Demo Sumpah Pemuda Memanas! Mahasiswa Acungkan Simbol 3 Jari The Hunger Games, Tembus Barikade Aparat di Bundaran HI
Rabu, 28 Okt 2026, 17:35 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM â Simbol tiga jari yang identik dengan perlawanan dalam The Hunger Games kembali mencuri perhatian di tengah aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil di Jakarta. Pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, simbol tersebut menjadi bagian dari pesan perlawanan yang dibawa mahasiswa saat menggelar aksi bertema âTepati atau Pergiâ.
Aksi berlangsung di sejumlah titik di Jakarta. Situasi menjadi sorotan setelah sebagian massa berhasil menembus penjagaan aparat dan menggelar demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Di pinggir kolam Bundaran HI, massa membentangkan sejumlah spanduk, termasuk bertuliskan âAll Eyes on Karhutlaâ dan âPrabowo-Gibran Gagal Totalâ. Sementara itu, sebagian peserta lainnya masih tertahan di depan Gedung UOB karena diadang aparat kepolisian dan personel TNI AD.
Sejumlah demonstran sempat berusaha menerobos barikade, tetapi dikejar aparat. Akibat situasi tersebut, arus lalu lintas Jalan Sudirman menuju Bundaran HI dan Jalan MH Thamrin ditutup.
Namun, perhatian terhadap aksi ini bukan hanya tertuju pada ketegangan di lapangan. Penggunaan simbol tiga jari dari The Hunger Games juga membawa pesan tersendiri tentang solidaritas, kebebasan, dan perlawanan terhadap kekuasaan.
Simbol Tiga Jari The Hunger Games Jadi Bahasa Perlawanan

Dok. Istimewa
Dalam semesta The Hunger Games, tiga jari yang diacungkan menjadi simbol penghormatan, solidaritas, dan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter. Simbol tersebut melekat pada kisah perjuangan masyarakat menghadapi Capitol, pusat kekuasaan yang menindas distrik-distrik di bawah kendalinya.
Dalam perkembangannya di dunia nyata, gestur tiga jari juga pernah digunakan oleh berbagai gerakan sosial dan prodemokrasi di sejumlah negara. Simbol ini dinilai mudah dikenali, sederhana, dan mampu menyampaikan pesan politik tanpa harus menggunakan banyak kata.
Dalam aksi 28 Oktober 2026, BEM Universitas Indonesia menyebut three-finger salute telah berkembang menjadi instrumen perlawanan yang melampaui batas fiksi. Mereka mengaitkan penggunaannya dengan gerakan sosial di Thailand, Myanmar, dan Hong Kong.
Bagi mahasiswa yang menggunakannya, simbol tersebut menjadi cara untuk menyatukan identitas gerakan sekaligus menyuarakan tuntutan mengenai demokrasi dan kebebasan sipil.
BEM UI juga menghubungkan simbol itu dengan nilai liberté, égalité, dan fraternitéâkebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Ketiga nilai tersebut dipandang sejalan dengan semangat memperjuangkan ruang demokrasi yang lebih terbuka.
Meski demikian, penggunaan simbol tiga jari tidak otomatis berarti seluruh peserta aksi memiliki pandangan atau tujuan politik yang sama. Maknanya perlu dipahami berdasarkan konteks gerakan dan tuntutan yang mereka sampaikan.
âTepati atau Pergiâ, Pesan Tegas untuk Pemerintah

Dok. Istimewa
Simbol tiga jari tersebut hadir dalam aksi yang diinisiasi Komite Sadar, kelompok yang melibatkan organisasi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, termasuk BEM UI, BEM UPN Veteran Yogyakarta, Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, BEM Universitas Diponegoro, Serikat Mahasiswa UGM, Keluarga Mahasiswa ITB, dan BEM KM Universitas Negeri Semarang.
BEM UI menyebut demonstrasi ini sebagai kelanjutan aksi di Tugu Tani pada 20 Oktober 2026, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Melalui tema âTepati atau Pergiâ, Komite Sadar menyampaikan desakan agar pemerintah menindaklanjuti persoalan yang dianggap meresahkan masyarakat. Simbol tiga jari pun menjadi bagian dari kampanye gerakan, baik di jalanan maupun di ruang digital.
Peserta aksi, Rian, mengatakan mahasiswa turun ke jalan bukan untuk membuat kerusuhan, melainkan untuk menyampaikan kegelisahan dan meminta suara mereka didengar. Sementara itu, Aqil menyoroti mahalnya pendidikan, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Lima Tuntutan yang Dibawa Mahasiswa
Komite Sadar membawa lima tuntutan utama, yaitu penanganan bencana ekologis di berbagai daerah, evaluasi penggunaan APBN, penurunan biaya pendidikan, pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta pemulihan kebebasan berpendapat dan penghentian militerisasi ruang sipil.
Mereka juga meminta pemerintah mengevaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), memperbaiki pelayanan dasar, serta menindak pihak yang dinilai bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan pelanggaran HAM.
Tuntutan tersebut menjadi latar penting untuk memahami mengapa simbol perlawanan dari budaya populer seperti The Hunger Games digunakan dalam aksi. Simbol itu tidak berdiri sendiri, melainkan hadir bersama kritik dan tuntutan yang ingin disampaikan para demonstran.
Pengamanan Ketat di Tengah Aksi
Di sisi lain, sebanyak 14.324 personel gabungan TNI-Polri dan instansi terkait disiagakan untuk mengamankan berbagai kegiatan di Jakarta. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyebut terdapat 77 kegiatan pada hari itu, terdiri atas 53 aksi penyampaian aspirasi dan 24 kegiatan masyarakat lainnya.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Syahganda Nainggolan, menyatakan pemerintah terbuka terhadap masukan masyarakat dan menilai interaksi tersebut sebagai ruang positif yang perlu dijaga bersama.
Aksi Hari Sumpah Pemuda ini memperlihatkan bagaimana simbol dari karya fiksi dapat memperoleh makna baru ketika digunakan dalam gerakan sosial. Tiga jari The Hunger Games menjadi penanda solidaritas bagi sebagian peserta, sementara tuntutan yang dibawa Komite Sadar menunjukkan persoalan konkret yang ingin mereka suarakan kepada pemerintah.
- demo
- The Hunger Games
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.