Ulta Levenia Nababan Disorot Usai Erupsi 6 Gunung, Siapa Sebenarnya Eks Tenaga Ahli KSP Ini?

Ket. Ulta Levenia Nababan dan Prabowo.

Doc: Instagram

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Ulta Levenia Nababan mendadak menjadi sorotan publik setelah pernyataannya mengenai rangkaian erupsi gunung api di Indonesia ramai diperbincangkan. Pernyataan tersebut menjadi kontroversial karena Ulta mempertanyakan kemungkinan adanya faktor lain di balik sejumlah erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan, termasuk mengaitkannya dengan High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).

Ulta sebelumnya dikenal sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP). Status tersebut membuat pernyataannya semakin menarik perhatian, meski belakangan Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menegaskan Ulta sudah tidak lagi menjadi bagian dari KSP.

Sorotan bermula dari unggahan Ulta di Instagram pada Senin, 7 September 2026. Ia membahas fenomena erupsi enam gunung api yang terjadi dalam waktu berdekatan dan mempertanyakan apakah semuanya semata-mata merupakan fenomena alam.

Namun, penting dicatat, Ulta sendiri menyebut pandangan mengenai HAARP tersebut sebagai pemikiran pribadinya. Ia juga mengakui pembahasan mengenai kemampuan HAARP untuk memengaruhi cuaca hingga gempa bumi kerap dikategorikan sebagai teori konspirasi dan belum memiliki bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

Ulta Singgung HAARP, Apa yang Sebenarnya Dipersoalkan?

Dalam unggahannya, Ulta menjelaskan HAARP sering dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi. Ia menyoroti sejarah pendanaan proyek tersebut yang pernah melibatkan institusi pertahanan Amerika Serikat.

Menurut Ulta, terdapat spekulasi di masyarakat HAARP mampu mengendalikan cuaca, memicu badai, bahkan menyebabkan gempa bumi. Meski demikian, ia juga mencantumkan tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan klaim tersebut.

Pernyataan inilah yang kemudian memicu perdebatan di media sosial.

Di satu sisi, Ulta mempertanyakan kemungkinan adanya faktor lain di balik fenomena alam yang terjadi. Di sisi lain, pandangan tersebut langsung mendapatkan perhatian karena dikaitkan dengan posisi profesionalnya yang memiliki latar belakang di bidang keamanan dan konflik.

Punya Latar Belakang Keamanan dan Terorisme

Ulta bukan sosok yang asing dalam kajian keamanan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Ilmu Politik di Universitas Indonesia.

Pendidikan magisternya kemudian ditempuh di University of Leeds, Inggris, dengan mengambil bidang yang berkaitan dengan insurgensi dan terorisme.

Tidak berhenti di sana, Ulta juga pernah mengikuti program mengenai studi keamanan Indo-Pasifik di Prancis. Ia tercatat sebagai penerima Chevening dan Fulbright, dua program beasiswa internasional yang dikenal cukup bergengsi.

Latar belakang tersebut kemudian membentuk perjalanan kariernya yang banyak bersinggungan dengan isu kontra-terorisme, radikalisme, keamanan nasional, serta konflik internasional.

Pernah Meneliti Konflik Afghanistan hingga Papua

Dalam perjalanan profesionalnya, Ulta dikenal aktif melakukan kajian mengenai konflik dan keamanan global.

Wilayah yang menjadi bagian dari kajiannya antara lain Afghanistan dan Filipina Selatan, dua kawasan yang memiliki sejarah konflik dan persoalan keamanan yang kompleks.

Ia juga pernah meneliti dinamika konflik di Aceh dan Papua. Selain penelitian, Ulta aktif menulis mengenai jaringan terorisme, radikalisme, konflik global, serta isu keamanan kawasan.

Analisisnya juga pernah diterbitkan di berbagai media nasional maupun internasional. Pengalamannya tersebut membuat Ulta dikenal sebagai salah satu figur muda yang berkecimpung dalam kajian keamanan.

Ia bahkan pernah terlibat dalam Tim Kampanye Nasional Pemilu 2024 dan masuk dalam daftar 40 Under 40 figur muda berpengaruh di bidangnya.

Dudung Tegaskan Ulta Sudah Bukan Bagian dari KSP

Di tengah ramainya pernyataan mengenai HAARP, status Ulta di pemerintahan turut menjadi pertanyaan publik.

Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman kemudian memberikan klarifikasi. Ia menegaskan Ulta sudah tidak lagi menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama KSP.

Menurut Dudung, Ulta sebelumnya memang pernah menjadi bagian dari KSP. Namun, kini ia berpindah posisi dan menjabat sebagai salah satu deputi di **Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI).

“Ulta sudah bukan di KSP lagi. Dulu dia di staf KSP sebagai tenaga ahli utama, tetapi sekarang sudah tidak. Dia sekarang salah satu deputi di Bakom,” ujar Dudung.

Dengan demikian, pernyataan Ulta mengenai HAARP tersebut tidak dapat dianggap sebagai pernyataan resmi KSP.

Pemerintah Bantah Ada Kaitannya dengan Pihak Luar

Dudung juga menanggapi spekulasi mengenai kemungkinan keterlibatan pihak luar dalam rangkaian fenomena alam yang terjadi di Indonesia.

Menurutnya, erupsi gunung api dan bencana alam lainnya merupakan bagian dari dinamika alam yang dipelajari serta dipantau oleh para ahli.

Ia menegaskan tidak melihat alasan untuk menghubungkan fenomena tersebut dengan kepentingan pihak luar.

Dudung juga menyampaikan fenomena alam tersebut merupakan bagian dari dinamika alam dan berada dalam kehendak Tuhan.

Jadi, Siapa Ulta Levenia Nababan?

Ulta Levenia Nababan merupakan figur dengan latar belakang ilmu politik dan studi keamanan yang pernah menjadi Tenaga Ahli Utama KSP. Ia memiliki pengalaman dalam kajian kontra-terorisme, radikalisme, insurgensi, serta konflik global.

Kini, Ulta berada di Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, bukan lagi di KSP.

Sementara itu, kontroversi mengenai HAARP masih menjadi perdebatan di ruang publik. Yang perlu digarisbawahi, pertanyaan atau spekulasi pribadi mengenai suatu fenomena tidak sama dengan bukti ilmiah.

Karena itu, rangkaian erupsi gunung api di Indonesia tetap perlu dilihat berdasarkan data dan penjelasan para ahli kebencanaan serta vulkanologi. Jangan sampai spekulasi yang belum terbukti justru dianggap sebagai fakta.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN