Mengenal Tragedi Jugun Ianfu: Luka Hitam Perempuan Indonesia Jadi Budak Seks Para Serdadu Jepang

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kekerasan seksual terhadap perempuan bukan sekadar masalah, tapi ancaman serius yang terus menghantui, bahkan di era modern. 

Data terbaru menunjukkan, hanya dalam waktu satu setengah bulan, lebih dari 5.500 kasus baru tercatat di Indonesia. 

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pun menegaskan, kondisi ini sudah memasuki fase darurat nasional.

Namun, luka lama ini bukanlah fenomena baru. Sejarah mencatat, kekerasan seksual terhadap perempuan telah terjadi sejak zaman penjajahan Jepang. 

Salah satu bab tergelap dalam sejarah itu dikenal dengan sebutan Jugun Ianfu, perempuan-perempuan yang dipaksa menjadi budak seks bagi tentara Jepang selama Perang Dunia II.

Praktik biadab ini tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh wilayah kekuasaan Jepang, mulai dari Korea, Tiongkok, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, hingga Belanda dan kepulauan Pasifik.

Para perempuan pribumi dijadikan “pelayan” untuk memuaskan hawa nafsu para serdadu, dengan dalih meningkatkan moral dan kinerja tentara di medan perang.

Secara bahasa, istilah jugun ianfu berasal dari lima kanji yang berarti “pengikut”, “tentara”, “penghibur”, “tenang/senang”, dan “perempuan”. 

Berdasarkan riset Hirofumi Hayashi, mayoritas korban berasal dari Taiwan, Cina, Asia Tenggara, dan khususnya Korea. 

Hal ini tak lepas dari pandangan rasis Jepang, yang menganggap bangsa Asia lain sebagai inferior dan pantas dieksploitasi.

Metode perekrutan di Indonesia pun penuh tipu daya. Awalnya, tentara Jepang memikat perempuan dengan janji palsu seperti beasiswa, pekerjaan di rumah sakit, atau restoran. 

Bahkan, menurut kesaksian Ketjee Ruizeveld, seorang Jugun Ianfu asal Belanda, para gadis dijanjikan uang untuk menghidupi keluarga. 

Jika rayuan gagal, ancaman dan kekerasan menjadi jalan berikutnya. Para perempuan yang sudah dipilih akan diangkut melalui jalur darat atau laut, lalu disebar ke berbagai lokasi di Indonesia hingga luar negeri.

Mimpi buruk itu baru berakhir ketika bom atom meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. 

Jepang menyerah, menarik pasukannya, dan meninggalkan para Jugun Ianfu. Sebagian dipulangkan, sebagian lagi terlantar di tanah asing tanpa kepastian masa depan.

Tragedi Jugun Ianfu adalah noda kelam yang mengajarkan betapa perempuan, sejak dulu hingga kini, masih menjadi korban utama kekerasan seksual. 

Luka sejarah ini menjadi pengingat, bahwa perlindungan terhadap perempuan bukan sekadar wacana, tapi tanggung jawab kemanusiaan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN