

Anak pertama dalam tradisi Jawa dianggap memikul tanggung jawab besar sejak lahir. Ia terbiasa mengalah, bertanggung jawab, serta memahami kondisi keluarga lebih awal dibandingkan saudara-saudaranya.

Karena beban tersebut, anak pertama sering kali tumbuh menjadi pribadi yang tegas dan kuat. Namun, karakter tersebut juga kerap diartikan sebagai keras kepala dan cenderung tidak mau mengalah.

Sementara itu, anak ketiga dipercaya memiliki peran yang berbeda dalam struktur keluarga menurut kepercayaan Jawa. Anak ketiga disebut sebagai anak penyeimbang atau sandingan dalam keluarga.

Berbeda dengan anak pertama, anak ketiga tidak dibebani tanggung jawab besar terkait urusan keluarga. Kondisi ini membuat anak ketiga dinilai lebih bebas dalam memaknai hidup dan menentukan jalan hidupnya sendiri.

Meski hidup lebih bebas, anak ketiga juga diyakini memiliki karakter yang kuat. Sifat ini terbentuk dari kebebasan berpikir dan minimnya tekanan tanggung jawab sejak kecil.

Dalam kepercayaan Jawa, jika anak pertama dan anak ketiga bersatu dalam pernikahan, dikhawatirkan akan terjadi benturan karakter. Dua pribadi yang sama-sama kuat dianggap berpotensi menimbulkan konflik dalam rumah tangga.

Benturan tersebut dipercaya dapat membuat kehidupan rumah tangga menjadi tidak harmonis. Kekhawatiran inilah yang kemudian melahirkan mitos bahwa pernikahan anak pertama dan ketiga bisa berujung pada kehancuran rumah tangga.

Meski demikian, primbon Jawa sejatinya tidak menentukan garis mutlak bahwa anak pertama dan ketiga tidak berjodoh. Kepercayaan tersebut lebih bersifat peringatan agar pasangan lebih berhati-hati dan mempersiapkan diri secara matang.

Oleh karena itu, masyarakat Jawa mengenal berbagai ritual adat untuk menangkal kemungkinan marabahaya. Ritual tersebut antara lain berupa selametan, ruwatan, dan prosesi adat lainnya.

Upacara-upacara tersebut dipercaya dapat menetralisir energi negatif yang dikhawatirkan muncul akibat pernikahan tersebut. Dengan ritual tersebut, pasangan diharapkan dapat menjalani rumah tangga dengan lebih harmonis dan sejahtera.

Hingga kini, mitos tentang larangan pernikahan anak pertama dan ketiga masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Namun, ada pula yang menganggapnya sebagai warisan budaya yang perlu disikapi secara bijak sesuai perkembangan zaman.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN