Warga Hong Kong Mendadak Panic Buying, Apa yang Terjadi?

Ket. Panic buying di Hong Kong.

Doc: Reuters

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Hong Kong mendadak dilanda panic buying! Ribuan warga berbondong-bondong menyerbu supermarket, toko bahan pokok, hingga pasar tradisional.

Penyebabnya bukan karena inflasi atau krisis ekonomi, melainkan ancaman besar yang tengah mengintai, Topan Ragasa.

Angin raksasa yang membawa kecepatan hingga 220 km/jam ini diprediksi menghantam wilayah Hong Kong dan sekitarnya dalam waktu dekat.

Pemandangan yang biasanya hanya terlihat di film bencana kini nyata adanya. Rak-rak supermarket penuh sayur, roti, hingga daging segar ludes diserbu warga.

Bahkan menurut seorang pegawai di salah satu pusat perbelanjaan, stok roti sudah habis sejak tengah hari.

"Biasanya tidak seperti ini. Hari ini semua orang panik," ungkapnya.

Fenomena panic buying tidak hanya melanda Hong Kong, tetapi juga merembet hingga ke kota Shenzhen, China, yang berbatasan langsung dengan wilayah tersebut.

Di distrik Bao’an, rak berisi sayur dan daging segar hampir kosong total. Warga takut kehabisan persediaan makanan jika badai memutus pasokan logistik.

Badan Meteorologi Hong Kong memperingatkan bahwa Ragasa bisa menjadi topan paling mematikan sejak Hato pada 2017 dan Mangkhut pada 2018, dua badai yang meninggalkan kerusakan parah di kawasan Asia Timur.

Eric Chan, salah satu pejabat tinggi Hong Kong, bahkan menyebut Ragasa berpotensi menimbulkan bencana dengan skala kerusakan besar.

Lebih mengkhawatirkan lagi, ketinggian air laut diperkirakan bisa naik 2 meter di wilayah pesisir, bahkan mencapai 4-5 meter di area tertentu.

Hal ini membuka potensi banjir besar dan kerusakan infrastruktur di sepanjang garis pantai.

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah Hong Kong telah membagikan ribuan karung pasir kepada warga di daerah rendah agar rumah mereka lebih tahan menghadapi banjir dan gelombang pasang.

Shenzhen juga mengambil langkah ekstrem dengan memerintahkan evakuasi 400 ribu orang. Sekolah-sekolah ditutup, dan sebagian transportasi publik dihentikan.

Sementara itu, Makau ikut siaga dengan rencana evakuasi massal serta penutupan fasilitas umum.

Situasi ini membuat suasana mencekam. Banyak warga yang tidak lagi memikirkan harga, melainkan hanya fokus memastikan keluarganya memiliki persediaan cukup untuk bertahan menghadapi kemungkinan terburuk.

Seperti yang dikatakan seorang mahasiswa, Zhu Yifan, saat ditemui di sebuah supermarket, “Pasti ada rasa khawatir. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”

Topan Ragasa kini menjadi ancaman nyata yang membuat Hong Kong, Shenzhen, dan Makau berada dalam mode darurat penuh. 

Jadi Cantiks, apakah kawasan ini siap menghadapi amukan badai terbesar dekade ini?

Komentar (0)

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN