Tarif Bea Masuk 19 Persen ke AS Angin Segar bagi Eskportir Mebel dan Kerajinan
JAKARTA– Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Daerah Istimewa Yogyakarta menyambut positif kesepakatan tarif dagang antara Amerika Serikat dan Indonesia yang baru saja diumumkan Presiden AS Donald Trump.
Ketua Asmindo DIY, Sapto Daryono, menyebut kesepakatan tersebut sebagai “angin segar” bagi pelaku industri mebel dan kerajinan di Yogyakarta dan sekitarnya. “Kami akan sulit bersaing jika bea masuk di atas 30 persen, sekarang dengan 19 persen, ini jadi lebih kompetitif dibanding negara ASEAN lainnya yang dikenakan tarif bisa lebih tinggi,” kata Sapto, Rabu (16/7).
Kepastian tarif juga katanya memberikan dasar yang kuat bagi pengusaha untuk merancang ekspansi dan produksi jangka menengah. Sebab, kompetitor seperti Vietnam dikenai tarif 20 persen oleh AS, bahkan bisa mencapai 40 persen jika ketahuan melakukan transshipment atau pengalihan jalur barang. Sementara Thailand dikenai tarif sebesar 36 persen, dan Filipina 20 persen.
“Kita sekarang lebih baik dari mereka, dan ini harus dimanfaatkan dengan baik,” tegasnya.
Menurut Sapto, industri kerajinan dan mebel di DIY memiliki keunggulan dari sisi desain, kekuatan narasi budaya, dan daya tahan produk. Namun, kendala biaya logistik dan tarif bea masuk selama ini membuat harga produk RI di pasar AS tidak kompetitif.
“Dengan margin tarif ini, kita punya ruang untuk bermain di kualitas dan nilai tambah,” jelasnya.
Dia pun meminta Pemerintah untuk memfasilitasi pelaku industri dalam mengakses informasi, insentif ekspor, serta pertemuan bisnis dengan importir AS agar momentum tarif 19 persen ini tidak terlewatkan.
“Jangan sampai ini hanya jadi berita bagus tanpa follow-up konkret. Kami siap kalau dilibatkan dalam delegasi perdagangan,” kata Sapto.
Untunngkan ekspor
Rekomendasi juga buat kamu:
Sekretaris Jenderal BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira melihat kesepakatan tarif bea masuk produk Indonesia ke Amerika Serikat sebesar 19 persen di satu sisi menguntungkan ekspor.
“Namun disi lain tekanan dagang AS bisa menggerus daya saing ekspor nasional,” katanya, Rabu (16/7) merespon keputrusan tarif perdagangan timbal balik Indonesia-AS yang baru saja diumumkan Presiden AS Donald Trump.
Kecuali itu, ia menambahkan, tarif impor 0 persen untuk produk asal AS juga perlu dicermati secara kritis. “Kita tidak boleh melihat ini sekadar sebagai pengumuman teknis, tapi sebagai sinyal bahwa hubungan dagang kita sedang memasuki fase negosiasi yang tidak seimbang,” kata Anggawira.
Menurut dia, meskipun penetapan tarif 19 persen menjadi yang terendah di antara negara-negara Asia, dia menilai kesepakatan dagang tersebut tetap akan menimbulkan sejumlah dampak terhadap industri.
Donald Trump, Selasa (15/7) mengumumkan kesepakatan (deal) tarif perdagangan timbal balik dengan Pemerintah RI, dimana produk RI yang diekspor ke AS dikenakan tarif masuk 19 persen, sementara produk AS yang masuk ke Indonesia bebas dari tarif dan hambatan nontarif atau free.
Kendati oleh banyak kalangan dinilai tidak adil dan tidak fair, tetapi kenyataan itu harus diterima, karena para negosiator khususnya Presiden Prabowo Subianto sendiri sudah berupaya maksimal menurunkan besaran tarif dari semula terancam dikenakan 32 persen, kini berkurang menjadi 19 persen.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Jakarta, Rabu (16/7) menilai kesepakatan tarif dagang AS dengan RI itu akan berdampak positif terhadap pasar keuangan karena memberikan kepastian bagi pelaku pasar, baik dalam maupun luar negeri.
“Secara keseluruhan, kami juga berpandangan (kesepakatan tarif) akan berdampak positif terhadap ekspektasi pasar dan aliran modal asing jangka pendek ke Indonesia,” kata Perry.
Kesepakatam juga akan memperbaiki ekspektasi para pengusaha dan pelaku di sektor keuangan, seperti perbankan, dalam membuat keputusan-keputusan bisnis ke depan. Bank sentral kata Perry menyambut baik kesepakatan tarif yang diyakini akan berdampak positif terhadap prospek ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi, pasar keuangan, kebijakan moneter, dan nilai tukar rupiah ke depan.
“Secara keseluruhan kami memandang hasilnya ini akan positif,” katanya.
Otoritas moneter selanjutnya akan melakukan pendalaman secara rinci mengenai dampak kesepakatan tarif, tidak hanya terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan, melainkan juga terhadap neraca perdagangan. Kinerja ekspor Indonesia, termasuk ke AS, tambahnya akan tetap baik. Dia bahkan memperkirakan impor AS dari Indonesia akan meningkat.
Sedangkan, impor yang masuk ke Indonesia dari AS bersifat produktif dan diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan, baik melalui investasi maupun sektor-sektor lainnya.
Secara keseluruhan, jelas Perry, kesepakatan tarif akan mendukung prospek ekonomi nasional ke depan, khususnya di sektor perdagangan. “Secara rincinya, tentu saja pada waktunya kami akan menyampaikan hasil assessment (dampak kesepakatan tarif) secara rinci,” kata Perry.
Tidak Seimbang
Dari Surabaya, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, Rossanto Dwi Handoyo, mengatakan, diplomasi ekonomi Indonesia kalah jauh dan tidak seimbang dengan AS.
Sebab itu, produk ekspor Indonesia yang masih didominasi oleh komoditas berbasis sumber daya alam (SDA) dan tenaga kerja murah perlu segera ditransformasi.
“Pemerintah perlu mendorong penciptaan nilai tambah melalui inovasi dan teknologi. Kita harus mulai beralih ke produk-produk semi high-tech dan high-tech. Bukan lagi hanya mengandalkan barang mentah atau tenaga kerja murah,” kata Rossanto.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Tarif Bea Masuk 19 Persen ke AS Angin Segar bagi Eskportir Mebel dan Kerajinan .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!