Ingin Punya Anak, Siapkah Mental dan Tanggung Jawab Jadi Orang Tua?
Kamis, 05 Nov 2026, 07:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Memiliki anak sering kali menjadi impian banyak pasangan setelah menikah. Tidak sedikit yang menganggap kehadiran buah hati sebagai pelengkap kebahagiaan rumah tangga.
Namun, di balik keinginan tersebut, ada tanggung jawab besar yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, menjadi orang tua bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan finansial, tetapi juga memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendapatkan pengasuhan layak.
Dua peristiwa yang terjadi pada Oktober 2026 menjadi pengingat keselamatan anak sangat bergantung pada keputusan orang dewasa. Kasus pertama terjadi di kawasan Gunung Prau, Jawa Tengah. Seorang anak ditemukan menangis sendirian di dalam tenda ketika kedua orang tuanya melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung.
Sebelum meninggalkan tenda, orang tua anak tersebut mengaku telah menitipkan buah hatinya kepada teman yang berada di tenda sebelah. Namun, orang yang dipercaya untuk mengawasi anak itu ternyata tertidur sehingga tidak mengetahui bahwa anak tersebut menangis. Beruntung, pendaki lain akhirnya menemukan dan membantu anak tersebut.
Peristiwa lain terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang anak berusia tiga tahun meninggal dunia setelah terjatuh dari balkon lantai lima sebuah hotel. Saat kejadian berlangsung, kedua orang tuanya sedang sarapan tanpa membawa anak mereka.
Kedua kejadian tersebut memang memiliki latar belakang dan akibat berbeda. Namun, ada satu persoalan yang patut menjadi perhatian bersama, yakni pentingnya tanggung jawab orang tua dalam memastikan keselamatan anak.
Kejadian tersebut juga memunculkan pertanyaan yang cukup mendasar, apakah setiap orang yang ingin mempunyai anak benar-benar sudah siap menjalankan peran sebagai orang tua?
Kesiapan Menjadi Orang Tua Bukan Cuma Soal Finansial
Selama ini, kesiapan memiliki anak sering dikaitkan dengan kondisi ekonomi. Pasangan dianggap sudah siap menjadi orang tua apabila memiliki pekerjaan tetap, penghasilan cukup, rumah layak, serta mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari anak.
Padahal, kesiapan finansial hanyalah salah satu bagian dari tanggung jawab pengasuhan. Ada aspek lain yang tidak kalah penting, seperti kesiapan mental, kemampuan mengendalikan emosi, kesadaran terhadap risiko, hingga kesediaan meluangkan waktu untuk anak.
Anak kecil, khususnya yang berusia di bawah lima tahun, belum mempunyai kemampuan berpikir dan mengambil keputusan seperti orang dewasa. Mereka belum sepenuhnya memahami bahaya kendaraan, balkon, tangga, tempat tinggi, maupun lingkungan asing.
Karena itu, pengawasan orang dewasa menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan mereka.
Dalam penelitian berjudul Supervision and Risk of Unintentional Injury in Young Children (2015), Schnitzer, Dowd, Kruse, dan Morrongiello membahas hubungan antara pengawasan orang dewasa dan risiko cedera tidak disengaja pada anak kecil.
Pengawasan bukan sekadar berada di dekat anak secara fisik. Orang dewasa juga harus memberikan perhatian penuh, mengenali potensi bahaya, serta memastikan lingkungan di sekitar anak tetap aman.
Hal serupa juga menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam lembar fakta Injuries and Violence yang diterbitkan pada 19 Juni 2024, WHO menekankan pentingnya upaya pencegahan cedera dan kekerasan sebagai bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat.
Artinya, keselamatan anak tidak boleh hanya mengandalkan keberuntungan. Orang tua perlu melakukan berbagai langkah antisipasi sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Bahkan, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak turut memasukkan penelantaran sebagai salah satu bentuk kekerasan terhadap anak. Meski penilaian terhadap setiap kejadian harus mempertimbangkan fakta dan ketentuan hukum yang berlaku, aturan tersebut memperlihatkan betapa pentingnya perlindungan terhadap anak.
Mengapa Ibu Selalu Lebih Sering Disalahkan Saat Anak Celaka?
Selain persoalan keselamatan, dua peristiwa tersebut juga mengingatkan kita pada ketimpangan pembagian tanggung jawab pengasuhan dalam keluarga.
Ketika terjadi sesuatu pada anak, ibu sering kali menjadi sosok pertama yang mendapat sorotan. Mereka dianggap kurang mengawasi, tidak cukup perhatian, atau gagal menjalankan peran sebagai pengasuh utama.
Sebaliknya, keterlibatan ayah dalam mengurus anak terkadang masih dianggap sebagai bentuk bantuan kepada istri. Padahal, ayah bukan sekadar pendamping ibu dalam membesarkan anak. Keduanya memiliki tanggung jawab yang sama.
Sosiolog Sharon Hays melalui bukunya The Cultural Contradictions of Motherhood (1996) memperkenalkan konsep intensive mothering. Konsep ini menjelaskan bagaimana masyarakat membentuk standar bahwa seorang ibu harus memberikan perhatian, waktu, tenaga, dan pengorbanan secara maksimal untuk anaknya.
Akibatnya, perempuan sering kali dibebani ekspektasi untuk selalu mengetahui kebutuhan anak, memastikan kesehatannya, mengatur jadwal, hingga mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin terjadi.
Sementara itu, ayah yang mengganti popok, menyiapkan makanan, atau menemani anak bermain masih sering mendapatkan pujian karena dianggap sedang membantu pekerjaan ibu.
Padahal, pengasuhan bukan pekerjaan domestik yang menjadi tanggung jawab perempuan dan sesekali dibantu laki-laki.
Penelitian Craig dan Mullan (2011) berjudul How Mothers and Fathers Share Childcare: A Cross-National Time-Use Comparison juga membahas bagaimana ibu dan ayah membagi waktu untuk mengasuh anak di sejumlah negara.
Penelitian tersebut menjadi pengingat bahwa kesetaraan pengasuhan perlu dilihat dari praktik sehari-hari, termasuk bagaimana kedua orang tua membagi waktu dan tanggung jawab.
Ketika seluruh urusan anak dibebankan kepada ibu, bukan tidak mungkin muncul kelelahan fisik maupun mental. Sebaliknya, keterlibatan ayah yang setara dapat membantu memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi.
Karena itu, ketika membicarakan kesiapan menjadi orang tua, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah seorang ibu siap mengasuh anak, tetapi juga apakah seorang ayah bersedia menjalankan tanggung jawab yang sama.
Sebelum Punya Anak, Sudah Siap Mengorbankan Ego?
Tidak ada orang tua yang sempurna. Setiap pasangan tentu memiliki keterbatasan, kepentingan pribadi, dan kehidupan di luar urusan membesarkan anak.
Menjadi orang tua juga bukan berarti seseorang harus berhenti menikmati hidupnya sendiri. Ayah dan ibu tetap berhak berlibur, bekerja, melakukan hobi, hingga meluangkan waktu untuk beristirahat.
Namun, ada hal yang harus dipahami: setiap keputusan perlu mempertimbangkan kebutuhan dan keselamatan anak.
Ingin mendaki gunung bukan sesuatu yang salah. Begitu pula menikmati sarapan di hotel atau melakukan aktivitas tanpa membawa anak. Namun, orang tua harus memastikan terlebih dahulu bahwa anak berada dalam pengawasan orang yang benar-benar dapat dipercaya.
Menitipkan anak kepada keluarga, teman, atau pengasuh juga bukan keputusan yang keliru. Akan tetapi, orang tua perlu memastikan orang yang menerima tanggung jawab tersebut bersedia, mampu, dan memahami kebutuhan anak.
Jika kondisi belum memungkinkan, menunda aktivitas pribadi tentu menjadi pilihan yang lebih bijak daripada mengambil risiko terhadap keselamatan buah hati.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menghindari perundungan terhadap keluarga yang mengalami peristiwa tersebut. Kritik terhadap keputusan pengasuhan perlu disampaikan secara proporsional tanpa menyebarkan identitas atau gambar anak yang justru dapat memperburuk kerentanannya.
Jadi, Sudahkah Kita Siap Menjadi Orang Tua?
Kesiapan menjadi orang tua tidak berhenti pada kemampuan membeli susu, menyediakan pakaian, membayar biaya sekolah, atau menyiapkan kamar anak.
Lebih dari itu, ada kesiapan untuk memahami bahwa anak merupakan individu yang masih bergantung pada orang dewasa. Mereka membutuhkan perlindungan, perhatian, pendampingan, dan lingkungan yang aman untuk tumbuh.
Kesiapan tersebut juga berarti bersedia terus belajar. Orang tua perlu mengevaluasi pola pengasuhan, memahami perkembangan anak, mengenali potensi bahaya, serta membangun komunikasi yang baik dengan pasangan.
Tidak kalah penting, tanggung jawab tersebut harus dijalankan bersama. Jangan sampai salah satu pihak merasa seluruh urusan anak merupakan kewajibannya, sementara pihak lain hanya terlibat ketika diminta.
Pada akhirnya, memiliki anak memang bisa menjadi salah satu impian dalam kehidupan rumah tangga. Namun, menghadirkan seorang manusia ke dunia bukan keputusan yang bisa dipandang sebagai sekadar tahapan setelah menikah.
Anak tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan orang dewasa. Karena itu, sudah semestinya tanggung jawab untuk merawat, melindungi, dan memenuhi kebutuhannya dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Sebab, ingin punya anak adalah keinginan, tetapi menjadi orang tua adalah komitmen seumur hidup.
- Orang Tua
- Tanggung Jawab Orang Tua
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.