Konflik Kontrak dan Skandal Hukum: Agensi Lama Ungkap Alasan Pisah dengan Park Na Rae

Ket. Park Na Rae

Doc: Tangkapan Layar

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Agensi lama Park Na Rae, JDB Entertainment, akhirnya menjelaskan alasan di balik berakhirnya kerja sama dengan sang komedian pada 15 Januari 2026. JDB mengonfirmasi adanya dinamika alot mengenai bonus penandatanganan selama proses diskusi perpanjangan kontrak tersebut.

“Memang benar ada perbedaan pendapat mengenai bonus penandatanganan selama diskusi perpanjangan kontrak dengan Park Na Rae. Awalnya, dia mengusulkan biaya penandatanganan yang tinggi, tetapi setelah penyesuaian, kami mencapai kesepakatan yang relatif damai,” jelas JDB.

Namun, agensi menambahkan bahwa masalah utama sebenarnya bukanlah soal uang, melainkan perbedaan visi mengenai arah karier sang komedian.

“Pada akhirnya, masalah utamanya bukanlah bonus penandatanganan tetapi perbedaan pandangan tentang aktivitas dan arah masa depan,” tambah mereka.

JDB merasa ketidaksamaan visi ini terlalu signifikan untuk diabaikan, terutama untuk komitmen jangka panjang selama tiga tahun ke depan.

“Karena perpanjangan kontrak biasanya melibatkan komitmen tiga tahun dan ketidaksepakatan tersebut signifikan, kami memutuskan untuk tidak memperbarui kontrak,” ungkap agensi.

Sebelumnya, media melaporkan Park Na Rae menuntut bonus besar pada 2024, yang berujung pada keputusannya mendirikan agensi satu orang bernama N Park. Muncul pula rumor bahwa ia meminta biaya penandatanganan hingga 30 miliar won atau sekitar Rp345 miliar kepada agensi lain.

Di tengah situasi ini, mantan manajernya berinisial A membuat klaim mengejutkan mengenai perekrutan pribadinya yang dilakukan Park Na Rae dari JDB.

“Park Na Rae secara pribadi merekrut saya dari JDB, karena tahu saya mampu menangani berbagai peran, manajer lapangan, pemimpin tim, kepala manajer, dan bahkan sutradara,” kata A.

A mengaku telah menangani semua tugas Park Na Rae selama setahun setelah meninggalkan JDB dan sang komedian merasa puas dengan kinerjanya.

“Saya mengikutinya setelah meninggalkan JDB dan menangani semua tugas terkait selama setahun, dan dia puas dengan pekerjaan saya,” tambahnya.

Namun, A juga menuduh Park Na Rae memintanya melakukan tindakan ilegal berupa perekaman suara untuk menekan CEO JDB Entertainment, Park.

“Pada saat itu, Park Na Rae meminta saya mendapatkan rekaman untuk mendapatkan pengaruh atas CEO JDB Park. Saya mengirimkan rekaman tersebut kepada Park Na Rae dan pacarnya, dan saya masih memilikinya,” ungkap A.

Kontroversi ini juga membuat ketidakhadiran Park Na Rae di pernikahan sahabatnya, Kim Ji Min, kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan publik. Meskipun pihak Park Na Rae menyebut alasan pribadi dan sudah mengirim hadiah, spekulasi keretakan hubungan dengan pimpinan JDB tetap mencuat.

Tak berhenti di situ, Park Na Rae kini menghadapi tuduhan pelecehan di tempat kerja serta klaim perawatan medis ilegal dari figur berjuluk "Bibi Suntik". Dua mantan manajer lainnya menuduh sang komedian melakukan intimidasi, resep palsu, hingga menunggak biaya produksi.

Pada Desember 2025, para mantan manajer tersebut mengajukan penyitaan properti senilai Rp12 miliar serta pengaduan pidana atas dugaan penganiayaan dan pencemaran nama baik.

Mereka menuduh adanya pelanggaran serius terhadap Undang-Undang Informasi dan Komunikasi yang dilakukan oleh pihak Park Na Rae.

Sebagai tanggapan, Park Na Rae langsung mengajukan gugatan balik atas tuduhan pemerasan dan penggelapan terhadap para mantan karyawannya tersebut.

Akibat polemik yang semakin memanas, ia memutuskan untuk menangguhkan seluruh aktivitasnya di layar kaca, termasuk keluar dari program I Live Alone.

Dalam pernyataan resminya pada 16 Desember 2025, ia mengaku menanggapi serius kekhawatiran masyarakat atas situasi hukum yang sedang berjalan.

“Ada fakta-fakta yang perlu diverifikasi dengan tenang, itulah sebabnya proses hukum saat ini sedang berlangsung,” tuturnya singkat.

Ia juga memilih untuk tidak memberikan penjelasan lebih mendalam demi menjaga integritas proses hukum yang sedang dilakukan oleh pihak berwenang. Baginya, menyerahkan masalah ini kepada prosedur yang benar adalah cara terbaik untuk menetapkan tanggung jawab secara adil.

“Saya akan menahan diri untuk tidak membuat pernyataan atau penjelasan lebih lanjut. Keputusan ini bukan tentang menyalahkan siapa pun atau menetapkan tanggung jawab, tetapi tentang mengesampingkan emosi dan penilaian pribadi dan membiarkan masalah ini diselesaikan melalui prosedur yang tepat,” tutupnya. 

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN