Lupakan Meditasi, Teriak Bareng di Danau Jadi Tren Baru Atasi Tekanan Hidup The Scream Club di Chicago!

Ket. Teriakan Jadi Terapi? Komunitas The Scream Club Ini Ubah Stres Jadi Suara

Doc: Instagram.com/ussfeed

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Setiap Minggu malam, ratusan warga Chicago berkumpul di tepi Danau Michigan, bukan untuk mencari ketenangan atau merenung, melainkan untuk berteriak sekuat tenaga. Aksi ini bukan protes, bukan juga pertunjukan, melainkan bagian dari ritual pelepasan stres yang kini dikenal sebagai The Scream Club.

Kegiatan unik ini berlangsung di dermaga North Avenue Beach dan pertama kali dimulai pada awal musim panas oleh Manny Hernandez, seorang praktisi pernapasan (breathwork), bersama rekannya Elena Soboleva.

Awalnya, teriakan-teriakan ini hanyalah ritual pribadi mereka untuk mengatasi tekanan selama musim dingin. Namun, resonansinya kuat dan perlahan-lahan, kebiasaan tersebut berubah menjadi kegiatan kolektif.

“Awalnya hanya saya dan Elena. Tapi semakin lama, orang-orang mulai ikut. Mereka butuh ruang untuk membebaskan diri,” ujar Manny dalam salah satu sesi.

Pada pertemuan terakhir, komunitas ini mencatat jumlah peserta terbanyak di manalebih dari 100 orang berbaris di dermaga, bukan untuk dilihat, tapi untuk melepaskan beban batin. Tanpa musik, tanpa formalitas dan hanya satu momen singkat di mana teriakan menjadi bentuk terapi yang membebaskan.

Komunitas ini tidak menuntut keanggotaan atau komitmen jangka panjang. Siapa pun yang merasa perlu ‘melepaskan’ dipersilakan hadir. Beberapa orang datang sendiri, yang lain membawa teman. Bahkan ada yang datang hanya untuk melihat dan kemudian ikut berteriak.

Bagi banyak peserta, momen ini bukan sekadar pelampiasan emosional, tapi juga bentuk koneksi sosial yang jujur dan terbuka. Di tengah kota besar yang sering menuntut ketenangan dan ketegaran, The Scream Club menjadi ruang langka bagi kejujuran emosional yang raw dan tak dihakimi.

Menurut para pencetusnya, teriakan massal ini bukan sekadar bentuk ekspresi spontan, tetapi juga mengandung unsur terapi lewat teknik pernapasan dan pelepasan emosi yang terpendam.

Dalam praktiknya, sesi diawali dengan latihan napas singkat dan refleksi diam, lalu peserta bersama-sama menghitung mundur sebelum berteriak serentak ke arah danau.

Psikolog dan terapis setempat juga mulai melirik fenomena ini sebagai bentuk coping mechanism alternatif yang sederhana namun efektif, terutama di era pasca-pandemi ketika kecemasan kolektif meningkat.

“Terkadang tubuh kita hanya butuh cara lain untuk berbicara. Dan suara bisa menjadi saluran terbaik untuk itu,” ujar Elena Soboleva, salah satu pendiri.

Kini, The Scream Club juga mulai menarik perhatian wisatawan dan warga dari luar kota. Bahkan, beberapa komunitas di kota lain mulai mencoba mengadopsi konsep serupa, menjadikan Chicago sebagai pelopor gerakan emosional publik yang membebaskan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN