Viral Dituding Takuti Mahasiswa yang Kritis, Leila S. Chudori Bongkar Awal Mula Proyek Laut Bercerita

Ket. Viral Dituding Takuti Mahasiswa yang Kritis, Leila S. Chudori Bongkar Awal Mula Proyek Laut Bercerita

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Film Laut Bercerita menjadi perbincangan hangat setelah muncul tudingan di media sosial yang menyebut karya tersebut sengaja dimanfaatkan untuk menakut-nakuti mahasiswa dan generasi muda yang kritis terhadap pemerintah.

Menanggapi polemik tersebut, penulis novel Laut Bercerita, Leila S. Chudori, akhirnya angkat bicara untuk meluruskan berbagai kabar yang beredar di tengah masyarakat.

Kehebohan bermula dari teori yang berkembang di kalangan warganet. Film yang mengangkat kisah penculikan aktivis pada masa akhir Orde Baru itu diduga sengaja dirilis sebagai bentuk fear mongering atau upaya menebarkan ketakutan.

Narasi yang beredar menyebut kehadiran film tersebut berpotensi membuat anak muda merasa takut, bahkan ragu untuk menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

Menanggapi tudingan itu, Leila menjelaskan bahwa proses kreatif Laut Bercerita telah berlangsung jauh sebelum situasi politik pada Oktober 2026 menjadi sorotan publik.

Novel Laut Bercerita pertama kali diterbitkan pada 2017, sedangkan rencana adaptasi film yang disutradarai Yosep Anggi Noen telah dimulai sejak 2019.

Dengan demikian, waktu penayangan film yang berdekatan dengan dinamika politik pada Oktober 2026 bukanlah sesuatu yang sengaja dirancang untuk memengaruhi gerakan mahasiswa.

Leila menegaskan bahwa proyek adaptasi tersebut telah dipersiapkan selama bertahun-tahun sebelumnya, sehingga tidak tepat jika dikaitkan dengan upaya menakut-nakuti generasi muda yang kritis terhadap pemerintah.

Film Laut Bercerita Angkat Kisah Kelam Penculikan Aktivis Era Orde Baru

Film Laut Bercerita resmi dirilis pada 29 Oktober 2026. Ceritanya berangkat dari sejarah kelam penculikan dan penghilangan paksa aktivis menjelang berakhirnya rezim Orde Baru pada era 1990-an.

Kisah dalam film ini berpusat pada sosok Biru Laut, yang diperankan Reza Rahadian. Ia merupakan seorang aktivis yang mengalami penghilangan paksa setelah terlibat dalam gerakan yang menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

Sementara itu, perjuangan untuk mencari keadilan digambarkan melalui karakter Asmara Jati, yang diperankan Yunita Siregar. Bersama keluarga, Asmara terus berupaya mencari keberadaan Biru Laut dan menanti kabar mengenai orang-orang tercinta yang hilang.

Leila mengingatkan bahwa esensi utama Laut Bercerita bukanlah untuk menebarkan ketakutan kepada generasi muda. Sebaliknya, karya tersebut hadir sebagai pengingat mengenai keluarga para korban penghilangan paksa yang hingga kini masih menantikan kepulangan orang-orang yang mereka cintai.

Respons Penonton terhadap Adaptasi Film Laut Bercerita Beragam

Di luar polemik yang berkembang di media sosial, film Laut Bercerita juga mendapatkan tanggapan beragam dari penonton.

Sejumlah penonton, terutama mereka yang sebelumnya telah membaca novel karya Leila S. Chudori tersebut, mengaku memiliki ekspektasi tinggi terhadap adaptasi layar lebarnya. Bahkan, sebagian di antaranya merasa kurang puas dengan hasil penggambaran cerita dalam film.

Namun, tidak sedikit pula penonton yang memberikan apresiasi terhadap penggambaran cerita, karakter, serta pesan yang disampaikan melalui film tersebut.

Perbedaan tanggapan ini menunjukkan bahwa adaptasi sebuah karya sastra ke layar lebar dapat menghadirkan pengalaman dan penilaian yang berbeda bagi setiap penonton.

Di tengah polemik yang berkembang, Leila menegaskan pentingnya memahami latar belakang dan proses panjang lahirnya Laut Bercerita, sekaligus mengingat kembali pesan kemanusiaan yang menjadi inti dari karya tersebut. 

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN