Wanita Akui Berhubungan Seks dengan 100 Pria Beristri, Alasannya Bikin Syok!

Ket. Saurora Grace.

Doc: Instagram

JAKARTA, KUCANTIK.COM – Kisah Saurora Grace, wanita berusia 32 tahun asal Manchester, Inggris, menjadi sorotan setelah mengaku telah berhubungan seksual dengan lebih dari 100 pria beristri selama enam tahun terakhir. 

Pengakuan tersebut memicu perdebatan karena Grace mengklaim profesinya sebagai sex surrogate atau pendamping terapi keintiman justru membantu sejumlah klien memperbaiki hubungan rumah tangga mereka.

Di tengah kontroversi mengenai keterlibatannya dengan pria yang sudah menikah, Grace bersikeras pekerjaannya bukan sekadar menjadi orang ketiga dalam hubungan. Ia mengaku membantu para klien memahami kebutuhan seksual, membangun kepercayaan diri, hingga menemukan cara berkomunikasi yang lebih terbuka dengan pasangan masing-masing.

Menurut Grace, sebagian besar pria yang datang kepadanya telah menghadapi persoalan keintiman selama bertahun-tahun. Mereka disebut mengalami kesulitan membicarakan kebutuhan seksual dengan istri, kehilangan kedekatan emosional, atau merasa hubungan pernikahan mereka semakin hambar.

Namun, klaim Grace pekerjaannya dapat membantu menyelamatkan pernikahan justru menimbulkan pertanyaan. Benarkah keterlibatan pihak ketiga bisa memperbaiki hubungan suami istri yang sedang bermasalah?

Saurora Grace Klaim Bantu Pria Beristri Atasi Masalah Ranjang

Grace menceritakan pengalamannya menangani seorang klien pria berusia 60-an yang disebut sudah tidak berhubungan seksual dengan istrinya selama sekitar 10 tahun.

Pria tersebut dikabarkan kesulitan membicarakan persoalan keintiman yang dialaminya bersama sang istri. Kondisi itu membuatnya mencari bantuan kepada Grace untuk memahami kebutuhan seksual dan menghadapi masalah yang selama ini terpendam dalam pernikahannya.

Dalam proses tersebut, Grace mengaku menyarankan agar istri kliennya turut mengikuti sesi bersama. Dengan begitu, persoalan yang mereka hadapi diharapkan dapat dibicarakan secara lebih terbuka.

Akan tetapi, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Sang istri disebut merasa terancam setelah mengetahui profesi Grace dan menolak bertemu dengannya.

Pria itu akhirnya melanjutkan sesi secara individu. Menurut pengakuan Grace, kliennya kemudian mengatakan hubungan dengan istrinya menjadi lebih penuh kasih sayang. Ia bahkan mengklaim pasangan tersebut kembali melakukan hubungan seksual setelah bertahun-tahun mengalami masalah keintiman.

Grace meyakini pengalamannya bersama klien tersebut memberikan dampak positif terhadap kehidupan rumah tangga mereka. Meski demikian, kisah itu merupakan pengakuan Grace dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa metode yang dijalaninya efektif untuk semua pasangan.

Tak Hanya Pria Lansia, Pasangan Suami Istri Juga Jadi Klien

Pengalaman Grace ternyata tidak terbatas pada klien pria yang mengalami masalah keintiman. Ia juga mengaku pernah menangani pasangan suami istri berusia 30-an yang datang bersama untuk mengeksplorasi fantasi seksual sekaligus membicarakan persoalan komunikasi dalam hubungan mereka.

Menurut Grace, sesi yang dijalaninya tidak semata-mata berfokus pada aktivitas seksual. Ia mengklaim proses tersebut juga menjadi ruang bagi klien untuk memahami keinginan pribadi, mengenali kebutuhan pasangan, dan mengurangi rasa malu ketika membicarakan kehidupan intim.

Meski demikian, pendekatan yang dilakukan Grace tetap menuai perdebatan, terutama ketika klien yang datang merupakan pria beristri dan sesi berlangsung tanpa sepengetahuan pasangan mereka.

Situasi tersebut memunculkan persoalan mengenai batasan dalam pernikahan, keterbukaan antarpasangan, serta persetujuan dalam menjalani proses yang melibatkan pihak ketiga.

Kehilangan Sang Ibu Jadi Titik Balik Kehidupan Grace

Grace mengungkapkan ketertarikannya mendalami persoalan keintiman berkembang setelah ibunya meninggal dunia pada 2022.

Peristiwa tersebut disebut menjadi salah satu titik balik dalam kehidupannya. Setelah itu, ia menjalani pelatihan seksologi tantra dan penyembuhan somatik sebelum akhirnya menekuni profesi sebagai sex surrogate.

Latar belakang tersebut menjadi bagian dari perjalanan Grace dalam mendalami hubungan antara tubuh, emosi, dan keintiman. Ia mengaku ingin membantu orang-orang yang mengalami kesulitan memahami kebutuhan seksual maupun membangun kedekatan dalam hubungan mereka.

Grace juga menyebut pasangannya, Jamie Braith, yang berusia 46 tahun, mendukung pekerjaan yang dijalaninya. Keduanya dilaporkan telah menjalin hubungan selama dua tahun.

Kendati demikian, dukungan dari pasangan tidak serta-merta menghilangkan kontroversi seputar profesinya. Terlebih, keterlibatan dengan klien yang telah menikah tanpa sepengetahuan istri mereka dapat menimbulkan persoalan kepercayaan dan batasan hubungan.

Kisah Saurora Grace pun kembali memunculkan perdebatan mengenai perbedaan antara pendampingan keintiman dan perselingkuhan. 

Di satu sisi, ia mengklaim membantu klien menghadapi persoalan rumah tangga. Di sisi lain, praktik tersebut tetap menuai kritik karena berpotensi bertentangan dengan kesepakatan dan komitmen dalam pernikahan.

Pada akhirnya, keterbukaan, persetujuan, dan komunikasi antara pasangan tetap menjadi persoalan penting ketika membicarakan kehidupan seksual dan keharmonisan rumah tangga. 

Klaim suatu metode dapat membantu memperbaiki hubungan juga perlu dilihat secara kritis, bukan semata-mata berdasarkan pengalaman individual yang diceritakan oleh pihak terkait.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN