JAKARTA- Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Riyanto, mengatakan bahwa pemberian insentif berbasis lokalisasi komponen untuk industri otomotif akan memacu pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan menciptakan lapangan kerja.
Berbicara di Bandung, akhir pekan lalu, Riyanto mengatakan skenario insentif lokalisasi menunjukkan hasil yang lebih kuat dibandingkan skenario baseline yang mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025.
“Jadi 2026 relatif terhadap bisnis as usual-nya, itu akan ada tambahan PDB sebesar 4-21 triliun rupiah di 2030,” ujar Riyanto.
Dalam simulasi tersebut, penjualan kendaraan secara nasional diproyeksikan kembali meningkat setelah sempat menurun pada 2025, dengan perkiraan total penjualan mobil mencapai sekitar 1,32 juta unit pada 2030.
Meski kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) masih mendominasi, pangsa pasarnya diproyeksikan turun signifikan dari 98 persen pada 2022 menjadi sekitar 75 persen pada 2030. Sebaliknya, kendaraan elektrifikasi (EV) menunjukkan pertumbuhan pesat.
Pada skenario baseline, kontribusi gabungan HEV, PHEV, dan BEV diperkirakan mencapai 25 persen dari total pasar pada 2030. Sementara pada skenario insentif lokalisasi atau yang berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pangsa pasar EV meningkat lebih tinggi hingga sekitar 27,4 persen, dengan HEV menjadi kontributor terbesar.
Dia menjelaskan, insentif berbasis lokalisasi menurunkan harga kendaraan hybrid (HEV) hingga 4-6 persen, sehingga mendorong pergeseran preferensi konsumen dari ICEV ke HEV.
Penurunan harga HEV karena insentif menurutnya, memicu substitusi dari kendaraan konvensional, sekaligus mempercepat elektrifikasi dengan biaya ekonomi yang relatif lebih efisien.
Dari sisi industri, peningkatan penjualan HEV dan bertambahnya penggunaan komponen lokal, termasuk baterai berbasis nikel, turut mendorong output manufaktur otomotif. Output industri otomotif diperkirakan meningkat sekitar 2,1 persen pada 2026 dan hingga 7,4 persen pada 2030 dibandingkan skenario tanpa insentif.
LPEM FEB UI juga memproyeksikan tambahan lapangan kerja mencapai sekitar 9.200 orang pada 2026 dan meningkat menjadi lebih dari 34.000 orang pada 2030, seiring dengan ekspansi produksi dan pendalaman rantai pasok domestik.
Rekomendasi juga buat kamu:
Sementara dari sisi lingkungan, insentif lokalisasi juga dinilai memberikan kontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca dan konsumsi bahan bakar. HEV dinilai tetap menjadi opsi paling efisien secara ekonomi dalam upaya transisi menuju kendaraan rendah emisi.
Perubahan Struktur
Menanggapi pernyataan itu, Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI) Iyuk Wahyudi menegaskan bahwa insentif otomotif berbasis kandungan lokal hanya akan berdampak jangka panjang jika diarahkan pada transformasi industri, bukan sekadar mendorong kenaikan penjualan atau kontribusi ke PDB. Transformasi industri yang dimaksud adalah perubahan struktur dan kualitas industri otomotif nasional agar tidak berhenti pada aktivitas perakitan semata.
Menurut Iyuk, selama ini industri otomotif Indonesia cenderung bertumpu pada model perakitan, dengan sebagian besar komponen bernilai tinggi masih bergantung pada impor. Dalam kondisi tersebut, insentif fiskal berisiko hanya memperbesar pasar tanpa memperkuat fondasi industri.
“Transformasi industri berarti mendorong pendalaman rantai pasok, di mana komponen inti dan bernilai tambah tinggi mulai diproduksi di dalam negeri,” ujarnya.
Pendalaman industri mencakup penguasaan teknologi, peningkatan kapasitas manufaktur komponen utama, serta keterlibatan tenaga kerja lokal dalam proses rekayasa dan riset. Tanpa arah tersebut, insentif berpotensi menciptakan kandungan lokal yang bersifat semu, yakni peningkatan TKDN secara administratif tanpa peningkatan kemampuan teknologi nasional.
“Kalau hanya berhenti di perakitan akhir, maka manfaat ekonominya akan cepat habis,” kata Iyuk.
Insentif otomotif jelasnya seharusnya bersifat sementara dan bersyarat, dengan evaluasi berkala untuk memastikan tujuan transformasi tercapai.
“Insentif harus menjadi jembatan menuju industri yang mandiri dan berdaya saing, bukan sandaran permanen. Tanpa transformasi industri, insentif hanya akan memperbesar pasar, bukan memperkuat industri nasional,” pungkasnya.
Sementara itu, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, lokalisasi komponen otomotif dengan meningkatkan TKDN, jelas akan meningkatkan kegiatan produksi di sektor otomotif dan tentu saja peningkatan penyerapan tenaga kerja dan pendapatan nasional.
Namun yang perlu diperhatikan adalah persoalan kualitas dan quality control serta kompatibelnya komponen terhadap industri besarnya. “Oleh karena itu konsep lokalisasi komponen harus dalam perspektif jangka panjang,” kata Suhartoko.
Terpisah, pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan, insentif untuk industri manufaktur akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang lebih sustain. Jika industri manufaktur berkembang maka akan mendorong penciptaan lapangan pekerjaan, terutama industri padat karya.
“Jadi tidak hanya insentif untuk industri otomotif tetapi industri manufaktur lainnya, apalagi kalo industri ini didukung oleh komponen lokal lebih banyak, artinya insentif dengan skenario lokalisasi dipastikan akan lebih tinggi impact nya daripada skenario tanpa komponen lokal,” kata Esther.YK/ers/E-9
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Insentif Berbasis Lokalisasi Komponen Dongkrak PDB dan Lapangan Kerja .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!