Ancaman ISPA Mengintai Akibat Polusi: Kenali Gejala, Bedanya Infeksi Atas-Bawah, dan Cara Cegahnya
Rabu, 26 Agu 2026, 09:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Memburuknya kualitas udara akibat paparan kabut asap bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meningkatkan risiko ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Asap pembakaran yang membawa gas beracun serta partikel halus (PM2.5) dapat dengan mudah terhirup dan memicu iritasi pada sistem pernapasan manusia. Memahami karakteristik ISPA, mengenali gejala awal hingga fase berat, serta menerapkan langkah proteksi yang tepat menjadi hal vital untuk menjaga kesehatan diri dan keluarga dari paparan polusi udara.Â
Di bawah ini adalah rerba-serbi ISPA, gejala infeksi, dan langkah pencegahannya, di antaranya:
1. Mengenal Area Infeksi ISPA
ISPA merujuk pada peradangan saluran napas yang dampaknya bergantung pada kedalaman area yang terinfeksi. Infeksi pada saluran napas atas (hidung dan tenggorokan) umumnya bersifat ringan, sementara peradangan yang menembus saluran napas bawah (paru-paru) berpotensi memicu masalah kesehatan yang fatal.
2. Gejala Saluran Napas Atas
Paparan polutan di hidung dan tenggorokan ditandai dengan bersin-bersin, hidung tersumbat, mata merah, serta pusing. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi faringitis (sakit menelan) atau laringitis (suara serak hingga hilang). Pertolongan pertama dapat dilakukan dengan berkumur air garam hangat dan mengistirahatkan pita suara.
3. Gejala Saluran Napas Bawah (ISPA Berat)
Jika polutan berhasil masuk lebih dalam, infeksi dapat berkembang menjadi bronkitis atau pneumonia. Gejalanya meliputi batuk berdahak parah, demam tinggi, sesak napas, hingga pola napas memburu dengan dada melesak cekung. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis secepatnya dari fasilitas kesehatan.
4. Langkah Proteksi Diri
Pencegahan ISPA memerlukan perlindungan fisik dari luar dan peningkatan daya tahan tubuh dari dalam. Penggunaan masker berfiltrasi tinggi (seperti N95) saat beraktivitas di luar rumah, membilas tubuh usai bepergian, mencukupi jam tidur, serta mengonsumsi asupan kaya vitamin C dan air putih hangat sangat dianjurkan untuk meluruhkan polutan di tenggorokan.
Menjaga kesehatan respirasi di tengah kepungan polusi udara dan kabut asap memerlukan kewaspadaan ekstra serta tindakan pencegahan yang konsisten. Dengan mengenali gejala sejak dini dan memperkuat benteng pertahanan imun tubuh, risiko paparan racun udara dapat ditekan agar fungsi organ pernapasan tetap terjaga secara optimal.
- Polusi Udara
- kebakaran hutan
Redaktur: Sarah Ramadhani
Penulis: Sarah Ramadhani
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.