Tenun Indonesia Naik Kelas, Wilsen Willim Ubah Wastra Nusantara Jadi Couture

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM -  Tenun Indonesia kembali mendapat ruang baru di industri mode melalui tangan desainer Wilsen Willim.

Dalam satu dekade perjalanan kreatifnya, Wilsen tidak hanya mempertahankan keindahan wastra Nusantara, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam bahasa adibusana atau couture yang lebih modern.

Eksplorasi tersebut diwujudkan melalui koleksi “Algorithm: Universal Language”, yang menjadi koleksi couture perdana Wilsen sekaligus penanda 10 tahun kiprahnya di dunia fesyen. Koleksi ini berangkat dari gagasan bahwa struktur tenun sebenarnya memiliki keteraturan seperti sebuah algoritma.

Melihat Tenun dari Sudut Pandang Berbeda

Bagi Wilsen, tenun bukan sekadar kain tradisional dengan motif yang indah. Di balik setiap lembar wastra terdapat susunan benang lungsi dan pakan yang membentuk pola secara teratur.

Keteraturan tersebut kemudian menjadi inspirasi utama dalam koleksi Algorithm: Universal Language. Wilsen melihat angka dan pola sebagai bahasa yang dapat dipahami lintas budaya, sama seperti denim yang telah menjadi material fesyen yang dikenal secara global.

Pendekatan tersebut membuat tenun tidak ditempatkan hanya sebagai simbol masa lalu. Sebaliknya, wastra Indonesia diterjemahkan menjadi bagian dari gaya berpakaian masa kini dengan siluet dan konstruksi yang lebih kontemporer.

Eksplorasi Empat Wastra Nusantara

Untuk koleksi ini, Wilsen melakukan eksplorasi langsung terhadap sejumlah wastra dari berbagai daerah Indonesia. Empat di antaranya adalah Songket Jembrana dari Bali, Tenun Sutera Garut dari Bandung Selatan, Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu-Putussibau, serta Songket Minang dari Halaban, Sumatera Barat.

Eksplorasi tersebut tidak berhenti pada pemilihan kain. Wilsen juga mempelajari karakter masing-masing material dan proses pembuatannya bersama para perajin.

Tenun sutera Garut, misalnya, memiliki karakter yang relatif tipis sehingga membutuhkan lapisan tambahan ketika digunakan untuk konstruksi busana couture. Sementara itu, penggunaan benang daur ulang pada Songket Minang juga menghadirkan tantangan tersendiri karena material tersebut lebih mudah putus dan berbulu ketika ditenun.

Hadirkan 60 Tampilan di Runway

Koleksi Algorithm: Universal Language menghadirkan sekitar 60 tampilan untuk perempuan dan laki-laki. Berbagai jenis busana seperti jaket, kemeja, rok, celana, apron, bib, hingga kain jarik diolah dengan pendekatan khas Wilsen.

Palet warna yang digunakan pun tidak terpaku pada nuansa tradisional. Biru denim menjadi salah satu warna dominan, kemudian dipadukan dengan hitam, putih, abu-abu, biru elektrik, serta aksen metalik seperti emas, perak, dan perunggu.

Hasilnya adalah tampilan yang terasa lebih berani dan modern, sekaligus menunjukkan bahwa tenun dapat memiliki kehidupan baru di luar penggunaan konvensional.

Tenun Bertemu Teknologi AI

Eksplorasi Wilsen bahkan tidak berhenti pada pakaian. Bersama musisi dan kolaboratornya, Ican Harem, ia menerjemahkan pola tenun menjadi sebuah pengalaman musikal.

Motif dari empat daerah dipindai menggunakan kamera, kemudian diolah dengan teknologi artificial intelligence untuk membaca pola algoritmiknya. Data tersebut selanjutnya diterjemahkan menjadi komposisi musik yang digunakan sebagai bagian dari pertunjukan.

Dengan pendekatan ini, tenun tidak hanya dapat dilihat melalui busana, tetapi juga diterjemahkan menjadi suara. Mode, musik, teknologi, dan warisan budaya pun bertemu dalam satu presentasi yang bersifat multisensori.

Bukan Sekadar Melestarikan, tetapi Membuka Jalan Baru

Eksplorasi Wilsen menunjukkan bahwa pelestarian wastra tidak harus selalu dilakukan dengan mempertahankan bentuk tradisionalnya secara utuh. Kain tradisional juga dapat dikembangkan menjadi produk yang relevan dengan kebutuhan dan selera masyarakat modern.

Bagi Wilsen, semakin banyak wastra Indonesia diolah menjadi karya yang dapat dikenakan dalam kehidupan sehari-hari, semakin besar pula peluang masyarakat untuk mengenalnya. Pada akhirnya, peningkatan permintaan terhadap wastra juga dapat membantu menciptakan dampak ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi para perajin.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN