Rakyat Demo Tuntut Keadilan di Jalan, DPR Malah Asyik Plesiran ke Luar Negeri, Media Asing Sorot Pemerintah Indonesia!

Ket. Video YouTube Al Jazeera English dalam menyorot aksi demo di Indonesia.

Doc: YouTube Al Jazeera

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Indonesia sedang berada di titik didih. Gelombang demonstrasi besar-besaran yang awalnya berlangsung damai kini berubah menjadi kerusuhan di berbagai kota. 

Ironisnya, ketika rakyat berteriak di jalan, aparat bersitegang, bahkan nyawa melayang, wakil rakyat yang seharusnya berdiri bersama rakyat justru kedapatan asyik plesir ke Australia. Inilah yang membuat amarah publik semakin membara.

Demo yang pecah serentak di 11 kota besar sejak 29 Agustus 2025 mendapat sorotan tajam media internasional. 

Nama-nama besar seperti Al Jazeera, BBC, The Guardian, The New York Times, Bloomberg, SCMP, hingga Times of India ramai-ramai menguliti kondisi Indonesia. 

Mereka menyoroti mulai dari inflasi yang mencekik, tunjangan jumbo DPR yang dianggap tidak masuk akal, hingga tindakan brutal aparat yang merenggut korban jiwa.

Salah satu yang paling menggetarkan hati publik adalah kematian Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang terlindas kendaraan lapis baja polisi di Jakarta. 

Insiden ini menjadi pemicu kemarahan yang merambat ke seluruh negeri. Media asing pun kompak menjadikan tragedi ini sebagai titik balik yang mengobarkan solidaritas nasional.

Al Jazeera menilai kematian Affan sebagai pemantik utama, ditambah inflasi dan tunjangan DPR yang menyulut emosi rakyat.

BBC dan The Guardian menegaskan bahwa tragedi Affan adalah titik balik perlawanan rakyat.

The New York Times menyebut kematian itu membuat aksi demo menjalar ke berbagai kota.

Bloomberg menyoroti bahwa meski korban berjatuhan, massa tetap bertekad melanjutkan aksi.

SCMP menyebut gejolak ini sebagai ujian serius pertama bagi pemerintahan Prabowo Subianto.

Times of India menyorot insiden di Makassar, di mana tiga orang tewas setelah demonstran membakar gedung dewan kota.

Namun, di tengah sorotan dunia, rakyat justru dibuat semakin murka dengan bocornya agenda perjalanan anggota Komisi XI DPR ke Australia. 

Alih-alih sibuk mencari solusi, mereka justru menikmati kunjungan kerja penuh nuansa wisata, mini maraton, makan siang di kafe, hingga jalan-jalan ke Blue Mountain.

Kontras inilah yang membuat rakyat merasa dikhianati. Sementara di tanah air darah bercucuran di jalan, para pejabat duduk manis menikmati udara sejuk Australia. 

Tak heran jika publik melabeli mereka sebagai wakil rakyat tanpa hati nurani.

Kini, amarah sudah terlanjur membuncah. Bukan hanya masalah ekonomi atau tunjangan DPR, tapi rasa ketidakadilan dan pengkhianatan moral yang membuat rakyat bergerak. 

Media asing sudah menyorot, rakyat sudah berteriak, apakah pemerintah berani mendengar atau justru terus menutup telinga?

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN