Menkeu Purbaya Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 5,5% per Q4-2025

Doc: istimewa

JAKARTA- Seusai melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke Kantor Pusat Bank Mandiri di Jakarta, Senin (6/10), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 bisa di atas 5,5 persen.

Optimisme Menkeu itu didasarkan pada penyaluran kredit Himpunan bank-bank milik Pemerintah (Himbara) yang meningkat setelah Pemerintah mengalihkan dananya dari Bank Indonesia (BI) ke lima bank BUMN senilai total Rp200 triliun.

Bank Mandiri, BRI dan BNI masing-masing mendapat likuiditas 55 triliun rupiah, sedangkan BTN sebesar 25 triliun rupiah dan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebesar 10 triliun rupiah.

Dari 55 triliun rupiah yang ditempatkan di Bank Mandiri, sekitar 70 persen menurut laporan direksi Bank Mandiri sudah tersalur ke pembiayaan. Sebelumnya, direksi BRI juga menyampaikan bahwa dana yang ditempatkan Pemerintah di BRI tersalur ke dalam bentuk kredit/pembiayaan dengan cepat.

Hal itu karena BRI dalam sehari bisa menyalurkan kredit berkisar 1-1,5 triliun rupiah per hari dengan sebagian besar ke sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dengan tambahan 55 triliun rupiah, BRI memperkirakan bisa tersalur antara 1,5 bulan hingga 2,5 bulan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Bank Mandiri kata Menkeu bahkan meminta tambahan penempatan dana ke Pemerintah yang nantinya akan disalurkan ke beberapa sektor seperti properti dan otomotif.

“Kreditnya (Bank Mandiri-red) juga tumbuh dari 8 persen, sekarang sudah hampir 11 persen. Belum penuh satu bulan kan? Jadi, positif, sinyal positif. Artinya, kira-kira stimulus saya akan jalan di ekonomi,” kata Purbaya.

Berkaitan dengan sidak, Menkeu melakukan bersama Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir. Dia pun mengecek ke bank terkait penggunaan dana Pemerintah benar-benar tersalur ke sektor produktif, bukan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) apalagi untuk membeli valuta asing (valas) yang bisa menekan kurs rupiah.

Jadi Katalis

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dalam keterangan tertulis menyatakan telah menyalurkan dana sebesar 34,5 triliun rupiah atau setara 63 persen dari penempatan dana pemerintah 55 triliun rupiah per September 2025. Mayoritas dana tersebut disalurkan ke sektor padat karya.

“Bank Mandiri optimis dapat menyerap penempatan dana ini secara optimal hingga 100 persen pada akhir tahun ini dengan prioritas pada sektor dan industri padat karya serta UMKM,” kata Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (6/10).

Novita menyatakan tambahan likuiditas ini menjadi katalis penting dalam memperluas fungsi intermediasi perseroan.

Realisasi tersebut pun diyakini mencerminkan kepercayaan pemerintah sekaligus menegaskan komitmen Bank Mandiri untuk hadir di tengah pelaku usaha serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas.

Selain sektor padat karya dan UMKM, Bank Mandiri turut menyalurkan kredit ke sejumlah sektor strategis lainnya, seperti perkebunan dan ketahanan pangan, hilirisasi sumber daya alam dan energi terbarukan, layanan kesehatan, manufaktur, serta kawasan industri.

Bank meyakini fokus pembiayaan itu sejalan dengan agenda pemerintah dalam mendorong kemandirian ekonomi serta penguatan industri nasional berbasis nilai tambah domestik.

Dengan tambahan penempatan dana Kementerian Keuangan sebesar 55 triliun rupiah, lanjut Novita, kapasitas pembiayaan Bank Mandiri makin solid sehingga mampu mengakselerasi sektor-sektor prioritas.

Guru Besar Ekonomi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dian Anita Nuswantara, mengatakan, hasil penempatan dana yang telah tersalur sebagai kredit hingga 70 persen menunjukkan bahwa strategi Menkeu menggerakkan perekonomian membuahkan hasil.

“Kita berharap penyaluran kredit dapat memacu pertumbuhan ekonomi, karena produktivitas penyaluran dana yang besar dapat menyehatkan sektor industri, apalagi BRI unggul dalam menyasar hingga ke pelosok, sehingga meningkatkan pemerataan ekonomi,” kata Dian.

Selain itu, penyaluran kredit ke sektor produktif diharapkan memberi efek multiplikasi, karena sektor UMKM mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, sehingga membantu mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN