JAKARTA, KUCANTIK.COM - Amanda Manopo menjadi sorotan setelah konten video yang dibuat untuk sang buah hati ramai diperbincangkan di media sosial. Kali ini, perhatian netizen tertuju pada tampilan visual dalam video tersebut yang dinilai kurang sesuai untuk bayi, mulai dari latar belakang yang ramai hingga pergantian gambar yang dianggap terlalu cepat.
Perbincangan ini mencuat setelah seorang netizen mengaku menonton podcast yang membahas artis yang baru melahirkan dan membuat kanal YouTube untuk anaknya. Konten tersebut disebut memiliki konsep serupa dengan video edukasi anak yang populer, seperti Ms. Rachel dan Kinderflix.
Namun, setelah melihat beberapa video, netizen itu justru mempertanyakan pemilihan visual yang digunakan. Menurutnya, latar belakang yang terlalu ramai dan perubahan tampilan yang cepat berpotensi membuat bayi menerima terlalu banyak rangsangan sekaligus.
“Abis liat podcast, ada artis yang baru lahiran bikin channel YouTube macem Ms. Rachel dan Kinderflix, buat anaknya ceunah. Tapi nonton beberapa kontennya kok kayak malah bisa bikin bayi overstimulate? Tadi nonton video nyanyi-nyanyinya, pergantian background-nya cepet banget, terlalu rame juga background-nya, dan lainnya,” tulis netizen tersebut.
Ia juga mempertanyakan apakah pembuatan konten untuk bayi sebaiknya melibatkan orang yang memahami pendidikan anak usia dini. Menurutnya, video untuk anak kecil bukan sekadar menghadirkan lagu-lagu ceria dan visual menarik, tetapi juga perlu mempertimbangkan tahap perkembangan anak.
“Harusnya dia hire orang yang ngerti nggak sih? Karena Ms. Rachel aja punya master degree di early childhood education, kan, kayak nggak sembarangan,” lanjutnya.
Warna Mencolok Ikut Jadi Sorotan
Bukan hanya pergantian latar belakang yang cepat, pemilihan warna dalam video tersebut juga menjadi bahan komentar. Netizen lain menilai warna yang terlalu mencolok perlu dipertimbangkan ketika konten ditujukan untuk bayi yang masih berusia sekitar lima bulan.
“Pendidikannya kureng kalau dia jadi nggak tahu mana yang baik buat anak bayi. Harusnya bayi lima bulanan nggak berwarna ngejreng gitu,” tulis netizen lainnya.
Komentar tersebut memperlihatkan bahwa perhatian publik bukan hanya tertuju pada sosok Amanda Manopo sebagai ibu baru, tetapi juga pada bagaimana konten digital untuk bayi sebaiknya dibuat. Meski demikian, penilaian mengenai warna dan tampilan video tersebut masih berupa pendapat netizen, bukan hasil evaluasi dari tenaga ahli perkembangan anak.
Benarkah Video Ramai Bisa Membuat Bayi Overstimulasi?
Istilah overstimulasi digunakan ketika seseorang menerima rangsangan yang terasa berlebihan. Pada bayi, respons terhadap rangsangan dapat berbeda-beda, bergantung pada usia, kondisi, dan situasi yang dihadapi. Namun, tampilan yang ramai atau warna mencolok saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa suatu video pasti menyebabkan overstimulasi.
Karena itu, penilaian terhadap konten Amanda Manopo perlu dibedakan dari kesimpulan medis. Tanpa pemeriksaan langsung dan penilaian ahli, belum dapat dipastikan bahwa video tersebut berdampak buruk terhadap perkembangan sang buah hati.
Di sisi lain, orang tua memang perlu cermat memilih tontonan untuk bayi. Rekomendasi kesehatan anak secara umum menekankan bahwa bayi belajar terutama melalui interaksi langsung, seperti berbicara, bernyanyi, bermain, dan merespons orang di sekitarnya.
American Academy of Pediatrics juga merekomendasikan agar penggunaan media layar pada anak di bawah usia 18 bulan dihindari, kecuali untuk panggilan video, dengan mempertimbangkan kebutuhan perkembangan anak.
Hingga perbincangan ini berkembang, kritik yang beredar masih berangkat dari pengamatan dan opini pengguna media sosial. Sorotan terhadap video Amanda Manopo pun menjadi pengingat bahwa konten yang dibuat khusus untuk anak perlu mempertimbangkan bukan hanya daya tarik visual, tetapi juga usia dan kebutuhan perkembangan penontonnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Video Amanda Manopo untuk Bayi Tuai Kritik, Bisa Picu Overstimulasi! .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!