Wanita di Atas 40 Tahun Wajib Tahu! Bukan Cuma Lemak Perut, Kehilangan Otot Bisa Ancam Kekuatan Tubuh

Ket. Potret wanita di atas 40 tahun.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Memasuki usia 40 tahun, banyak wanita mulai lebih memperhatikan berat badan, bentuk perut, dan perubahan penampilan. Tak sedikit yang memilih rutin melakukan kardio demi membakar lemak dan menjaga tubuh tetap ideal. Namun, ada satu hal penting yang kerap luput dari perhatian, yaitu kehilangan massa dan kekuatan otot.

Melalui akun Instagram @doktemenin, dibagikan informasi kesehatan wanita di atas 40 tahun bukan hanya soal lemak perut. Menjaga otot juga menjadi bagian penting agar tubuh tetap kuat, aktif, dan mandiri seiring bertambahnya usia.

Pasalnya, otot tidak hanya berfungsi membentuk tubuh. Otot membantu seseorang melakukan aktivitas sehari-hari, mulai dari membawa belanjaan, menaiki tangga, hingga bangkit dari lantai tanpa kesulitan.

Massa Otot Bisa Berkurang Seiring Bertambahnya Usia

Massa otot dapat mengalami penurunan seiring bertambahnya usia, bahkan prosesnya bisa dimulai sejak usia 30-an. Pada sebagian orang, penurunan massa dan kekuatan otot menjadi lebih nyata ketika memasuki usia lanjut.

Kondisi kehilangan massa otot yang berkaitan dengan usia dikenal sebagai sarkopenia. Kondisi ini tidak selalu ditandai dengan tubuh yang terlihat kurus atau kecil. Seseorang dengan ukuran tubuh yang tampak normal pun bisa mengalami penurunan kekuatan otot.

Beberapa perubahan yang patut diperhatikan antara lain genggaman tangan terasa melemah, aktivitas naik tangga menjadi lebih berat, atau kemampuan melakukan kegiatan fisik menurun dibandingkan sebelumnya.

Meski demikian, lengan yang tampak kendur, perut lebih lunak, atau perubahan bentuk bokong tidak otomatis menandakan sarkopenia. Penilaian fungsi dan massa otot diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

Mengapa Wanita di Atas 40 Perlu Menjaga Otot?

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan otot pada wanita adalah perubahan hormon selama perimenopause dan menopause. Perubahan kadar estrogen dapat berkaitan dengan perubahan komposisi tubuh, kekuatan otot, dan kesehatan tulang.

Namun, kondisi setiap wanita berbeda. Penurunan kekuatan otot tidak hanya dipengaruhi hormon, tetapi juga aktivitas fisik, asupan nutrisi, kualitas tidur, kondisi kesehatan, dan kebiasaan sehari-hari.

Karena itu, menjaga otot sebaiknya tidak hanya berfokus pada penampilan. Kekuatan otot turut mendukung mobilitas dan kemampuan menjalani aktivitas secara mandiri ketika usia semakin bertambah.

Kardio Saja Belum Cukup, Latihan Beban Juga Penting

Kardio seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang tetap memiliki manfaat bagi kesehatan jantung dan kebugaran tubuh. Namun, latihan kardio sebaiknya dilengkapi dengan latihan kekuatan agar otot mendapatkan rangsangan yang memadai.

Wanita tidak perlu langsung mengangkat beban berat. Latihan dapat dimulai dari tingkat yang sesuai kemampuan, seperti squat dengan bantuan kursi, wall push-up, latihan menggunakan resistance band, atau mengangkat dumbel ringan.

Seiring tubuh beradaptasi, intensitas latihan bisa ditingkatkan secara bertahap dengan tetap memperhatikan teknik dan kondisi fisik.

Latihan kekuatan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu mempertahankan atau meningkatkan kekuatan otot, mendukung fungsi tubuh, dan memperbaiki komposisi tubuh. Ketakutan menjadi terlalu berotot seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghindari latihan beban.

Protein dan Tidur Juga Berperan Penting

Selain olahraga, kecukupan protein diperlukan untuk mendukung pemeliharaan dan perbaikan jaringan otot. Sumber protein dapat diperoleh dari telur, ikan, ayam, susu, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.

Kebutuhan protein setiap orang berbeda, tergantung berat badan, aktivitas, usia, dan kondisi kesehatan. Wanita dengan penyakit tertentu, terutama gangguan ginjal, sebaiknya mendiskusikan kebutuhan proteinnya dengan tenaga kesehatan.

Tidur yang cukup juga mendukung pemulihan tubuh. Orang dewasa umumnya dianjurkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam.

Sementara itu, suplemen seperti kreatin bukan kebutuhan wajib bagi semua orang. Penggunaannya sebaiknya dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan dan kondisi kesehatan, dengan berkonsultasi kepada dokter jika diperlukan.

Jangan Asal Memeriksa Hormon, Konsultasikan dengan Dokter

Wanita yang mengalami keluhan selama perimenopause atau menopause dapat berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan pemeriksaan yang sesuai. Pemeriksaan hormon maupun tes lain tidak harus dilakukan secara rutin oleh semua orang.

Dokter dapat menilai keluhan, riwayat kesehatan, penggunaan obat, serta faktor risiko sebelum merekomendasikan pemeriksaan tertentu. Penilaian kekuatan genggaman, kecepatan berjalan, dan massa otot juga dapat membantu mengevaluasi fungsi fisik.

Terapi hormon pun tidak otomatis diperlukan hanya karena usia bertambah atau massa otot mulai menurun. Keputusan terkait terapi harus mempertimbangkan indikasi medis, manfaat, risiko, dan kondisi setiap individu.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan wanita di atas 40 tahun bukan sekadar mengejar angka timbangan atau perut yang rata. Membangun kebiasaan latihan kekuatan, memenuhi kebutuhan nutrisi, tidur cukup, dan memerhatikan perubahan kemampuan tubuh merupakan langkah penting untuk tetap aktif hingga usia lanjut.

Sebab, tubuh yang sehat bukan hanya tubuh yang terlihat ramping, melainkan tubuh yang tetap kuat untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN