Lady Gaga Bikin Skincare dari Kulit Manusia? Teknologi Barunya Bikin Geger!

Ket. Lady Gaga.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Lady Gaga kembali membuat gebrakan yang tak biasa. Setelah sukses membangun karier sebagai penyanyi sekaligus mengembangkan bisnis kecantikan melalui Haus Labs, Gaga kini terlibat dalam proyek bioteknologi yang terdengar cukup kontroversial: penelitian bahan skincare menggunakan jaringan kulit manusia yang masih hidup.

Kabar ini sontak menarik perhatian karena sekilas dapat menimbulkan kesan Lady Gaga sedang membuat produk skincare dari kulit manusia. Namun, faktanya tidak sesederhana itu. Jaringan kulit manusia tersebut digunakan sebagai media penelitian untuk menguji kandidat bahan, bukan berarti kulit manusia menjadi bahan yang dicampurkan ke dalam serum atau krim.

Gaga diketahui menjadi bagian dari jajaran dewan Outer Biosciences, sebuah startup bioteknologi yang didirikan bersama tunangannya, Michael Polansky, pada 2020. Polansky sendiri bukan orang baru di dunia teknologi. Ia memiliki latar belakang matematika terapan dan ilmu komputer serta pengalaman dalam bidang teknologi dan investasi di Silicon Valley.

Gagasan di balik Outer Biosciences berangkat dari sebuah persoalan yang cukup menarik. Polansky melihat perkembangan biologi dan kimia berjalan jauh lebih lambat dibandingkan kemajuan teknologi perangkat lunak. Padahal, industri kesehatan dan kecantikan membutuhkan proses penelitian yang cepat untuk menemukan bahan-bahan baru.

Selama ini, pengujian berbagai senyawa kerap memanfaatkan hewan atau model organoid yang dikembangkan di laboratorium. Outer Biosciences mencoba menawarkan pendekatan berbeda dengan menggunakan jaringan kulit manusia yang diperoleh dari jaringan yang biasanya dibuang setelah prosedur operasi, termasuk operasi plastik.

Yang membuat teknologi ini terdengar semakin unik adalah kondisi jaringan tersebut. Kulit dikumpulkan ketika jaringan masih dalam keadaan hidup, kemudian diberikan nutrisi serta diproses untuk mengurangi limbah metabolisme. Tujuannya adalah mempertahankan jaringan tersebut agar dapat digunakan dalam proses pengujian lebih lanjut.

Di sinilah teknologi kecerdasan buatan atau AI ikut memainkan peran penting.

Outer Biosciences menggunakan model AI untuk memprediksi senyawa kimia yang berpotensi memberikan efek tertentu terhadap fungsi kulit. Kandidat yang dihasilkan oleh sistem tersebut kemudian diuji secara langsung pada jaringan kulit manusia yang masih hidup.

Hasil dari pengujian tersebut nantinya kembali digunakan untuk memperbaiki prediksi AI. Prosesnya berlangsung secara berulang sehingga perusahaan berharap dapat mempercepat pencarian kandidat bahan baru dibandingkan metode penelitian konvensional.

Dengan demikian, fokus utama Outer Biosciences saat ini bukan langsung menciptakan satu produk skincare tertentu. Perusahaan tersebut lebih berupaya menemukan kandidat bahan baru yang nantinya berpotensi dikembangkan menjadi bahan kosmetik.

Menariknya, sektor yang menjadi target perusahaan bukan industri obat-obatan, melainkan kosmetik. Strategi tersebut dinilai dapat membuat proses pengembangan menjadi lebih sederhana dibandingkan pengembangan obat yang membutuhkan tahapan pengujian dan persetujuan jauh lebih panjang serta mahal.

Jika nantinya ditemukan bahan yang menjanjikan, Outer Biosciences dapat bekerja sama dengan perusahaan kosmetik untuk mengembangkannya menjadi berbagai produk kecantikan, seperti serum, krim, maupun produk perawatan kulit lainnya.

Lalu, seberapa besar sebenarnya keterlibatan Lady Gaga dalam proyek ini?

Hingga kini, belum diketahui secara rinci sejauh mana Gaga terlibat langsung dalam penelitian ilmiah Outer Biosciences. Namun, keterlibatannya bukan sesuatu yang sepenuhnya mengejutkan. Gaga sebelumnya sudah aktif dalam pengembangan produk, strategi merek, serta konsep kreatif Haus Labs, lini kosmetik yang dibangunnya.

Gaga juga turut memperkenalkan Outer Biosciences dan teknologi bernama Yuna melalui akun X miliknya. Ia menggambarkan inovasi tersebut sebagai bagian dari upaya membangun masa depan kesehatan kulit.

Teknologi ini tentu berpotensi memicu perdebatan karena melibatkan jaringan tubuh manusia dalam proses penelitian kosmetik. Namun, penting untuk membedakan antara “menguji bahan skincare pada jaringan kulit manusia” dan “membuat skincare dari kulit manusia.”

Jadi, klaim Lady Gaga “membuat skincare pakai kulit manusia” bisa terdengar mengerikan, tetapi kurang tepat jika dipahami secara harfiah. Yang dikembangkan adalah metode penelitian menggunakan jaringan kulit manusia untuk membantu menemukan dan menguji kandidat bahan baru.

Jika teknologi ini berhasil, pendekatan tersebut berpotensi mengubah cara industri kecantikan mencari bahan aktif. Dan mungkin saja, di balik headline kontroversial tentang “kulit manusia”, Gaga justru sedang ikut mendorong salah satu pendekatan paling futuristis dalam penelitian skincare.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN