Zulkifli Hasan: Jagung Bukan Sekadar Tanaman, tapi Harapan

Doc: antara

JAKARTA- Jagung bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan menjadi simbol harapan bagi masa depan dan kedaulatan pangan Indonesia, kata Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan pada saat gerakan tanam jagung serentak kuartal IV yang digelar di Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (8/10), sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Jagung ini bukan cuma tanaman, tapi harapan. Dari sini kita bangun kemandirian pangan, kesejahteraan petani, dan stabilitas harga di tingkat rakyat,” kata Zulkifli dalam sambutannya, dikutip dari keterangan pers di Jakarta.

Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Polri, pemerintah pusat dan daerah atas sinergi yang konsisten dalam mendampingi petani, memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta mendorong modernisasi pertanian.

“Pangan ini kerja bareng. Dari pusat sampai daerah, dari aparat sampai petani, semua punya peran. Kalau sinerginya kuat, kedaulatan pangan bukan cuma cita-cita, tapi kenyataan. Modernisasi ini juga harus terus kita tingkatkan. Dengan drone, petani bekerja berkali lipat lebih efisien,” kata Menko Pangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Anggota DPR RI Okta Kumala Dewi, Kepala Badan Pangan Nasional, Kepala BPS, Direktur Utama Bulog, Gubernur Banten, serta Bupati dan Wakil Bupati Tangerang.

Program itu bertujuan untuk meningkatkan produksi jagung dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendorong kesejahteraan petani melalui kolaborasi lintas sektor.

Dukungan terhadap petani diwujudkan dalam bentuk bantuan alat pertanian seperti traktor, pompa air, drone sprayer, serta benih unggul. Hasil panen dari kegiatan itu disalurkan ke Bulog sebagai cadangan pangan nasional. Hingga September 2025, program ini telah menghasilkan sekitar 2,83 juta ton jagung dari lahan binaan Polri.

Diversifikasi Pangan

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta mengatakan pernyataan Menko Pangan itu secara implisit mengakui pentingnya diversifikasi pangan yang selama ini terabaikan. Selama puluhan tahun, kebijakan pangan Indonesia cenderung terpusat pada beras sebagai satu-satunya tolok ukur ketahanan pangan.

“Ketergantungan pada satu komoditas membuat sistem pangan sangat rentan terhadap kegagalan panen akibat perubahan iklim, hama, atau bencana alam di sentra-sentra produksi beras. Terlalu bergantung pada beras membatasi asupan nutrisi beragam bagi masyarakat. Jagung, selain karbohidrat, juga mengandung serat, vitamin, dan mineral,”tegas Muliarta.

Jagung terangnya merupakan bahan pangan yang secara historis sudah dikonsumsi di berbagai daerah di Indonesia seperti di Nusa Tenggara Timur, Madura, dan sebagian Sulawesi yang memiliki keunggulan agronomis, yaitu lebih toleran terhadap kondisi kering dibandingkan padi.

Swasembada jagung tambahnya akan menstabilkan harga daging dan telur, yang secara langsung memengaruhi aksesibilitas pangan masyarakat, karena selama ini jagung tidak jarang juga digunakan sebagai pakan ternak. Pada sisi lain. Jagung sebagai bahan baku industri makanan olahan.

“Mengangkat jagung sebagai pangan pokok alternatif atau pendamping beras adalah cara paling efektif untuk mengurangi tekanan konsumsi beras. Jika sebagian masyarakat beralih mengonsumsi jagung berupa nasi jagung atau mencampurkannya dengan beras, maka permintaan dan impor beras dapat ditekan,”pungkas Muliarta

Komentar (0)

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN