4 Mayat Ditemukan dalam 3 Hari, Wisatawan Mulai Batalkan Liburan ke Jeju

Rabu, 26 Agu 2026, 11:15 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Pulau Jeju, Korea Selatan, tengah menghadapi kekhawatiran baru setelah empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal dalam kurun tiga hari. Rentetan penemuan jasad tersebut mulai memengaruhi kepercayaan wisatawan, dengan sejumlah calon pengunjung memilih membatalkan atau mempertimbangkan kembali perjalanan mereka.

Kekhawatiran terutama muncul di kalangan wisatawan yang berencana berkunjung dalam beberapa bulan mendatang. Situasi ini menjadi tantangan tambahan bagi industri pariwisata Jeju yang sebelumnya telah menghadapi penurunan jumlah wisatawan domestik.

Ket. Foto: Kasus orang hilang di pulau Jeju. — Sumber: Yonhap

Wisatawan Mulai Batalkan Perjalanan

Salah seorang calon wisatawan bermarga Kang, 29 tahun, bahkan membatalkan rencana tinggal di Jeju pada musim gugur tahun ini. Ia sebelumnya rutin menghabiskan sekitar satu minggu di pulau tersebut untuk menikmati suasana lokal dengan berjalan kaki dan memilih kawasan yang relatif tenang.

Kang mengaku mulai merasa khawatir untuk bepergian seorang diri setelah membaca sejumlah pemberitaan mengenai orang hilang yang kemudian ditemukan meninggal. Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana kasus keamanan yang terjadi belakangan mulai memengaruhi persepsi sebagian wisatawan terhadap Jeju.

Di berbagai forum daring Korea Selatan, sejumlah calon wisatawan juga membicarakan kemungkinan membatalkan perjalanan mereka. Ada yang mengaku memiliki jadwal liburan ke Jeju pada Oktober, sementara sebagian lainnya bahkan meminta anggota keluarga menunda perjalanan karena merasa khawatir dengan kondisi keamanan di pulau tersebut.

Kekhawatiran tidak hanya datang dari wisatawan yang bepergian sendirian. Sebagian keluarga juga mulai mempertimbangkan ulang rencana liburan karena anak-anak mereka merasa takut setelah mengetahui pemberitaan mengenai penemuan jasad tersebut.

Empat Orang Ditemukan Meninggal

Kecemasan wisatawan meningkat setelah empat orang yang dilaporkan hilang ditemukan meninggal di Jeju dalam rentang 22 hingga 24 Agustus 2026. Keempat kasus tersebut tidak semuanya berkaitan satu sama lain, tetapi waktunya yang berdekatan membuat perhatian publik terhadap keamanan Jeju meningkat.

Salah satu korban adalah Jang Mi-ran, perempuan berusia 37 tahun yang dilaporkan hilang pada Mei. Jasad yang diyakini sebagai Jang ditemukan pada 24 Agustus di sebuah perkebunan sekitar 400 meter dari tempat ia sebelumnya tinggal.

Kasus Jang turut memicu kontroversi karena polisi yang menangani laporan tersebut diduga menutup kasus secara prematur. Petugas itu disebut melaporkan bahwa dirinya telah menghubungi Jang dan memastikan korban berada dalam kondisi aman, meski penyelidikan berikutnya tidak menemukan bukti komunikasi tersebut.

Selain Jang, seorang pria berusia 60-an yang juga sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal di kawasan Gujwa pada 22 Agustus. Kasus pria tersebut diduga juga pernah ditutup oleh petugas yang sama sebelum keluarga kembali membuat laporan dan pencarian dilakukan ulang.

Dua jasad lainnya ditemukan dalam waktu berdekatan, masing-masing di wilayah Jocheon dan Aewol. Rangkaian penemuan tersebut kemudian memperkuat kekhawatiran publik sekaligus mendorong evaluasi besar-besaran terhadap penanganan laporan orang hilang di Jeju.

Pariwisata Jeju Ikut Terdampak

Kondisi tersebut muncul ketika sektor pariwisata Jeju memang sedang menghadapi penurunan kunjungan domestik. Pada Juli 2026, jumlah wisatawan domestik yang berkunjung tercatat sekitar 963.401 orang, turun 12,4 persen atau sekitar 136.620 orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jumlah tersebut bahkan menjadi pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 pada 2020 ketika kunjungan wisatawan domestik bulanan ke Jeju berada di bawah satu juta orang. Pada Agustus, tren penurunan juga masih terlihat berdasarkan jumlah kunjungan hingga 23 Agustus.

Pelaku usaha akomodasi di sekitar lokasi penemuan jasad ikut merasakan meningkatnya kekhawatiran calon wisatawan. Meski demikian, sejumlah pemilik penginapan menilai kawasan tersebut selama ini relatif aman dan tidak seharusnya seluruh Jeju dipandang berbahaya hanya karena kasus yang tengah menjadi sorotan.

Salah satu pemilik penginapan menyebut kawasan tempat usahanya memiliki penerangan jalan yang cukup baik, termasuk lampu tambahan yang dipasang dengan jarak tertentu. Namun, ia mengakui bahwa dalam beberapa waktu terakhir terdapat peningkatan telepon dari calon tamu yang menanyakan kondisi keamanan wilayah tersebut.

Polisi Lakukan Evaluasi Besar-besaran

Kontroversi ini juga berkembang menjadi persoalan serius bagi kepolisian Korea Selatan. Polisi telah meninjau kembali ratusan laporan orang hilang yang sebelumnya ditangani petugas yang diduga melakukan penutupan kasus secara tidak semestinya.

Empat pejabat senior di Kantor Polisi Jeju Seobu juga telah dibebastugaskan sementara untuk menjalani pemeriksaan internal terkait pengawasan terhadap penanganan kasus. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul dugaan bahwa prosedur penutupan laporan tidak dijalankan dengan benar.

Pemerintah Korea Selatan kini turut menyoroti persoalan tersebut setelah kasus Jeju memicu kemarahan publik. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta pertanggungjawaban kepolisian diperkuat seiring meningkatnya kewenangan institusi tersebut dalam sistem penegakan hukum.

Di sisi lain, Jeju tetap merupakan salah satu destinasi wisata utama Korea Selatan dengan daya tarik alam dan budaya yang kuat. Namun, apabila kekhawatiran wisatawan terus berkembang, serangkaian kasus tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap sektor pariwisata yang sedang berupaya memulihkan jumlah kunjungan.

  • Korea Selatan
  • jeju

Redaktur: Afifa Khoirunnisa

Penulis: Afifa Khoirunnisa

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.