Produksi Industri Pertahanan Barat Alami Keterlambatan Akibat Pembatasan Pasok Bahan Baku dari Tiongkok

Doc: istimewa

JAKARTA - Perusahaan-perusahaan pertahanan negara-negara Barat mengalami keterlambatan produksi dan memaksa mereka mencari sumber bahan baku alternatif di pasar negara lain lantaran Tiongkok membatasi pasokan mineral penting sebagai bahan baku, sebagaimana diberitakan Wall Street Journal mengutip sumber dari perusahaan terkait.

Seperti diberitakan Kantor Berita Russia, RIA Novosti, Senin (4/8), merilis bahwa salah satu produsen drone yang memasok militer AS terpaksa menunda pengiriman pesanan hingga dua bulan karena harus mencari pengganti magnet asal Tiongkok yang terbuat dari logam tanah jarang.

Para pelaku perdagangan mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa beberapa material yang dibutuhkan industri pertahanan negara-negara Barat itu, kini dijual dengan harga lima kali lipat atau lebih tinggi dibandingkan sebelum Tiongkok memberlakukan pembatasan.

Wall Street Journal juga melaporkan bahwa lebih dari 80.000 komponen yang digunakan oleh markas pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon mengandung mineral yang kini termasuk dalam daftar pembatasan ekspor Tiongkok.

Di saat yang sama, hampir seluruh rantai pasok militer AS untuk mineral tersebut bergantung setidaknya pada satu pemasok asal Tiongkok, sehingga pembatasan oleh pihak Beijing tersebut dapat menimbulkan permasalahan besar bagi militer negara adidaya itu.

Selain itu, para pembeli Barat mengatakan bahwa Tiongkok juga kini meminta informasi rinci mengenai tujuan penggunaan mineral yang dibeli, agar tidak digunakan oleh perusahaan-perusahaan Barat dalam produksi militer.

Pengawasan Ekspor

Pada awal April, Kementerian Perdagangan Tiongkok juga menyatakan bahwa Beijing telah memasukkan 16 perusahaan AS ke dalam daftar pengawasan ekspor untuk mengendalikan ekspor barang-barang yang memiliki kegunaan ganda.

Sebagaimana dilaporkan oleh New York Times, Beijing telah menangguhkan ekspor berbagai mineral penting dan magnet, yang secara khusus dibutuhkan untuk merakit mobil, drone, robot, dan rudal.

Adapun pada bulan Juni, Wall Street Journal yang mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, melaporkan bahwa Tiongkok telah sepakat untuk melanjutkan penerbitan izin ekspor logam tanah jarang ke produsen mobil dan pabrik industri di AS, tetapi membatasi izin tersebut hanya untuk enam bulan.

Reuters juga melaporkan bahwa Tiongkok belum berkomitmen memberikan izin ekspor untuk beberapa magnet tanah jarang khususnya yang dibutuhkan oleh pemasok militer AS untuk jet tempur dan sistem rudal.

Sebagai informasi, logam tanah jarang adalah kelompok 17 unsur logam yang banyak digunakan dalam perangkat teknologi tinggi, termasuk komputer, televisi, dan ponsel pintar, serta teknologi pertahanan seperti rudal, laser, sistem transportasi, dan komunikasi militer.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN