Perjalanan Jauh Selalu Bikin Mual? Ini Rahasia Agar Tak Lagi Mabuk Perjalanan
JAKARTA - Mabuk perjalanan secara historis biasa dikaitkan dengan para pelaut yang bereaksi pada gerakan naik turun, berguling atau saat kapal berputar.
Namun pada masa kini, istilah itu dikaitkan juga terhadap orang-orang yang menaiki mobil, kereta api, pesawat terbang, dan bahkan di luar angkasa.
Menurut siaran Channel News Asia pada Sabtu (5/9), gejala mabuk perjalanan dapat dimulai dalam beberapa menit setelah merasakan gerakan dan berlangsung selama berjam-jam setelah gerakan berhenti.
Kondisi ini secara klasik sering dimulai dengan perasaan hangat, berkeringat, dan pusing, mengalami sakit kepala atau merasa lelah. Saat kondisi memburuk, mual akan muncul dan dapat menyebabkan muntah.
Penyebab
Para ilmuwan tidak tahu persis apa yang menyebabkan mabuk perjalanan, tetapi salah satu teorinya adalah reaksi tubuh terhadap konflik antara indera yang berbeda. Beberapa ilmuwan berpikir otak menafsirkan ketidaksesuaian tersebut sebagai akibat dari neurotoksin, dan memicu muntah sebagai respons.
Seorang ahli neurosains kognitif di Universitas Brandeis Paul DiZio mencontohkan jika kita membaca di dalam mobil, mata kita akan melihat halaman yang diam. Tetapi telinga bagian dalam yang mendeteksi percepatan dan gerakan rotasi merasakan kita sedang bergerak.
Teori yang lebih baru di antara banyak peneliti adalah bahwa mabuk perjalanan disebabkan oleh ketidaksesuaian antara apa yang diharapkan otak untuk dideteksi oleh indera dan apa yang sebenarnya dideteksi, bahkan sebelum gerakan terjadi.
"Anda membangun model kecil di otak anda tentang bagaimana rasanya dan anda akan sakit jika apa yang dirasakan tidak sesuai dengan prediksi tersebut," kata DiZio.
Sebagian besar orang mengalami mabuk perjalanan akibat gerakan ekstrem, tetapi beberapa juga bereaksi terhadap gerakan yang lebih ringan.
Anak-anak umumnya lebih rentan daripada orang dewasa, mungkin karena mereka belum terbiasa dengan gerakan tersebut. Wanita lebih berisiko daripada pria, menurut sebagian besar penelitian.
Rekomendasi juga buat kamu:
Sebuah studi memperkirakan bahwa gen menyumbang 57 persen hingga 70 persen kerentanan seseorang terhadap mabuk perjalanan.
Menurut ahli neurologi vestibular di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford Dr. Kristen Steenerson mabuk perjalanan bisa terjadi bila sedang menderita migrain.
Secara khusus, orang dengan migrain vestibular bagi orang yang mengalami vertigo atau pusing, bersamaan dengan beberapa gejala migrain, terkadang tanpa sakit kepala, mungkin merasa mual saat menonton film aksi, mengeluarkan piring dari mesin pencuci piring, atau bahkan membaca sambil duduk diam.
Cara mencegah
Dr. Steenerson kemudian menyampaikan bahwa obat-obatan yang dijual bebas, termasuk antihistamin seperti Dramamine dan Bonine, efektif tetapi harus diminum sebelum gerakan dimulai dan dapat memiliki efek samping seperti mengantuk.
Skopolamin yang merupakan plester yang dikenakan di belakang telinga juga bisa membantu sebagian orang. Tetapi juga dapat menimbulkan efek samping seperti mulut kering, dan tidak direkomendasikan untuk anak-anak atau orang dewasa lanjut usia.
Sejumlah perilaku yang dapat mengurangi gejala yakni dengan menjadi pihak yang menyetir dalam mobil atau duduk di tengah mobil dan tetap memperhatikan jalan dapat membantu.
Ahli THT di NYU Langone Health Dr. Erich Voigt merekomendasikan untuk tetap berada di tengah pesawat dan di atas dek kapal, di mana kita dapat melihat cakrawala.
Pernapasan terkontrol dan pengalihan perhatian seperti udara segar, musik yang menyenangkan, atau aroma seperti mawar atau lemon dapat membantu mengurangi gejala, kata beberapa ahli.
Namun, bukti yang mendukung efektivitas jahe atau suplemen lainnya masih beragam, dan sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa gelang akupresur dan kacamata antimabuk perjalanan tidak lebih membantu daripada plasebo.
Jika mabuk perjalanan masih membuat tidak nyaman, pergilah berkonsultasi dengan terapis fisik yang berspesialisasi dalam neurologi atau rehabilitasi vestibular untuk membantu mengidentifikasi gerakan yang memicu gejala dan meningkatkan toleransi kita dari waktu ke waktu.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Perjalanan Jauh Selalu Bikin Mual? Ini Rahasia Agar Tak Lagi Mabuk Perjalanan .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!