Open House Idul Fitri Pertama di Istana Bikin Heboh, Gus Dur Semprot Staf Gara-Gara Karpet!

Doc: Instagram/@gusdur.ig

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Open house Idul Fitri di Istana Negara menjadi salah satu tradisi yang ditunggu masyarakat sejak era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Bukan sekadar seremoni kenegaraan, momen itu merepresentasikan sikap inklusif Gus Dur yang selalu berusaha merangkul semua lapisan masyarakat, dari pejabat tinggi hingga rakyat jelata.

Namun, di balik kehangatan suasana open house pertama di era kepemimpinannya, tersimpan kisah unik tentang bagaimana Gus Dur menegur staf istana hanya gara-gara... karpet baru.

Open House yang Tak Kunjung Dimulai

Dilansir dari laman TikTok @metro_tv, cerita ini dijabarkan oleh sang putri bungsu Inayah Wulandari. Bermula pada Idul Fitri pertama Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI.

Seperti biasanya, pihak Istana menyiapkan acara open house agar masyarakat bisa bersilaturahmi langsung dengan kepala negara.

Namun, hari itu suasana terasa janggal. Waktu sudah berjalan, tamu undangan dari berbagai kalangan telah menunggu di luar gerbang istana, tetapi acara belum juga dimulai.

Melihat keganjilan itu, Gus Dur yang terkenal blak-blakan langsung bertanya kepada staf istana, “Ini kenapa kok nggak mulai-mulai?”

Staf pun menjawab dengan nada ragu. Mereka mengaku sedang bingung karena karpet istana yang baru digelar masih bersih mengilap.

Di luar, para tamu yang menunggu bukan hanya pejabat atau tokoh masyarakat, tetapi juga rakyat kecil, tukang sapu, pedagang, bahkan mungkin pemulung.

Kekhawatiran staf sederhana, jika semua orang masuk, karpet baru itu akan cepat kotor.

Semprotan Khas Gus Dur

Jawaban itu membuat Gus Dur langsung bereaksi. Tanpa basa-basi, ia menyemprot staf istana dengan logika yang tajam sekaligus menyentil nurani.

“Itu karpet yang beli mereka. Pakai uangnya mereka. Mereka mau injek-injek, mau lompat-lompat, terserah. Biarin mereka ngerasain uang yang dari mereka sendiri.”

Kalimat pendek itu bukan hanya teguran, melainkan juga pengingat keras tentang siapa sejatinya pemilik istana.

Bagi Gus Dur, istana bukan hanya milik presiden dan pejabat, melainkan simbol negara yang berdiri atas kontribusi seluruh rakyat Indonesia. Maka, wajar jika rakyat berhak menikmati fasilitasnya, sekalipun hanya sebatas menginjak karpet baru.

Simbol Kesederhanaan dan Kerakyatan

Kisah ini menggambarkan sikap konsisten Gus Dur yang selalu menempatkan rakyat sebagai prioritas. Ia tidak pernah merasa terganggu dengan keberadaan masyarakat kecil di ruang-ruang kenegaraan.

Justru, Gus Dur ingin rakyat merasakan bahwa istana bukanlah tempat eksklusif yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang.

Bagi Gus Dur, nilai sebuah perayaan Idul Fitri terletak pada kebersamaan, bukan kemewahan. Karpet yang kotor bukanlah masalah, karena yang lebih penting adalah persaudaraan antarwarga negara.

Tegurannya kepada staf istana kala itu memperlihatkan bahwa ia tak segan menyingkirkan protokol yang kaku jika bertentangan dengan prinsip keadilan sosial.

Warisan Sikap Inklusif

Meski Gus Dur sudah tiada, cerita ini tetap abadi sebagai warisan moral. Ia menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang tidak memisahkan diri dari rakyat, melainkan hadir bersama-sama dalam suka dan duka.

Open house Idul Fitri di era Gus Dur pun dikenang sebagai salah satu momen paling merakyat dalam sejarah kepresidenan Indonesia.

Semprotan khas Gus Dur soal karpet istana bukanlah perkara sepele. Ia menjadi simbol bahwa kekuasaan dan fasilitas negara sejatinya berasal dari rakyat, dan karena itu, harus kembali kepada rakyat.

Dalam setiap langkah dan keputusan, Gus Dur selalu mengingatkan bahwa keberpihakan pada mereka yang kecil adalah inti dari kepemimpinan yang bermartabat.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN