Mengenal Istilah Karoshi di Jepang, Kebiasan Gila Kerja Tanpa Henti Hingga Meninggal Dunia

Ket. ilustrasi kelelahan bekerja

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Fenomena bekerja dengan etos tinggi sudah menjadi karakter kuat dalam masyarakat Jepang.

Dari budaya disiplin yang melekat sejak kecil hingga dorongan untuk selalu memberikan yang terbaik di lingkungan kerja, semangat ini sering dianggap sebagai salah satu faktor kemajuan negara tersebut dalam ekonomi, teknologi, maupun kualitas sumber daya manusia.

Namun, di balik citra positif itu terselip sisi gelap yang telah menjadi perhatian dunia, karoshi, istilah untuk menggambarkan kondisi gila kerja yang ekstrem hingga menyebabkan gangguan kesehatan serius bahkan kematian.

Karoshi secara harfiah berarti death by overwork atau kematian akibat bekerja berlebihan. Istilah ini mulai dikenal luas sejak tahun 1980-an ketika sejumlah kasus pekerja muda yang meninggal mendadak akibat serangan jantung dan stroke dikaitkan dengan jam kerja yang sangat panjang.

Karoshi bukan sekadar tentang seseorang yang rajin bekerja, tetapi kondisi ketika beban kerja, tekanan mental, dan jam lembur berlebihan sudah melampaui batas kemampuan fisik manusia.

Penyebab Karoshi

Salah satu penyebab utama karoshi adalah budaya jam kerja yang panjang. Jepang selama bertahun-tahun dikenal dengan praktik bekerja hingga larut malam, rapat yang dilakukan pada waktu tidak wajar, bahkan ada cerita tentang meeting yang berlangsung pukul 3 pagi, serta tekanan agar tetap loyal meski tubuh sudah tidak kuat. 

Untuk merespons situasi ini, pemerintah Jepang mengeluarkan aturan pembatasan lembur, yaitu maksimal 30 jam lembur per bulan. Aturan tersebut bertujuan mengurangi risiko kesehatan akibat kelelahan ekstrem. 

Meski begitu, keputusan untuk menerima atau menolak lembur tambahan sering kali kembali kepada karyawan, dan banyak dari mereka tetap memilih menerima demi menjaga hubungan baik dengan perusahaan.

Alasan utama para pekerja merasa perlu bekerja lebih keras adalah rasa tanggung jawab dan keinginan kuat untuk tidak mengecewakan atasan. Dalam budaya kerja Jepang, kepercayaan adalah hal penting. 

Ketika seseorang diberi tugas atau jabatan, hal tersebut dianggap sebagai bentuk penghargaan yang harus dibalas dengan dedikasi penuh. Sayangnya, niat baik ini sering berubah menjadi tekanan internal yang memicu seseorang memaksakan diri jauh melebihi kapasitas fisiknya.

Dampak Serius

Dampak karoshi sangat serius. Pada tahap awal, pekerja biasanya mengalami stres berkepanjangan, sulit tidur, dan kelelahan mental. Jika dibiarkan, kondisi ini berkembang menjadi depresi, gangguan kecemasan, hingga kerusakan organ tubuh akibat ritme hidup yang tidak sehat. 

Dalam kasus ekstrem, serangan jantung dan stroke menjadi ancaman nyata bagi mereka yang tak punya waktu cukup untuk beristirahat.

Fenomena karoshi memberi pelajaran penting bahwa kemajuan sebuah negara tidak hanya bergantung pada kerja keras, tetapi juga pada keseimbangan hidup warganya. Bekerja dengan semangat memang baik, namun kesehatan fisik dan mental tetap harus menjadi prioritas utama.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN