Sering Curhat ke Chatbot AI? Ini 5 Informasi yang Sebaiknya Kamu Simpan Sendiri

Ket. Sering Curhat ke Chatbot AI? Ini 5 Informasi yang Sebaiknya Kamu Simpan Sendiri

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Penggunaan ChatGPT dan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) lainnya, seperti Gemini dan Claude, kini semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari.

Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mencari ide, menyusun tulisan, merangkum informasi, hingga mendapatkan gambaran awal mengenai berbagai persoalan.

Mengutip HuffPost, survei Imagining the Digital Future Center dari Elon University pada 2025 menemukan bahwa 52 persen orang dewasa di Amerika Serikat telah menggunakan teknologi AI berbasis large language model (LLM).

Meski menawarkan kemudahan, pengguna tetap perlu berhati-hati dalam membagikan informasi. Pasalnya, percakapan dengan chatbot dapat disimpan atau diproses sesuai kebijakan privasi masing-masing layanan.

Lantas, informasi apa saja yang sebaiknya tidak dibagikan ke ChatGPT maupun chatbot AI lainnya? Berikut penjelasannya.

1. Informasi Identitas Pribadi

Nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon, nomor identitas, hingga informasi paspor merupakan data yang dapat digunakan untuk mengenali seseorang.

Jika jatuh ke tangan yang salah, informasi tersebut berisiko disalahgunakan untuk pencurian identitas, penipuan, hingga serangan phishing.

Misalnya, ketika meminta bantuan AI untuk memperbaiki CV, sebaiknya hapus informasi yang tidak diperlukan, seperti alamat lengkap dan nomor identitas. Dengan begitu, kamu tetap bisa memperoleh bantuan tanpa harus membagikan terlalu banyak data pribadi.

2. Cerita Intim tentang Kehidupan Pribadi

Chatbot AI memungkinkan pengguna membicarakan berbagai persoalan, mulai dari konflik pertemanan hingga masalah hubungan asmara. Respons yang terasa personal terkadang membuat seseorang lebih nyaman untuk bercerita.

Namun, informasi mengenai kondisi emosional dan hubungan pribadi berisiko disalahgunakan apabila tersebar.

Karena itu, hindari menyertakan nama lengkap, tempat kerja, atau identitas orang lain ketika menceritakan masalah pribadi kepada AI. Untuk persoalan emosional yang kompleks, berkonsultasi dengan psikolog tetap menjadi pilihan yang lebih tepat.

3. Data dan Riwayat Kesehatan

Chatbot AI dapat membantu menjelaskan istilah medis atau menyusun daftar pertanyaan sebelum berkonsultasi dengan dokter.

Meski demikian, hindari membagikan rekam medis, hasil laboratorium, riwayat penyakit, hingga daftar obat secara sembarangan karena seluruh informasi tersebut termasuk data sensitif.

Jika ingin meminta bantuan AI untuk menjelaskan hasil pemeriksaan, hapus terlebih dahulu nama, tanggal lahir, nomor rekam medis, dan informasi lain yang dapat mengungkap identitas.

Gunakan AI sebatas untuk memperoleh pemahaman awal. Sementara itu, diagnosis dan keputusan pengobatan tetap harus dikonsultasikan dengan dokter.

4. Informasi Rahasia Pekerjaan dan Perusahaan

AI memang bisa membantu menyusun presentasi, mencari ide konten, hingga merapikan tulisan. Namun, pengguna sebaiknya tidak memasukkan dokumen internal, data klien, kode sumber, maupun laporan keuangan yang bersifat rahasia.

Tindakan tersebut berisiko menyebabkan kebocoran data hingga pelanggaran perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA).

Sebagai alternatif, gunakan data simulasi atau informasi yang telah disamarkan. Jika perusahaan menyediakan chatbot AI khusus untuk pekerjaan, pastikan terlebih dahulu kebijakan penggunaannya sebelum memasukkan informasi internal.

5. Informasi Keuangan dan Data Perbankan

Nomor rekening, PIN, kata sandi, nomor kartu kredit, slip gaji, hingga dokumen pajak merupakan informasi yang harus dijaga kerahasiaannya.

Apabila bocor, data tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan penipuan, mengambil alih akun, hingga menjalankan serangan rekayasa sosial atau social engineering.

Meski begitu, pengguna tetap bisa meminta bantuan AI untuk menyusun anggaran atau memahami pilihan investasi dengan menggunakan angka perkiraan.

Misalnya, masukkan nominal pengeluaran berdasarkan kategori tanpa perlu mengunggah rekening koran yang memuat informasi rekening dan riwayat transaksi.

Sudah Terlanjur Membagikan Informasi Pribadi ke AI? Ini yang Bisa Kamu Lakukan

Jika pernah membagikan informasi sensitif kepada chatbot AI, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penyalahgunaan data.

  • Hapus percakapan sensitif. Periksa riwayat obrolan dan hapus percakapan yang memuat data pribadi. Namun, perlu diketahui bahwa penghapusan tidak menjamin seluruh salinan data langsung hilang dari semua sistem.
  • Periksa pengaturan privasi. Sesuaikan opsi penggunaan percakapan untuk pelatihan model, riwayat obrolan, serta fitur memori yang tersedia pada layanan AI.
  • Amankan akun. Segera ganti kata sandi atau PIN yang terlanjur dibagikan. Aktifkan autentikasi multifaktor dan pantau aktivitas akun untuk mendeteksi kemungkinan penyalahgunaan.
  • Samarkan informasi dalam prompt. Gunakan nama samaran dan hilangkan detail yang berpotensi mengungkap identitas seseorang sebelum mengirimkan pesan kepada chatbot AI.

Pada akhirnya, ChatGPT dan chatbot AI lainnya dapat membantu mempermudah berbagai aktivitas sehari-hari. Namun, kemudahan tersebut tetap perlu diimbangi dengan kesadaran menjaga privasi.

Dengan membatasi informasi yang dibagikan dan memahami pengaturan privasi setiap layanan, pengguna dapat memanfaatkan teknologi AI secara lebih bijak sekaligus menjaga keamanan data pribadi.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN