Teori Gila Anak Krakatau, Skenario Tsunami 43 Meter Pernah Diprediksi Ilmuwan!
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Setiap kali Gunung Anak Krakatau menunjukkan aktivitas, perhatian publik hampir selalu tertuju pada satu hal, apakah tsunami bisa terjadi lagi?
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Anak Krakatau memiliki sejarah kelam setelah tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 menewaskan ratusan orang.
Yang membuat cerita ini semakin mengerikan, jauh sebelum bencana tersebut terjadi, para ilmuwan sebenarnya sudah mempelajari kemungkinan tsunami akibat runtuhnya sebagian tubuh gunung.
Salah satu skenario yang pernah dimodelkan bahkan menghasilkan angka yang bikin merinding, gelombang tsunami bisa mencapai sekitar 43 meter dalam skenario tertentu.
Namun, angka tersebut penting dipahami sebagai hasil pemodelan skenario, bukan ramalan bahwa tsunami 43 meter pasti akan terjadi.
Semua Berawal dari Krakatau 1883
Untuk memahami kenapa Anak Krakatau begitu diperhatikan, kita harus kembali ke tahun 1883.
Letusan besar Krakatau menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan membentuk kaldera raksasa di kawasan Selat Sunda.
Kemudian, aktivitas vulkanik kembali muncul di kawasan tersebut. Daratan baru perlahan tumbuh dari laut dan dikenal sebagai Anak Krakatau.
Gunung muda ini terus berkembang selama puluhan tahun. Namun, pertumbuhannya terjadi di kawasan yang memiliki sejarah geologi sangat kompleks.
Rekomendasi juga buat kamu:
Di sinilah persoalan mulai menarik perhatian para peneliti.
Anak Krakatau Tumbuh di Atas Kawasan yang Pernah Runtuh
Tubuh Anak Krakatau mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu akibat penumpukan material hasil aktivitas vulkanik.
Perubahan bentuk gunung, kemiringan lereng, dan kondisi material penyusunnya menjadi faktor penting dalam menilai potensi ketidakstabilan.
Sejumlah penelitian kemudian memodelkan kemungkinan terburuk apabila sebagian tubuh gunung mengalami longsoran besar dan masuk ke laut.
Dalam salah satu skenario penelitian yang terbit sebelum tsunami 2018, longsoran dengan volume sekitar 0,28 kilometer kubik dimodelkan dapat menghasilkan gelombang awal yang sangat tinggi, bahkan mencapai sekitar 43 meter.
Angka ini tentu terdengar mengerikan.
Tetapi perlu ditegaskan, pemodelan tersebut bukan berarti ilmuwan mengetahui kapan longsor akan terjadi atau memastikan tsunami setinggi 43 meter akan menghantam Indonesia. Model digunakan untuk memahami risiko jika kondisi tertentu benar-benar terjadi.
Lalu, Apa yang Terjadi pada 22 Desember 2018?
Beberapa tahun setelah berbagai kajian mengenai potensi ketidakstabilan Anak Krakatau dilakukan, skenario longsoran akhirnya menjadi kenyataan.
Pada 22 Desember 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut dan memicu tsunami di Selat Sunda.
Gelombang kemudian menerjang kawasan pesisir Banten dan Lampung tanpa didahului gempa besar yang biasanya menjadi tanda bagi masyarakat untuk segera menjauh dari pantai.
Inilah salah satu alasan tragedi tersebut begitu mematikan.
Masyarakat tidak hanya menghadapi gunung api aktif, tetapi juga bahaya tsunami yang mekanismenya berbeda dari tsunami akibat gempa tektonik.
Erupsi Bukan Satu-Satunya Hal yang Harus Ditakuti
Ada anggapan semakin besar letusan Anak Krakatau, semakin besar pula kemungkinan tsunami. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.
Dalam kasus 2018, runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut menjadi faktor penting dalam terbentuknya tsunami.
Karena itu, para ahli tidak hanya memantau tinggi kolom erupsi atau aktivitas letusan. Perubahan morfologi, pertumbuhan tubuh gunung, kestabilan lereng, dan kemungkinan material masuk ke laut juga menjadi perhatian.
Inilah yang membuat Anak Krakatau berbeda dari sekadar gunung yang sedang mengeluarkan abu atau lava.
Gunungnya bisa tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut juga berarti bentuk dan kondisi lerengnya terus berubah.
Anak Krakatau Sekarang Sudah Tumbuh Lagi
Setelah sebagian tubuhnya runtuh pada 2018, Anak Krakatau tidak berhenti beraktivitas.
Gunung tersebut kembali membangun tubuhnya melalui aktivitas vulkanik. Material baru terus terakumulasi dan mengubah bentuk gunung.
Kondisi inilah yang membuat pemantauan menjadi sangat penting.
Bukan berarti setiap pertumbuhan Anak Krakatau akan berakhir dengan longsor atau tsunami. Justru sebaliknya, penelitian dan pemantauan dilakukan agar perubahan yang berpotensi meningkatkan risiko dapat diketahui sedini mungkin.
Skenario tsunami 43 meter pun harus ditempatkan dalam konteks yang tepat: itu adalah skenario pemodelan ilmiah dengan kondisi tertentu, bukan prediksi bahwa Indonesia akan segera dihantam tsunami setinggi 43 meter.
Pelajaran Terbesar dari Krakatau
Tragedi 2018 memberikan satu pelajaran penting, ancaman dari gunung api tidak selalu datang dalam bentuk letusan yang terlihat.
Kadang, bahaya terbesar justru berasal dari perubahan struktur gunung yang berlangsung perlahan, kemudian berakhir dengan runtuhan besar ke laut.
Karena itulah setiap aktivitas Anak Krakatau layak mendapatkan perhatian serius, tetapi tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
Yang jauh lebih penting adalah mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, dan otoritas kebencanaan, terutama bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di kawasan pesisir Selat Sunda.
Sebab, sejarah sudah pernah menunjukkan betapa cepat situasi bisa berubah.
Anak Krakatau bukan sedang “menunggu” untuk mengulang 2018. Namun, sejarah dan kondisi geologinya membuat gunung ini memang harus terus dipantau.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Teori Gila Anak Krakatau, Skenario Tsunami 43 Meter Pernah Diprediksi Ilmuwan! .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!