Tamu Tak Diundang? Kemunculan Mbak Rara di Labuhan Parangkusumo Picu Polemik, Keraton Yogyakarta Beri Klarifikasi

Doc: Instagram/@haijogja

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Jagat media sosial diramaikan oleh kemunculan Mbak Rara, sosok yang dikenal publik sebagai pawang hujan, dalam prosesi Labuhan Keraton Yogyakarta di kawasan Parangkusumo, Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, pada Senin (19/1/2026).

Kehadirannya sontak memunculkan berbagai spekulasi dan perdebatan di tengah masyarakat, terutama terkait dugaan keterlibatannya dalam upacara sakral Keraton Yogyakarta.

Banyak warganet menduga Mbak Rara memiliki peran khusus dalam prosesi tersebut, bahkan dikaitkan dengan ritual penolak hujan demi kelancaran upacara adat. Dugaan itu dengan cepat menyebar dan menimbulkan kesalahpahaman seolah-olah kehadiran Mbak Rara merupakan bagian dari rangkaian resmi Labuhan Parangkusumo, yang dikenal sebagai tradisi sakral penuh makna spiritual.

Menanggapi isu yang berkembang, pihak Keraton Yogyakarta akhirnya angkat bicara. Klarifikasi disampaikan langsung oleh Acun Hadiwidjojo atau KRT Poerbokusumo, Penghageng Keraton Yogyakarta Hadiningrat sekaligus cucu Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Ia dengan tegas menyatakan bahwa Mbak Rara tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan Keraton Yogyakarta.

Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada Selasa (20/1/2026), KRT Poerbokusumo meluruskan kabar yang dinilainya telah menyimpang jauh dari fakta. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa kehadiran Mbak Rara tidak atas undangan Keraton dan sama sekali tidak termasuk dalam prosesi resmi Labuhan Parangkusumo.

Ia juga menyindir isu penolakan hujan yang dikaitkan dengan Keraton, seraya menolak anggapan bahwa ada pihak yang “memerintahkan” tindakan tersebut.

Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa prosesi Labuhan Parangkusumo tetap dilaksanakan sesuai paugeran dan tradisi Keraton Yogyakarta yang telah berlangsung turun-temurun. Tidak ada penambahan unsur di luar struktur adat yang telah ditetapkan, terlebih melibatkan pihak yang tidak memiliki hubungan resmi dengan Keraton.

Sebagai informasi, Labuhan Parangkusumo merupakan bagian penting dari rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem, peringatan naik tahta Sri Sultan Hamengkubuwono X. Upacara ini memiliki nilai filosofis tinggi sebagai wujud hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sehingga pelaksanaannya dijaga ketat sesuai adat dan tata krama Keraton.

Dengan adanya klarifikasi dari pihak Keraton, diharapkan masyarakat tidak lagi terjebak pada informasi yang keliru. Keraton Yogyakarta juga mengimbau publik untuk lebih bijak dalam menyikapi konten viral di media sosial agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terhadap tradisi budaya yang sakral dan penuh makna.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN