Butik Mewah Ketakutan! Dampak Demo Ricuh Bikin Barang Branded Disembunyikan dari Etalase, Takut Dijarah Massa?

Ket. Terlihat toko-toko barang branded terlihat kosong karena memilih menyimpan barang dibandingkan memajangnya di etalase

Doc: Instagram/@dashing_mr.maher

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Demo besar yang berujung ricuh di ibu kota beberapa waktu ini ternyata tak hanya mengguncang ketenangan publik, tapi juga mengguncang dunia bisnis barang mewah. 

Ya, Cantiks tidak salah baca. Ketika jalanan dipenuhi gas air mata, batu beterbangan, dan kendaraan terbakar, retailer high-end di mall-mall Jakarta nyatanya juga ikut panik. Barang-barang branded yang biasa terpajang megah di butik eksklusif mendadak diturunkan dari etalase.

Hal ini seperti yang dibagikan akun Instagram @dashing_mr.maher, yang mana akun tersebut menyoroti banyak toko barang high-end yang terlihat kosong karena memilih menyimpan barang mereka dibandingkan memajangnya di etalase. 

"You know it’s serious when all the high-end retailers start pulling everything out of their boutique display," tulis @dashing_mr.maher di cerita akun Instagram pribadinya.

Fenomena ini seakan jadi alarm keras bahwa bukan hanya rakyat yang merasakan dampaknya, tapi juga para pemain industri barang mewah di Indonesia.

Bayangkan, tas seharga ratusan juta, jam tangan limited edition bernilai miliaran, hingga perhiasan yang biasanya jadi simbol prestise mendadak disembunyikan. 

Alasan utama? Ketakutan akan kerusuhan yang bisa sewaktu-waktu merembet dan mengancam keamanan properti mereka. Tak ada satu pun brand mewah yang mau ambil risiko barang langka mereka dirusak, dijarah, atau bahkan sekadar terpapar aura negatif dari kericuhan politik di jalanan.

Efek domino pun terasa. Konsumen kelas atas yang biasanya menjadi pelanggan setia butik high-end kini ikut ragu untuk datang. Bukannya berbelanja, mereka justru memilih menahan diri. 

Kalau suasana kota saja sudah mencekam, siapa yang masih punya mood belanja barang miliaran?

Lebih jauh lagi, kondisi ini juga bisa mencoreng citra Indonesia di mata global. Para investor asing yang awalnya melirik Indonesia sebagai pasar potensial bisa mundur teratur, apalagi ketika mereka melihat retailer papan atas sampai harus menurunkan barang dari etalase. 

Ini bukan sekadar soal kerugian ekonomi, tapi juga simbol hilangnya rasa aman dan kepercayaan.

Dengan kata lain, ketika barang-barang mewah yang biasanya jadi simbol prestise ikut “bersembunyi,” kita tahu masalah ini sudah melampaui batas. 

Demo yang seharusnya jadi ekspresi demokrasi berubah menjadi ancaman langsung bagi stabilitas bisnis dan citra nasional.

Apakah toko-toko barang mewah ini takut terjadi penjarahan seperti yang terjadi di demo 1998?

Bagaimana menurut pendapatmu Cantiks?

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN