Skin Booster dari Mayat Viral di Korea! Beneran Pakai Jaringan Kulit Manusia?

Rabu, 16 Sep 2026, 16:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Tren perawatan estetika di Korea Selatan kembali mencuri perhatian setelah extracellular matrix atau ECM skin booster ramai diperbincangkan. Perawatan tersebut menjadi sorotan karena menggunakan material yang berasal dari jaringan kulit manusia dari donor yang telah meninggal.

Meski terdengar seperti teknologi baru, pemanfaatan jaringan manusia yang telah diproses sebenarnya sudah dikenal dalam dunia medis. Material tersebut sebelumnya digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti penanganan luka bakar dan rekonstruksi, tetapi penggunaannya untuk prosedur kecantikan kini memunculkan sejumlah pertanyaan.

Ket. Foto: Skin booster dari mayat. — Sumber: Istimewa

Beneran Pakai Jaringan Kulit Manusia?

ECM skin booster menggunakan extracellular matrix atau ECM yang berasal dari jaringan kulit manusia. Jaringan tersebut terlebih dahulu melalui proses deselularisasi, yakni penghilangan sel-sel dari jaringan sehingga menghasilkan acellular dermal matrix atau ADM.

Setelah diproses, material tersebut dapat digunakan sebagai bahan dalam prosedur injeksi estetika. ECM sendiri merupakan struktur yang berada di antara sel dan memiliki fungsi memberikan dukungan bagi jaringan tubuh, termasuk jaringan kulit.

Konsep tersebut berbeda dengan sejumlah skin booster lain yang menggunakan bahan tertentu untuk membantu merangsang regenerasi kulit. Salah satu contohnya adalah Rejuran yang menggunakan polinukleotida berbahan dasar DNA salmon, sedangkan ECM skin booster memanfaatkan material dari jaringan manusia yang sudah diproses.

Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Molecular Sciences pada 2026 juga telah menguji salah satu produk berbasis human acellular dermal matrix untuk prosedur estetika wajah. Namun, penelitian tersebut masih dilakukan dalam skala kecil sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk melihat efektivitas dan keamanan penggunaan dalam jangka panjang.

Jaringannya Bukan dari Donor Korea

Meskipun perawatan ini tengah ramai di Korea Selatan, jaringan kulit yang digunakan dalam ECM skin booster ternyata bukan berasal dari donor domestik. Berdasarkan laporan The Straits Times, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan menyatakan jaringan manusia untuk produk tersebut saat ini diimpor dari luar negeri.

Artinya, bahan jaringan manusia yang digunakan dalam prosedur tersebut berasal dari donor di luar Korea Selatan. Asal bahan ini kemudian menjadi salah satu aspek yang ikut diperbincangkan karena berkaitan dengan sistem pengelolaan, persetujuan, dan keterlacakan jaringan donor.

Salah satu perusahaan yang menjadi pelopor kategori tersebut adalah L&C Bio melalui produk Elravie Rituo yang diperkenalkan pada 2024. Perusahaan tersebut menyatakan jaringan yang digunakan telah melalui proses pengelolaan dan pencatatan sehingga dapat ditelusuri mulai dari donor hingga penggunaannya.

Produk ECM Skin Booster Makin Banyak

Kemunculan produk berbasis jaringan manusia tersebut kemudian diikuti oleh perusahaan lain di Korea Selatan. Seoul Economic Daily melaporkan jumlah produk ECM skin booster di negara tersebut diperkirakan dapat mencapai sekitar tujuh produk pada 2026.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang sebelumnya lebih banyak digunakan dalam kebutuhan medis dan rekonstruksi mulai masuk ke industri kecantikan. Permintaan pasien terhadap prosedur regeneratif juga disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong perkembangan pasar tersebut.

Sejumlah dokter bahkan mengungkapkan adanya permintaan yang cukup tinggi dari pasien terhadap prosedur regeneratif. Kondisi ini membuat ECM skin booster berkembang di tengah meningkatnya minat terhadap perawatan estetika yang diklaim menggunakan pendekatan regeneratif.

Kenapa Jadi Kontroversi?

Kontroversi ECM skin booster tidak hanya berkaitan dengan bahan yang digunakan, tetapi juga tujuan pemanfaatannya. Jaringan dermis manusia yang telah diproses sebelumnya memang telah digunakan dalam bidang medis, termasuk untuk membantu penanganan luka bakar dan kebutuhan rekonstruksi.

Ketika jaringan tersebut digunakan untuk kepentingan estetika dan komersial, muncul pertanyaan mengenai cakupan persetujuan donor. Salah satu persoalan yang diperdebatkan adalah apakah persetujuan yang diberikan donor juga mencakup kemungkinan pemanfaatan jaringan untuk prosedur kecantikan.

Ada pula kekhawatiran mengenai penggunaan tubuh atau jaringan jenazah untuk kepentingan komersial. Perdebatan ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap sistem donasi tubuh dan bagaimana jaringan donor seharusnya dimanfaatkan setelah seseorang meninggal.

Berdasarkan survei Profesor Lee Dong-han dari Sookmyung Women's University terhadap 1.034 responden dewasa, sebanyak 60,9 persen responden mendukung pelarangan atau pembatasan ketat penggunaan jaringan jenazah untuk tujuan estetika.

Jumlah tersebut menunjukkan adanya perhatian publik terhadap batas pemanfaatan jaringan manusia untuk kebutuhan kecantikan. Kekhawatiran tersebut juga muncul di tengah jumlah donasi tubuh di Korea Selatan yang masih relatif terbatas, yakni sekitar 200 kasus per tahun berdasarkan laporan The Korea Herald.

Regulasi Jadi Sorotan

Selain persoalan etika, ECM skin booster juga menghadapi pertanyaan mengenai mekanisme pengawasannya. Produk berbasis jaringan manusia berada dalam kerangka pengaturan jaringan manusia di Korea Selatan, sementara jalur pengawasannya berbeda dengan obat atau alat kesehatan tertentu.

Perbedaan mekanisme tersebut kemudian memunculkan istilah regulatory gray area, terutama ketika material yang memiliki sejarah penggunaan medis mulai digunakan dalam prosedur estetika. Situasi ini membuat batas antara penggunaan untuk terapi medis dan kepentingan kecantikan menjadi bahan pembahasan.

L&C Bio membantah anggapan bahwa produknya tidak mendapatkan pengawasan. Berdasarkan laporan The Straits Times, perusahaan menegaskan bahwa proses pengelolaan jaringan mulai dari donor hingga penggunaan memiliki sistem pencatatan dan keterlacakan.

Perusahaan tersebut juga berpendapat bahwa produk berbahan jaringan manusia tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan produk sintetis yang mengikuti mekanisme pengujian alat kesehatan pada umumnya. Sementara itu, pemerintah Korea Selatan mulai mempertimbangkan aturan yang lebih jelas terkait penggunaan jaringan manusia untuk kepentingan estetika.

Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan disebut perlu membedakan penggunaan jaringan manusia untuk terapi medis dengan penggunaan untuk tujuan estetika. Di sisi lain, Kementerian Keamanan Pangan dan Obat-obatan atau MFDS juga tengah meninjau kemungkinan pembatasan pemasaran produk tersebut untuk tujuan kosmetik.

Dengan demikian, viralnya ECM skin booster tidak hanya menghadirkan tren baru dalam industri kecantikan. Perawatan tersebut sekaligus membuka perdebatan mengenai keamanan, bukti efektivitas jangka panjang, persetujuan donor, penggunaan jaringan jenazah, serta batas antara kebutuhan medis dan kepentingan estetika.

Pertanyaan mengenai penggunaan jaringan manusia untuk kecantikan pun menjadi semakin luas. Bukan sekadar soal apakah kulit bisa terlihat lebih sehat atau muda, tetapi juga tentang sejauh mana jaringan dari donor yang telah meninggal dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan estetika dan industri kecantikan.

  • Korea Selatan
  • Tren Kecantikan

Redaktur: Afifa Khoirunnisa

Penulis: Afifa Khoirunnisa

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.