BKPM Optimistis Mampu Tarik Investasi Rp13.000 Triliun dalam 5 Tahun

Doc: istimewa

JAKARTA- Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani optimistis bisa menarik investasi Rp13.000 triliun dapat dicapai dalam waktu lima tahun.

“Kita optimis, bisa kita capai. Karena, jika dilihat memang salah satu kontributor yang bisa mendorong pertumbuhan ke atas itu adalah investasi,” kata Rosan, Rabu (26/11).

Rosan memberikan perbandingan dengan periode pemerintahan sebelumnya dengan total investasi yang didapatkan dalam 10 tahun masa Pemerintahan Joko Widodo senilai Rp9.117,4 triliun.

“Nah memang PR-nya saya bilang masih ada, yaitu rule of law-nya mesti kita sempurnakan, kemudian clarity-nya juga kita harus sempurnakan,” katanya.

Selain kepastian hukum, Rosan juga menilai hilirisasi juga menjadi bidang investasi yang perlu didorong, karena mampu memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan harapan Rosan itu terlalu tinggi, padahal mengejar angka 13 ribu triliun dalam waktu lima tahun itu tidak gampang.

Pemerintah harus realistis sebab Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia masih di atas 6, angka yang tidak kompetitif dan menggambarkan tidak efisiennya investasi di RI.

“Menarik investor ke Indonesia tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi perlu kiat khusus,”ungkap Esther.

Kiat kiat itu yakni dengan memahami apa yang diinginkan investor. Kebijakan Pemerintah harus mengakomodir kepentingan investor.

Kemudian, Castellani menyediakan fasilitas publik dan infrastruktur yang memadai untuk mendukung investasi tersebut, lalu menggaet pemain pemain (perusahaan) besar agar pemain kecil ikut (supporting industry) juga ikut.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah menyediakan tenaga kerja terampil, memastikan regulasi tidak berubah selama investasi berlangsung serta ⁠kemudahan dalam mengurus perijinan mulai bisnis serta menyelesaikan masalah logistik nasional.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Aloysius Gunadi Brata menilai target investasi 13 ribu triliun rupiah dalam lima tahun terlalu tinggi dan berpotensi tidak realistis, tanpa membenahi struktural yang signifikan.

Menurut Aloysius, besarnya target tersebut tidak sebanding dengan kondisi efisiensi investasi Indonesia saat ini. Ia menekankan bahwa dengan asumsi ICOR (Incremental Capital Output Ratio) yang tidak berubah, tambahan investasi besar tidak otomatis menjamin lonjakan output. Pemerintah katanya perlu lebih berhati-hati dalam menyampaikan proyeksi dan ambisi investasi kepada publik. Menurutnya, tren komunikasi pemerintah yang semakin sering memunculkan angka-angka besar dan target yang ambisius justru dapat menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis.

Aloysius menambahkan bahwa fokus kebijakan seharusnya diarahkan pada reformasi yang dapat meningkatkan efisiensi, termasuk perbaikan iklim usaha, konsistensi regulasi, dan peningkatan kualitas SDM. Tanpa itu, target investasi 13 ribu triliun rupiah dalam lima tahun hanya akan menjadi angka proyeksi di atas kertas dan sulit diwujudkan secara nyata.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN