Trump: Gaza hanya Bagian Kecil, Perdamaina di Seluruh Timteng Lebih Penting

Doc: istimewa

WASHINGTON- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan konflik Gaza Trump hanya sebagian dari tantangan yang lebih besar bagi negara-negara di Timur Tengah untuk bersatu dan “menyelesaikan tugas” yaitu mewujudkan perdamaian regional.

“Baru tiba di Washington D.C. yang sangat aman dan indah. Kami mencapai begitu banyak hal di Israel dan Mesir. Pekerjaan sulit telah diselesaikan dengan hasil terbaik. Pengalaman yang luar biasa,” tulis Trump di platform Truth Social, Selasa (14/10).

“Sekarang semua negara besar yang telah berjuang begitu lama untuk kawasan ini harus bersatu dan SELESAIKAN PEKERJAAN! Gaza hanyalah sebagian dari ini. Yang terbesar adalah PERDAMAIAN DI TIMUR TENGAH!” tambahnya.

Sebelumnya, pada 9 Oktober, Trump mengumumkan bahwa Israel dan gerakan perlawanan Palestina, Hamas, telah menyepakati tahap pertama rencana perdamaian untuk mengakhiri konflik di Jalur Gaza.

Pada tahap awal, Hamas membebaskan sandera Israel. Sementara Israel menarik pasukannya ke garis yang disepakati di Gaza serta membebaskan ratusan warga Palestina dari penjara, termasuk narapidana seumur hidup.

Rencana damai Gaza yang digagas Trump pada 29 September itu mencakup 20 poin dan menyerukan gencatan senjata segera dalam waktu 72 jam, bersyarat pada pembebasan sandera.

Dokumen tersebut juga mengusulkan pembentukan pemerintahan teknokratis di Gaza tanpa keterlibatan Hamas, dengan pengawasan internasional yang dipimpin oleh Trump.

Pada 13 Oktober, penandatanganan dokumen perjanjian damai Gaza dilakukan dalam Konferensi Tingkat Tinggi untuk Perdamaian Gaza di Sharm el-Sheikh, Mesir.

Berperan Aktif

Presiden Prabowo Subianto setibanya di Tanah Air menyatakan kesiapan Indonesia berperan aktif menjaga perdamaian di Palestina pascakesepakatan gencatan senjata yang dicapai dalam pertemuan di Sharm el-Sheikh, Mesir.

Kepala Negara, di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa, mengatakan sejumlah negara mediator kunci seperti Amerika Serikat, Turki, Qatar, dan Mesir menanyakan kesiapan Indonesia dalam mendukung proses perdamaian tersebut.

“Kami katakan kami siap, kalau diminta pasukan penjaga perdamaian, pasukan peacekeeping, Indonesia siap,” tegas Presiden.

Rencana pengiriman pasukan perdamaian itu katanya akan dibahas lebih lanjut secara teknis dengan berbagai pihak terkait.

Terpisah, Wakil Rektor Tiga, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam, mengatakan, keberhasilan Trump mendorong pembebasan sandera dan gencatan senjata antara Hamas dan Israel patut diapresiasi, namun upaya menuju perdamaian permanen masih perlu dikawal oleh semua pihak karena prosesnya belum selesai.

Meskipun belum mendapat nobel perdamaian, tapi harus diakui Presiden Trump sangat berkontribusi terhadap pembebasan sandera Israel dan gencatan senjata, sehingga konflik yang sudah berlangsung dua tahun dapat berhenti.

“Perlu dicatat prosesnya belum tuntas, karena masih ada fase-fase pembahasan berikutnya yang harus disepakati. Ini tidak mudah karena menyangkut dua pihak yang sudah lama berkonflik sehingga diramalkan negosiasinya bakal alot, dan bentrokan baru sangat mudah terjadi. Tapi setidaknya Trump sudah membuka jalan awal menuju penghentian perang yang permanen,” katanya.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN