Kronologi Tuduhan Soobin TXT Gay, Deepfake atau Revenge Porn?

Senin, 26 Okt 2026, 12:30 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Soobin TXT menjadi sorotan setelah rumor yang mengaitkannya dengan aplikasi kencan sesama jenis atau gay yang ramai beredar di media sosial pada Oktober 2026. Kontroversi semakin memanas setelah sejumlah foto intim yang diklaim menampilkan sang idol bersama seorang pria ikut tersebar di internet.

Beredarnya materi tersebut memicu perdebatan di kalangan penggemar. Sebagian mempertanyakan keaslian foto dan menduga adanya manipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI deepfake. Di sisi lain, muncul pula pertanyaan apakah penyebaran materi tersebut dapat dikategorikan sebagai revenge porn atau penyebaran konten intim tanpa persetujuan.

Pihak agensi, BIGHIT MUSIC, disebut telah membantah tuduhan yang beredar dan mengambil langkah hukum. Lantas, bagaimana kronologi kasus yang menyeret nama Soobin TXT ini?

19 Oktober 2026: Rumor Soobin TXT Mulai Menyebar di Weibo

Berdasarkan kronologi yang beredar, kontroversi bermula pada 19 Oktober 2026 ketika sebuah unggahan di platform media sosial Tiongkok, Weibo, menyebarkan klaim bahwa Soobin menggunakan aplikasi kencan sesama jenis untuk menjalin hubungan kasual.

Rumor tersebut kemudian ramai diperbincangkan warganet. Situasi semakin memanas setelah foto-foto intim yang diklaim memperlihatkan Soobin bersama seorang pria ikut beredar untuk mendukung tuduhan tersebut.

Namun, klaim yang viral di media sosial tidak otomatis membuktikan kebenaran suatu tuduhan. Keaslian foto, identitas orang di dalamnya, serta konteks materi yang disebarkan perlu diverifikasi secara independen sebelum dapat dianggap sebagai fakta.

Isu ini pun memicu kekhawatiran penggemar karena menyangkut privasi dan reputasi Soobin sebagai anggota grup K-pop TXT.

20 Oktober 2026: MOA Temukan Sejumlah Kejanggalan

Ket. Foto: Soobin TXT. — Sumber: Weverse

Pada 20 Oktober 2026, para penggemar TXT yang dikenal sebagai MOA mulai menelusuri kejanggalan dalam foto-foto yang beredar. Mereka membandingkan sejumlah detail visual dengan informasi yang diketahui mengenai penampilan Soobin.

Beberapa hal yang dipertanyakan meliputi posisi tahi lalat pada lengan, warna rambut yang dinilai tidak sesuai dengan jadwal aktivitas terbaru sang idol, hingga bentuk colokan listrik di latar belakang foto.

Temuan tersebut memunculkan dugaan bahwa gambar-gambar itu telah dimanipulasi menggunakan teknologi AI deepfake. Teknologi ini memungkinkan gambar atau video dibuat sedemikian rupa sehingga tampak memperlihatkan seseorang melakukan atau mengalami sesuatu yang sebenarnya belum tentu pernah terjadi.

Meski begitu, kejanggalan visual yang ditemukan warganet belum cukup untuk memastikan bahwa foto tersebut merupakan hasil rekayasa AI. Pemeriksaan teknis diperlukan untuk mengetahui keaslian dan asal-usul materi yang beredar.

Di tengah kontroversi tersebut, komunitas penggemar global disebut melakukan aksi pengiriman email massal kepada HYBE dan BIGHIT MUSIC. Mereka mendesak agensi agar segera merespons rumor yang dinilai merugikan sang idol.

21 Oktober 2026: Influencer Tiongkok Ikut Disorot

Kontroversi semakin meluas setelah seorang livestreamer atau influencer asal Tiongkok bernama Jeremy Yang disebut membahas rumor tersebut dalam siaran langsung.

Ia dikabarkan memperlihatkan tangkapan layar percakapan dan potongan video yang diklaim berkaitan dengan hubungan pribadinya dengan Soobin. Materi itu kemudian ikut menjadi bahan pembicaraan warganet.

Namun, keaslian percakapan dan video tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan klaim yang disampaikan dalam siaran langsung. Informasi mengenai hubungan pribadi seseorang juga tidak seharusnya diperlakukan sebagai fakta tanpa bukti yang dapat diverifikasi.

Peredaran materi yang belum terkonfirmasi membuat rumor semakin sulit dikendalikan. Dalam situasi seperti ini, unggahan yang diambil di luar konteks atau konten yang dimanipulasi dapat memperbesar kesalahpahaman dan berpotensi merugikan pihak yang dituduh.

22 Oktober 2026: BIGHIT MUSIC Disebut Tempuh Jalur Hukum

Respons agensi menjadi salah satu perkembangan penting dalam kronologi kasus ini. Pada 22 Oktober 2026, BIGHIT MUSIC disebut mengeluarkan pernyataan melalui Weverse untuk membantah informasi yang beredar.

Agensi menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar dan tidak berdasar. Mereka juga menyoroti penyebaran materi yang diduga direkayasa serta potensi pelanggaran privasi dan pencemaran nama baik.

BIGHIT MUSIC dikabarkan telah mengumpulkan bukti dari berbagai platform domestik maupun internasional untuk menindak pihak-pihak yang diduga menyebarkan informasi palsu. Agensi juga menegaskan keseriusannya dalam mengambil langkah hukum.

Meski demikian, perkembangan tersebut perlu dibaca berdasarkan pernyataan resmi yang dapat diverifikasi. Hasil pemeriksaan terhadap materi yang beredar maupun proses hukum selanjutnya tidak bisa disimpulkan sebelum ada informasi yang jelas.

Deepfake atau Revenge Porn, Apa Bedanya?

Dua istilah ini kerap muncul ketika sebuah kasus melibatkan dugaan penyebaran foto atau video intim. Namun, deepfake dan revenge porn memiliki pengertian yang berbeda.

Deepfake merupakan konten gambar, suara, atau video yang dimanipulasi menggunakan teknologi AI untuk meniru seseorang. Teknologi ini dapat disalahgunakan untuk membuat materi palsu yang seolah-olah memperlihatkan seseorang dalam situasi tertentu.

Sementara itu, revenge porn umumnya merujuk pada penyebaran konten intim seseorang tanpa persetujuannya, sering kali dengan motif balas dendam. Namun, penyebaran konten intim tanpa izin tidak selalu bermotif balas dendam. Karena itu, istilah penyebaran konten intim tanpa persetujuan dapat lebih tepat apabila motif pelaku belum diketahui.

Dalam kasus yang menyeret Soobin, dugaan manipulasi AI dan penyebaran foto intim perlu diperiksa sebagai dua persoalan yang berbeda. Jika gambar terbukti merupakan hasil rekayasa, aspek manipulasi digital menjadi perhatian. Jika materi intim seseorang disebarkan tanpa persetujuan, persoalan privasi dan penyebaran konten intim juga perlu ditelaah.

Hingga bukti yang dapat diverifikasi tersedia, belum tepat untuk memastikan bahwa materi yang beredar merupakan deepfake atau mengategorikan kasus tersebut sebagai revenge porn.

Kasus Soobin TXT Jadi Pengingat Bahaya Rumor Digital

Kasus ini kembali menyoroti risiko penyalahgunaan teknologi AI dan penyebaran rumor di media sosial. Konten yang terlihat meyakinkan belum tentu autentik, sedangkan unggahan yang viral tidak otomatis membuktikan kebenaran sebuah tuduhan.

Pengguna media sosial perlu berhati-hati sebelum membagikan foto intim, tangkapan layar percakapan, atau video yang belum jelas sumbernya. Menyebarkan ulang materi semacam itu dapat memperluas pelanggaran privasi dan memperburuk dampak terhadap orang yang menjadi sasaran.

Orientasi seksual seseorang juga tidak seharusnya dijadikan bahan spekulasi atau serangan. Fokus utama dalam persoalan ini adalah kebenaran informasi, keaslian materi yang beredar, serta dugaan pelanggaran privasi dan reputasi.

Perhatian kini tertuju pada klarifikasi yang dapat diverifikasi dan perkembangan penanganan kasus oleh pihak terkait. Sampai ada bukti yang memadai, rumor mengenai Soobin TXT sebaiknya tidak diperlakukan sebagai fakta.

  • deepfake
  • Soobin TXT

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.