Bukan Cuma Meletus, Kenali 3 Jenis Erupsi Gunung Api dan Perbedaannya

Ket. Bukan Cuma Meletus, Kenali 3 Jenis Erupsi Gunung Api dan Perbedaannya

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Erupsi menjadi salah satu tanda aktivitas sebuah gunung berapi. Namun, erupsi tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama.

Ada gunung yang mengeluarkan lava secara perlahan, ada yang meledak dan menghasilkan kolom abu tinggi, bahkan ada yang erupsi tanpa mengeluarkan magma baru.

National Park Service (NPS) mengklasifikasikan erupsi gunung api berdasarkan sifatnya menjadi tiga jenis, yakni Magmatic, Phreatomagmatic (hydrovolcanic), dan Phreatic.

Lantas, apa perbedaan ketiganya?

Erupsi Magmatik (Magmatic Eruption)

Erupsi magmatik melibatkan magma baru dari dalam bumi. Saat mencapai permukaan, magma dapat keluar sebagai lava maupun material vulkanik seperti tefra.

Erupsi jenis ini tidak selalu menghasilkan ledakan besar. Menurut NPS, intensitasnya sangat beragam, mulai dari keluarnya lava secara relatif tenang hingga erupsi eksplosif yang menghasilkan awan abu dalam jumlah besar.

Secara umum, erupsi magmatik terbagi menjadi dua karakter, yaitu efusif dan eksplosif. Erupsi efusif didominasi keluarnya lava secara relatif pasif, sedangkan erupsi eksplosif menghasilkan material vulkanik yang terfragmentasi dan terlontar ke udara.

Contohnya adalah erupsi gunung api Hawaii yang berada pada rentang efusif hingga moderat eksplosif.

Sementara erupsi Novarupta pada 1912 termasuk sangat eksplosif karena menghasilkan 10.000 asap di wilayah Katmai National Park and Preserve. Erupsi Gunung Anak Krakatau kemarin juga termasuk erupsi eksplosif level moderat.

Erupsi Freatik (Phreatic Eruption)

Jika erupsi magmatik melibatkan magma baru, erupsi freatik justru tidak mengeluarkan magma baru.

Erupsi ini terjadi akibat ledakan uap. Panas dari sumber magmatik di bawah permukaan memanaskan air tanah hingga sangat panas dan bertekanan. Ketika tekanan dilepaskan, terjadi ledakan yang dapat melontarkan material batuan.

Karena tidak melibatkan magma baru, abu dalam erupsi freatik berasal dari batuan yang sudah ada dan hancur akibat ledakan. NPS juga mencatat erupsi freatik dapat menjadi pendahulu erupsi magmatik.

Salah satu contohnya adalah erupsi Gunung Api Fourpeaked pada 2006 di Katmai National Park and Preserve yang menghasilkan awan abu hingga 20.000 kaki atau sekitar 6.100 meter ke atmosfer.

Erupsi Freatomagmatik (Pheromagmatic Eruption)

Erupsi freatomagmatik terjadi ketika magma atau lava panas berinteraksi dengan air, baik air permukaan maupun air tanah dangkal. Karena melibatkan air, erupsi ini juga dikenal sebagai hydrovolcanic.

Pertemuan material vulkanik yang sangat panas dengan air dapat menghasilkan ledakan uap yang kuat. Berbeda dengan erupsi freatik, erupsi freatomagmatik juga melibatkan material dari magma baru.

Interaksi magma dan air dapat menghasilkan campuran uap dan tefra serta membentuk endapan vulkanik tertentu.

Letusan hidrovulkanik dapat membentuk cincin tuf dan maar, seperti Kawah Ubehebe, sekelompok maar di Taman Nasional Death Valley, serta maar Espenberg di Bering and Land Bridge National Preserve.

Lalu, Apa Itu Hawaiian, Strombolian, hingga Plinian?

Hawaiian, Strombolian, Vulcanian, Sub-Plinian, Plinian, dan Ultra-Plinian merupakan tingkatan gaya erupsi atau eruption styles.

Menurut NPS, gaya erupsi magmatik tersebut disusun berdasarkan peningkatan tingkat eksplosivitas, yakni Hawaiian, Strombolian, Vulcanian, Sub-Plinian, Plinian, dan Ultra-Plinian.

Gaya Hawaiian umumnya ditandai lava basaltik yang sangat cair dan relatif tidak eksplosif. Sementara Strombolian menghasilkan ledakan berkala yang dapat melontarkan material pijar ke udara.

Pada tingkat lebih eksplosif terdapat Vulcanian dan Sub-Plinian. Erupsi Vulcanian menghasilkan kolom abu dengan ketinggian sedang, sedangkan Sub-Plinian menghasilkan kolom erupsi yang lebih tinggi dan eksplosif.

Kemudian, gaya Plinian merupakan erupsi yang sangat eksplosif. Kolom abu dapat menjulang hingga stratosfer dan menyebar membentuk pola seperti payung. Erupsi ini juga dapat menghasilkan hujan abu luas, aliran piroklastik, dan lahar.

Sementara itu, Ultra-Plinian merupakan tingkat paling ekstrem dalam klasifikasi gaya magmatik NPS. Erupsi ini berkaitan dengan letusan terbesar dan dapat membentuk kaldera.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN