- Home
-
- Entertainment
-
- Dituding Tone Deaf, Maud...
Dituding Tone Deaf, Maudy Ayunda Akhirnya Buka Suara soal Curhat Berita Buruk
Senin, 14 Sep 2026, 10:45 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Maudy Ayunda akhirnya memberikan klarifikasi setelah pernyataannya mengenai rasa lelah menghadapi berbagai berita buruk di Indonesia menuai kritik dari sejumlah netizen. Aktris sekaligus penyanyi itu sebelumnya dinilai sebagian pengguna media sosial kurang peka atau tone deaf terhadap masyarakat yang berhadapan langsung dengan persoalan sosial dan berbagai kondisi sulit.
Kritik tersebut muncul setelah video Maudy berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News" kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Melalui kolom komentar video YouTube-nya, Maudy kemudian menjelaskan maksud pembahasan sekaligus mengakui ada perspektif yang belum cukup ia refleksikan saat membuat konten tersebut.
Maudy Akui Bisa Menjauh dari Berita Merupakan Privilege
Dalam klarifikasinya, Maudy mengakui bahwa kemampuan untuk mengambil jarak sejenak dari pemberitaan merupakan sesuatu yang tidak dimiliki semua orang. Ia menyadari bahwa sebagian masyarakat justru tidak memiliki pilihan untuk menjauh karena persoalan yang diberitakan berkaitan langsung dengan kehidupan mereka.
"Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," kata Maudy Ayunda di kolom komentar video YouTube-nya, dikutip Senin, 14 September 2026.
Maudy juga menegaskan bahwa video tersebut berangkat dari pengalaman pribadi yang sedang ia rasakan. Menurutnya, pembahasan mengenai cara menjaga diri dari kelelahan akibat derasnya informasi bukan dimaksudkan sebagai ajakan untuk mengabaikan berbagai persoalan yang tengah terjadi.
Maudy Tegaskan Mindfulness Bukan Berarti Tak Peduli
Maudy menjelaskan bahwa pembahasan mengenai mindfulness sebenarnya berkaitan dengan bagaimana seseorang tetap peduli terhadap keadaan sekitar tanpa kehilangan kemampuan untuk hadir dan terlibat secara berarti. Ia mengaku sedang berusaha mencari cara agar tetap mengikuti berbagai persoalan sekaligus menjaga dirinya dari kelelahan emosional akibat arus informasi yang terus datang.
"Waktu membuat video ini, aku sebenarnya sedang berbagi refleksi tentang suatu struggle pribadi: bagaimana tetap peduli dan mengikuti apa yang terjadi, sambil menjaga diri supaya kita tetap bisa hadir dan engage dengan lebih berarti," jelasnya.
Dalam klarifikasinya, Maudy juga menyebut sejumlah persoalan yang menurutnya sedang menjadi perhatian serius. Ia menyoroti karhutla, bencana gempa, kebijakan dan program yang dinilainya tidak tepat sasaran, serta berbagai persoalan lain yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
"The situations we are dealing now are so frustrating and heartbreaking⦠adanya Karhutla, bencana gempa, berbagai kebijakan dan program yg ngga tepat sasaran dan berdampak langsung pada masyarakat, maupun berbagai isu-isu lain yg jg sama pentingnya. This is such an exceptionally hard time, for those impacted communities especially, and they need all support and visibility they can get," katanya.
Maudy kemudian meluruskan anggapan bahwa mindfulness yang dibicarakannya merupakan bentuk ajakan untuk bersikap pasif. Ia justru mengatakan kesadaran diri dapat membantunya melihat persoalan secara lebih jernih sekaligus tetap memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang terdampak.
"Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja. Malah, mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak," beber Maudy Ayunda.
Video Maudy Kembali Jadi Sorotan
Perdebatan mengenai pernyataan Maudy bermula dari video di kanal YouTube miliknya yang berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News". Konten tersebut sebenarnya telah diunggah pada 21 Agustus 2026, tetapi kembali menjadi perhatian setelah isi maupun potongan pernyataannya ramai dibagikan dan dibahas di media sosial.
Dalam video tersebut, Maudy membicarakan kondisi emosional seseorang ketika terus menerima informasi mengenai berbagai kejadian negatif. Ia mengaku dirinya juga merasakan beban psikologis akibat derasnya kabar buruk, baik dari berbagai penjuru dunia maupun yang terjadi di Indonesia.
"Aku tuh berasa kayak ya udah beberapa bulan ini. Malah mungkin udah setahun terakhir ini ya kita tuh kayak dibombardir dengan banyaknya berita buruk secara internasional tapi juga mungkin khususnya berita lokal juga di sini, di Indonesia. Aku ngerasa kayaknya penting gitu untuk ngomongin itu khususnya kayak gimana buat kita bahkan melangkah, gimana caranya kita tetap peduli, dan juga bisa menjaga diri kita sendiri itu," kata Maudy dalam video tersebut.
Menurut Maudy, arus informasi yang datang tanpa henti dapat membuat seseorang kewalahan dalam memproses berbagai persoalan. Ia juga mengaku pernah merasa tidak berdaya hingga mengalami respons emosional ketika terus mendengar kabar buruk.
"Di mana kayak ngerasa, "ya ampun, ini bolak-balik banget" gimana aku memproses ini, karena buat aku pribadi berat banget sih dan ada kecenderungan ngerasa nggak berdaya. Terus ada masa-masa di mana jadi kayak mewek, nangis, marah. Emang sulit sih ketika kita mendengar kabar buruk terus-terusan, lagi dan lagi jadi," jelasnya.
Netizen Soroti Pernyataan Maudy
Pembahasan tersebut kemudian mendapat tanggapan beragam dari pengguna media sosial. Sebagian netizen memahami pentingnya menjaga kesehatan mental ketika berhadapan dengan banjir informasi, tetapi sebagian lainnya menilai pesan tersebut perlu mempertimbangkan kondisi masyarakat yang tidak bisa mengambil jarak dari persoalan karena terdampak secara langsung.
Salah satu kritik datang dari akun X @pandaleezasol yang mengaku mulai mempertimbangkan untuk berhenti mengikuti Maudy. Pengguna tersebut menilai pernyataan Maudy tidak lagi sesuai dengan citra positif yang sebelumnya ia tangkap dari sang artis.
"Aku unsubs Maudy beneran deh keknya, sheâs not spreading positivity anymore, sheâs just becoming tone deaf," tulis akun tersebut.
Netizen itu juga menyinggung latar belakang pendidikan dan pengalaman Maudy dalam kegiatan sosial. Menurutnya, pengalaman tersebut semestinya dapat menjadi bekal untuk memahami kondisi masyarakat dari sudut pandang kelompok yang terdampak langsung.
"Kak masa kamu nulis puluhan-ratusan esai sampe lulus di Ivy League, pernah jadi volunteer juga kan, pernah kan ngeliat kondisi grass root itu kayak gimana?" lanjutnya.
Kritik lainnya mempertanyakan bagaimana anjuran untuk mengambil jeda dari berita dapat diterapkan oleh masyarakat yang kehidupan sehari-harinya bersinggungan langsung dengan persoalan sosial, ekonomi, kebijakan, maupun bencana. Pengguna tersebut juga menyoroti posisi Maudy yang memiliki jangkauan publik cukup besar dan mempertanyakan pilihan untuk mengambil jarak dari isu yang sedang menjadi perhatian.
"Justru dengan mega platform dan capasity yang kamu punya kamu malah milih diam? Kenapa?" sambungnya.
Melalui klarifikasi tersebut, Maudy berusaha memperjelas bahwa pembicaraan mengenai mindfulness dalam videonya tidak dimaksudkan untuk membuat seseorang menjadi apatis terhadap keadaan. Ia mengakui adanya keterbatasan perspektif dalam konten sebelumnya sekaligus menegaskan bahwa masyarakat yang terdampak langsung tetap membutuhkan perhatian, dukungan, dan visibilitas.
- Maudy Ayunda
- Maudy Ayunda Tone Deaf
Redaktur: Afifa Khoirunnisa
Penulis: Afifa Khoirunnisa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.