Kekeringan September 2026, Warga Jakarta Diingatkan Waspadai 5 Penyakit Ini

Jum'at, 04 Sep 2026, 14:30 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kekeringan meteorologis mulai menjadi perhatian di DKI Jakarta pada September 2026. Kondisi ini belum berarti Jakarta mengalami krisis air akut, tetapi masyarakat tetap perlu waspada jika cuaca kering berlangsung lebih lama.

BMKG memasukkan Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu dalam kategori Siaga kekeringan meteorologis Dasarian I September 2026 untuk periode 1-10 September.

Ket. Foto: Kekeringan September 2026, Warga Jakarta Diingatkan Waspadai 5 Penyakit Ini — Sumber: Istimewa

Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, termasuk menyiagakan personel dan mobil tangki air untuk menghadapi potensi kekurangan air bersih. Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air.

Praktisi Kesehatan Lingkungan dan Epidemiolog Kesehatan Masyarakat, dr. Dicky Budiman, mengatakan kekeringan meteorologis tidak otomatis berarti Jakarta mengalami krisis air akut.

"Jadi, penting dibedakan, ya, karena implikasi kesehatannya berbeda. Kekeringan meteorologis yang berlanjut, yang akan berkembang lebih dulu menjadi masalah kualitas udara dan ketersediaan air. Baru kemudian ke penyakit menular kalau itu berlangsung lama," ujar dr. Dicky.

Berikut sejumlah gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai jika kondisi kering berlangsung lebih lama.

5 Penyakit Ini Berisiko Meningkat saat Kekeringan Terjadi

1. ISPA

Kekeringan dapat berdampak pada kualitas udara karena debu dan polutan lebih mudah menumpuk ketika hujan jarang turun. Kondisi ini dapat mengiritasi saluran pernapasan dan membuat tubuh lebih mudah terinfeksi.

"Ini yang mengiritasi epitel saluran napas. Daya tahan mukosanya menurun dan akhirnya lebih mudah terinfeksi oleh virus ataupun bakteri," jelasnya.

Namun, peningkatan ISPA tidak bisa langsung dikaitkan hanya dengan kekeringan karena terdapat faktor lain seperti musim, kepadatan penduduk, dan sistem pelaporan.

2. Penyakit yang Ditularkan melalui Air

Keterbatasan air bersih dapat meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air, termasuk disentri dan dalam kondisi ekstrem kolera. Ketika sumber air menyusut, kualitas air menjadi semakin penting. Air yang terkontaminasi mikroorganisme dapat memicu gangguan saluran pencernaan.

3. Penyakit Kulit dan Mata

Berkurangnya ketersediaan air bersih juga dapat memengaruhi kebersihan tubuh dan lingkungan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit kulit dan mata.

Masyarakat tetap perlu menjaga kebersihan diri serta memastikan tempat penampungan air rutin dibersihkan meski penggunaan air harus dihemat.

4. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Kekeringan tidak otomatis membuat risiko DBD menurun. Kebiasaan menyimpan air sebagai cadangan justru dapat menciptakan tempat berkembang biak nyamuk Aedes jika wadah dibiarkan terbuka.

"Jadi, kekeringan tidak mengurangi risiko demam berdarah, justru berpotensi menaikkan. Karena perilaku adaptif masyarakat jadi kebiasaan menyimpan cadangan air dalam wadah terbuka saat krisis air," katanya.

Suhu yang lebih hangat juga dapat memengaruhi perkembangan virus dalam tubuh nyamuk.

"Ini yang sering luput dalam pemikiran masyarakat. Jadi banyak orang mengira musim kering sama dengan aman darinya, padahal justru pola penyimpanan air darurat yang salah itu yang akhirnya berisiko menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk," ujar dr. Dicky.

5. Dehidrasi hingga Heat Stroke

Cuaca panas dan paparan terik matahari dapat meningkatkan risiko dehidrasi, heat exhaustion, hingga heat stroke. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis perlu mendapat perhatian lebih.

"Kelompok yang rentan sekali lagi dalam kondisi kekeringan atau panas ini adalah anak-anak, lansia, ibu hamil dan penderita gangguan napas juga individu dengan penyakit kronik," kata dr. Dicky.

Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan mencukupi kebutuhan cairan dan mengurangi paparan panas berlebihan.

Jangan Panik, tapi Jangan Menyepelekan

Dr. Dicky meminta masyarakat menyikapi peringatan kekeringan secara proporsional. Warga tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh mengabaikannya.

"Supaya ini juga masyarakat meresponsnya proporsional, tidak panik berlebihan tapi juga tidak menyepelekannya," ujarnya.

Mitigasi dapat dilakukan dengan menghemat air, menjaga kebersihan tempat penyimpanan air, menutup wadah air, serta mengikuti informasi cuaca dan peringatan dini dari sumber resmi.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli-September di berbagai wilayah Indonesia. Masyarakat pun diimbau mengantisipasi dampak musim kemarau, termasuk terhadap ketersediaan air dan kesehatan.

  • Penyakit Akibat Kekeringan
  • Kekeringan di Jakarta

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.