JAKARTA- Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, Rabu (14/1) mengatakan pernyataan dari otoritas moneter dan Pemerintah yang menekankan kuatnya fundamental ekonomi belum cukup untuk menjawab tekanan pasar jika tidak diiringi respons kebijakan moneter yang lebih tegas dan konsisten.
Kurs atau nilai tukar rupiah yang melemah secara berkelanjutan perlu menjadi alarm serius bagi Bank Indonesia.
Aditya mengatakan, dalam situasi global yang masih sarat ketidakpastian, mulai dari arah suku bunga Amerika Serikat (AS), hingga tensi geopolitik menyebabkan para pelaku pasar membutuhkan sinyal kuat dari otoritas moneter.
“Jika rupiah terus tertekan, Bank Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan narasi stabilitas fundamental. Pasar melihat tindakan, bukan sekadar pernyataan,” kata Aditya.
Ia menilai, volatilitas rupiah mencerminkan adanya kekhawatiran investor terhadap efektivitas bauran kebijakan moneter dan stabilisasi nilai tukar. Menurut Aditya, intervensi yang bersifat reaktif tanpa komunikasi kebijakan yang jelas justru berisiko memperlemah kepercayaan pasar dalam jangka menengah.
“Ketika rupiah melemah berlarut-larut, itu sinyal bahwa pasar belum sepenuhnya yakin terhadap arah kebijakan BI,” katanya.
Aditya juga mengingatkan bahwa kebergantungan pada cadangan devisa semata bukan solusi berkelanjutan. Ia mendorong Bank Indonesia untuk lebih transparan dalam menyampaikan strategi stabilisasi rupiah, termasuk koordinasi dengan kebijakan fiskal pemerintah agar tidak menimbulkan sinyal yang saling bertolak belakang.
“Fundamental ekonomi memang penting, tetapi stabilitas nilai tukar adalah soal kredibilitas kebijakan,” ujar Aditya.
Ia menegaskan, jika pelemahan rupiah dibiarkan tanpa respons yang tegas dan terukur, dampaknya dapat merembet ke inflasi impor, biaya produksi, dan pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
Isu Kenaikan Utang
Rekomendasi juga buat kamu:
Di kesempatan lain, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, melemahnya rupiah lebih karena sentimen negatif terutama berkaitan dengan isu kenaikan utang Pemerintah yang menyebabkan arus keluar modal asing terutama dalam surat utang negara.
“Gejolak geopolitik, politik dalam negeri serta pelonggaran moneter yang terlalu cepat disinyalir juga berkontribusi terhadap pelemahan rupiah,” jelas Suhartoko.
BI dalam situasi saat ini perlu mempertimbangkan mana yang lebih dikedepankan.
Pertama, pro pertumbuhan dengan penurunan suku bunga acuan yang inflatoir dan mendorong terjadinya arus modal keluar serta pelemahan rupiah namun meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Atau, yang kedua, pro stabilitas dengan pengendalian inflasi dan arus modal keluar serta kestabilan rupiah.
“Dua duanya pilihan yang sulit ketika daya ungkit fiskal lemah,”ungkap Suhartoko.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan mengamati pergerakan rupiah yang terus melemah.
“Secara keseluruhan, sebetulnya fundamental ekonomi baik dari ekspor dan juga terkait dengan devisa relatif aman,” kata Airlangga.YK/ers/E-9
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Rupiah Terus Tertekan, BI Harus Bertindak .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!